Tiga Kali Diperiksa, Eks Presiden ACT Ahyudin: Saya Siap Berkorban atau Dikorbankan

Merdeka.com - Merdeka.com - Bareskrim Polri telah merampungkan pemeriksaan untuk ketiga kalinya terhadap Mantan Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ahyudin terkait kasus dugaan penyelewengan dana bantuan korban Lion Air yang kini telah dinaikan ke tahap penyidikan.

"Alhamdulillah ini kali ketiga saya hadir di Bareskrim dan mengikuti dengan baik. Seluruh rangkaian penyelidikan yang kebetulan hari ini telah dinaikan menjadi penyidikan, oke," kata Ahyudin saat ditemui di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (12/7).

Atas kasus yang telah naik ke tahap penyidikan itu, dia menyatakan, siap menerima apapun konsekuensinya terhadap kasus yang menyeret lembaga filantropi tersebut.

"Demi allah saya siap ya. Berkorban, atau dikorbankan sekalipun," ujarnya.

Kesiapan itu, lanjut Ahyudin, asalkan lembaga ACT yang didirikannya tersebut bisa tetap berjalan dan berkembang dalam tugas menyalurkan bantuan-bantuan kepada masyarakat.

"Asal, ya. Semoga ACT sebagai sebuah lembaga kemanusiaan yang insyaallah, lebih besar manfaatnya untuk masyarakat luas untuk bisa hadir eksis berkembang sebaik-baiknya," imbuhnya.

Bahkan ketika disinggung soal berkorban yang dimaksud menjadi tersangka dalam kasus ini, Ahyudin menyatakan siap mempertanggungjawabkan apapun yang berkaitan dengan ACT

"Oh iya apapun dong, apapun. Jika waktu-waktu ke depan saya harus berkorban dan atau dikorbankan. Asal ACT sebagai sebuah lembaga kemanusiaan ya milik bangsa ini, tetap eksis hadir memberikan manfaat kepada masyarakat luas saya ikhlas, saya terima ya dengan sebaik-baiknya," imbuhnya.

Kendati ketika disinggung soal pernyataan dia perihal dikorbankan, Ahyudin enggan untuk meresponnya. Dia pun melempar, kalau apa yang dilakukannya saat ini adalah bentuk perjuangan.

"Perbuatan kebajikan kan selalu ada resikonya. Siapapun pelaku, perjuangan kebajikan di bangsa ini selalu mengalami resiko apapun lah," imbuh dia.

Adapun kedatangan Ahyudin yang ketiga kalinya untuk menjalani pemeriksaan di Bareskrim Polri, masih sebatas saksi dalam kasus dugaan penyelewengan dana bantuan Lion Air dari pihak Boeing.

Dimana, kedatangan Ahyudin hari ini juga dibarengi dengan pemeriksaan terhadap Presiden ACT, Ibnu Khajar bersama dua orang saksi lainnya yaitu bagian kemitraan dan keuangan Yayasan ACT.

Kasus ACT Naik Penyidikan

Sebelumnya, Bareskrim Polri memutuskan naikan status kasus dugaan penyelewengan dana bantuan korban kecelakaan pesawat Lion Air JT-610 yang melibatkan yayasan amal Aksi Cepat Tanggap (ACT) dari penyelidikan ke penyidikan.

"Update kasus penyelewengan dana Yayasan ACT. Perkara ditingkatkan dari penyelidikan menjadi penyidikan," ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan dalam keterangannya, Senin, (11/7).

Meski telah dinaikan ke tahap penyidikan yang artinya telah memiliki bukti permulaan tindak pidana yang cukup, namun pihak kepolisian belum mengumumkan tersangka dalam kasus tersebut.

Adapun peningkatan status kasus ini ke penyidikan berdasarkan hasil gelar perkara. Penyelidik meyakini ada pelanggaran tindak pidana dalam kasus dugaan penyelewengan dana ini.

Dimana dalam kasus ini, Bareskrim Polri tengah mendalami aliran dana terkait penyidik juga akan melibatkan tim audit guna melacak sumber keuangan ACT yang diterima pihak Boeing kepada 68 orang korban ahli waris kecelakaan Lion Air JT-610.

Pengelolaan dana CSR kepada 68 ahli waris korban kecelakaan Pesawat Lion Air Boeing JT610 yang terjadi pada tanggal 18 Oktober 2018 senilai Rp2 miliar lebih untuk tiap korbannya dengan total Rp138 miliar. [fik]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel