Tiga momen terbaik Dota 2 – The Internasional 2012

Alfa Rizki
Dota2_TheInternational2012

Setahun setelah gelaran The Internasional 2011 di Cologne, Jerman, Valve kembali menghelat event tersebut. Namun kali ini bertempatkan di Seattle, Amerika Serikat, tepatnya di Benayora Concert Hall.

Satu tahun merupakan waktu yang cukup untuk Dota 2 berkembang pesat, komunitas game itu juga meningkat drastis. Meski hanya menyediakan total hadiah sebesar US$1,6 juta, sama seperti The Internasional sebelumnya, penonton yang hadir justru bertambah banyak.

Lokasi turnamen di Seattle menjadi hal yang spesial karena lebih mudah di akses, selain itu, Seattle juga merupakan home base dari Valve. Banyak cerita berharga terukir di turnamen ini, namun kali ini kita hanya akan membahas tiga momen terbaik di The Internasional 2012.

Upper bracket match DK vs Na’Vi

Cina mendominasi turnamen dengan mengirimkan lima tim dari 16 slot yang tersedia, itu berarti 30% tim peserta dikuasai negara tersebut.

Salah satu perwakilan terkuat dari Cina adalah DK, tim ini tampil tanpa cacat di fase grup. Mencatatkan skor 14-0 dari tujuh pertandingan, DK memuncaki grup A dengan sempurna.

Hingga tiba saatnya mereka bertemu dengan juara bertahan, Na’Vi, di putaran pertama play-off. Momentum luar biasa yang terbentuk sejak fase grup runtuh total ketika dihadapkan dengan tembok besar berlabel Na’Vi.

Untuk pertama kalinya, Na’Vi menggoreskan luka di catatan emas DK. Tim asal Cina itu tidak berkutik sama sekali dan menyerah di menit ke-25 dengan ketertinggalan networth sebesar 25.000 gold.

Counter attack Dendi

Setelah mengalahkan DK, Na’Vi bertemu tim kuat Cina lainnya, Invictus Gaming (IG), yang juga mencatatkan rekor impresif di fase grup dengan skor 13-1.

Datang sebagai juara bertahan tentunya membuat Na’Vi menjadi pusat perhatian, terutama untuk para lawannya. Mereka mempelajari semua strategi dan gaya bermain Na’Vi, hal inilah yang juga dilakukan IG hingga tim asal Cina itu berhasil memenangkan game pertama.

Tapi Na’Vi menunjukkan hal yang benar-benar berbeda di game kedua. Mengandalkan carry Juggernaut dan core midlane Rubick, sang juara bertahan mengejutkan lawannya dengan strategi yang tidak biasa. Sementara IG mengandalkan hero yang memiliki kemampuan team-fight dan wombo-combo.

Momen penentuan terjadi di bottom lane ketika IG melakukan smoke untuk menyergap Na’Vi dari belakang. Zhou berhasil menangkap semua hero Na’Vi dengan skill Song of Siren, namun ketika rekannya akan melancarkan serangan lanjutan, Rubick yang digunakan Dendi berhasil keluar dari jangkauan serangan lawan kemudian mencuri ultimate skill Tide Hunter yang akhirnya dia gunakan untuk menyerang balik IG. Kegemilangan yang Dendi tunjukkan akhirnya berujung kemenangan untuk Na’Vi.

Double Ravage ChuaN

Partai puncak The Internasional 2012 mempertemukan Na’Vi dan Invictus Gaming. Na’Vi bertekad mempertahankan gelar yang mereka miliki, sementara IG mengusung misi balas dendam.

Pertandingan berjalan sengit, hingga puncaknya di game keempat terjadi momen krusial yang membawa IG menjadi juara The Internasional 2012.

Na’Vi tertinggal dan terus tertekan, namun IG tidak mau gegabah menyerang base lawan karena Dendi merupakan ancaman utama yang bisa menghancurkan wombo-combo mereka.

Akhirnya ChuaN memutuskan untuk membeli Refresher, item yang akan me-reset seluruh cooldown skill dan juga item lain. Kemudian IG mencoba memasuki base lawan dan di sini lah ChuaN berperan sebagai pembeda, ia melancarkan Ravage pertama untuk melumpuhkan lawan. Dendi tidak tinggal diam dan mencoba mencuri skill tersebut untuk menyerang balik, sayangnya ChuaN lebih cepat dan menghempaskan Ravage keduanya, Na’Vi yang tidak bisa berkutik ditumbangkan satu per satu. Dengan demikian, IG resmi menjadi juara The Internasional 2012.

BACA JUGAIdealnya The International 2020 baru bisa digelar pada 2021