Tiga Dubes tinjau perkebunan kelapa sawit di Belitung Timur

Tiga Duta Besar terdiri dari Duta Besar Belgia untuk Indonesia, Frank Leon L. Felix, Duta Besar Norwegia, Rut Kruger Giverin dan Duta Besar Chile, Gustavo Ayares meninjau perkebunan kelapa sawit milik PT Sahabat Mewah Makmur (ANJ Group) di Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Direktur Perdagangan Perindustrian Komoditas dan Kekayaan Intelektual Kementerian Luar Negeri, Antonius Tri Yudiantoro di Dendang, Belitung Timur, Kamis mengatakan kunjungan tersebut dilakukan guna memperlihatkan pengelolaan perkebunan kelapa sawit Indonesia yang ramah lingkungan serta berkelanjutan (sustainability).

"Kunjungan lapangan ini untuk menunjukkan kepada mereka bahwa pengelolaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah sesuai dengan kaidah-kaidah keberlanjutan," katanya.

Selain ketiga Dubes tersebut, turut hadir dalam peninjauan yakni perwakilan diplomat negara-negara di Eropa dan Amerika yang selama ini telah menjadi pasar kelapa sawit Indonesia.

Para delegasi tersebut merupakan peserta dialog Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) in American and European Market yang digelar oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI di Belitung mulai 23-25 November.

"Dialog ini digelar untuk meningkatkan pemahaman terutama dari negara-negara pasar kelapa sawit Indonesia mengenai konsep ISPO," ujarnya.

Dalam peninjauan tersebut, para Dubes dan diplomat diajak melihat perkebunan milik PT SMM yang telah mengantongi sertifikat standar ISPO.

Kunjungan dilakukan dengan melihat lokasi pabrik pengolahan minyak kelapa sawit, pembuatan pupuk kompos, pembangkit listrik biogas dan lokasi pembibitan tanaman kelapa sawit.

"Kami perlihatkan kepada mereka dan mereka nantinya akan melaporkan ke negara mereka terkait situasi di lapangan," katanya.

Antonius menyebutkan, kunjungan ini merupakan rangkaian dari kegiatan dialog ISPO dengan tujuan menepis persepsi dan tudingan miring dunia internasional terhadap kelapa sawit Indonesia yang tidak ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dikatakan dia, selama ini negara-negara yang menjadi pasar kelapa sawit Indonesia di Eropa dan Amerika kerap menuding industri pengolahan kelapa sawit Indonesia tidak ramah lingkungan.

"Seperti merusak lingkungan dan melanggar norma-norma sosial seperti mempekerjakan buruh yang masih anak-anak di bawah umur dan tuduhan negatif lain," katanya.

Ia menyebutkan, standarisasi ISPO dibangun untuk memperbaiki tata kelola perkebunan kelapa sawit Tanah Air agar sesuai dengan isu-isu keberlanjutan.

"Karena beberapa pasar kelapa sawit Indonesia di luar negeri terutama di negara-negara tertentu itu menganggap isu perlindungan lingkungan hidup sebagai prasyarat untuk masuk ke pasar mereka," ujarnya.

Melalui standardisasi ISPO, lanjut Antonius, diharapkan dapat menjawab tudingan miring tentang kelapa sawit di Indonesia yang merusak lingkungan dan melanggar norma-norma sosial.

"Melalui dialog ini kami ingin mengajak mereka untuk menerima ISPO standar sehingga ke depannya kelapa sawit Indonesia tidak lagi mendapatkan halangan," katanya.

Ia berharap, melalui kegiatan tersebut nilai jual kelapa sawit Indonesia dapat terus meningkat dan pasarnya di luar negeri bertambah luas

"Karena bagaimanapun isu sustainability sudah menjadi keniscayaan di mana-mana," ujarnya.

Baca juga: G20 SVOC bertujuan kuatkan rantai pasok minyak nabati berkelanjutan

Baca juga: Gapki tegaskan berkomitmen untuk wujudkan industri sawit berkelanjutan