Tiga penjaga perdamaian PBB di Republik Afrika Tengah tewas jelang pemilu

·Bacaan 2 menit

New York (AFP) - Tiga penjaga perdamaian PBB tewas oleh kombatan tak dikenal di Republik Afrika Tengah (CAR), menurut badan dunia tersebut, saat negara itu bersiap menggelar pemilu dan pertempuran antara pemberontak dan pasukan pemerintah terus berlanjut.

Kabar itu muncul setelah koalisi pemberontak membatalkan gencatan senjata dan mengatakan akan melanjutkan aksinya di ibu kota dan membuntuti kedatangan pasukan dari Rusia dan Rwanda untuk menopang pemerintah negara yang kaya sumber daya tersebut.

"Tiga penjaga perdamaian asal Burundi tewas dan dua lainnya mengalami luka "menyusul serangan terhadap pasukan PBB dan pasukan pertahanan dan keamanan nasional Afrika Tengah, demikian PBB melalui pernyataan, Jumat.

Serangan berlangsung di Dekoa, Prefektur Kemo tengah, dan di Bakouma di selatan Prefektur Mbomou, katanya, tanpa penjelasan lebih lanjut.

Juru bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, mengecam keras insiden terbaru itu, dan meminta otoritas CAR menyelidiki serangan "keji" tersebut.

Dujarric juga memperingatkan bahwa "serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB kemungkinan merupakan kejahatan perang."

Menjelang pemilu, Presiden Faustin Archange Touadera, 63, menuding pendahulunya Francois Bozize merencanakan kudeta.

Bozize, yang berada di bawah sanksi PBB dan dilarang mencalonkan diri, membantah tuduhan tersebut.

Pada Selasa milisi berhasil merebut kota terbesar keempat di negara tersebut, sebelum direbut kembali oleh pasukan keamanan yang didukung oleh penjaga perdamaian PBB.

Kelompok pemberontak meluncurkan serangan pekan lalu dengan mengancam akan bergerak menuju ibu kota Bangui, yang digambarkan pemerintah sebagai upaya kudeta, tetapi langkah mereka dihentikan oleh bantuan internasional.

Namun, gencatan senjata tiga hari yang ditengahi menjelang pemilu kandas pada Jumat, dengan Coalition of Patriots for Change (CPC) mengumumkan bahwa mereka akan melanjutkan aksinya ke ibu kota.

CPC, yang terdiri atas kelompok milisi yang bersama-sama, menguasai dua pertiga negara, dibentuk pada 19 Desember oleh kelompok bersenjata yang menuduh Touadera berupaya menentukan pemungutan suara.

Bentrokan kembali terjadi pada Jumat di Bakouma, sekitar 800 km timur laut Bangui, demikian Vladimir Monteiro, juru bicara pasukan penjaga perdamaian MINUSCA PBB.

MINUSCA pada Kamis mengatakan bahwa kontingen 300 anggota dari Rwanda tiba di negara tersebut.

Rusia, yang baru-baru ini menandatangani perjanjian kerja sama militer dengan pemerintah Touadera, juga mengerahkan sedikitnya 300 instruktur militer guna mendukung pasukan CAR menjelang pemilu.

Pemilu pada Minggu dianggap sebagai ujian utama kemampuan CAR untuk memulihkan stabilitas.

Akan tetapi pertanyaan krusialnya adalah apakah jumlah pemilih akan sangat terpengaruh oleh kekerasan atau intimidasi, merusak kredibilitas presiden selanjutnya dan legislatif dengan 140 kursi.

Kaya mineral namun dinilai sebagai negara termiskin kedua di dunia dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM), CAR secara kronis tidak stabil sejak kemerdekaan 60 tahun silam.