Tiga Perusahaan Publik Paling Bernilai versi Forbes, Ada Milik Warren Buffett

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Mengukur perusahaan publik atau emiten terbesar di dunia, Forbes kembali merilis daftar Forbes Global 2000. Pada 2021, tiga perusahaan teratas diduduki China dan Amerika Serikat.

Terkait penilaian, Forbes Global 2000 mengukur empat hal penting, yakni aset yang dimiliki perusahaan, nilai pasar, penjualan dan laba. Pada edisi tahun lalu menggambarkan sekilas tentang implikasi ekonomi awal dari pandemi COVID-19.

Saat ini Forbes melihat hasil gejolak pasar selama 12 bulan. Total pasar saham global melonjak sekitar 48 persen pada tahun lalu.

Jadi meskpun penjualan dan laba turun untuk perusahaan Forbes Global 2000, total aset dan nilai pasar naik. Kapitalisasi pasar minimal USD 8,26 miliar pada 2021, angka ini naik dari posisi 2020 di kisaran USD 5,27 miliar.

Berikut tiga perusahaan yang berada di urutan teratas dilansir dari Forbes, Selasa (18/5/2021):

1. Bank ICBC

Berada di urutan pertama, Bank ICBC telah menempati kedudukan ini selama 9 tahun berturut-turut. Berasal dari China, bisnis yang dikelola bank antara lain personal banking dan treasury operations. Dalam catatan Forbes, Pendapatan yang mampu dihasilkan perusahaan mencapai USD 190,5 miliar, laba USD 45,8 miliar, aset USD 4.914 miliar dan nilai pasar USD 249,5 miliar.

2. JPMorgan Chase

Selanjutnya terdapat perusahaan keuangan JPMorgan Chase. Berasal dari Amerika Serikat, perusahaan ini memberikan layanan investasi di pasar modal dan nasehat terkait sektor keuangan. Dalam catatan Forbes, pendapatan yang mampu dihasilkan perusahaan mencapai USD 136,2 miliar, laba USD 40,4 miliar, aset sebesar USD 3.689,3 milliar dan nilai pasar USD 464,8 miliar.

3.Berkshire Hathaway

Merupakan perusahaan konglomerasi milik Warren Buffet, bisnis inti dari Berkshire Hathaway adalah asuransi, termasuk properti dan asuransi jiwa, reinsuransi serta asuransi khusus yang tidak standar. Dalam catatan Forbes, pendapatan yang mampu dihasilkan perusahaan ialah USD 245,5 miliar, laba USD 42,5 miliar, aset USD 873,7 miliar dan memiliki nilai pasar USD 624,4 miliar.

Warren Buffett Ingatkan Investor Tak Spekulasi pada Saham

Peringkat kedua diikuti oleh pemilik Berkshire Hathaway, Warren Buffett. Kekayaan pria 86 tahun ini mencapai US$ 75,6 miliar atau sekitar Rp 1.005 triliun. (NYC)
Peringkat kedua diikuti oleh pemilik Berkshire Hathaway, Warren Buffett. Kekayaan pria 86 tahun ini mencapai US$ 75,6 miliar atau sekitar Rp 1.005 triliun. (NYC)

Sebelumnya, miliarder Warren Buffett mengingatkan investor pemula untuk tidak berpikir berinvestasi adalah cara mudah untuk menghasilkan uang.

Ia menyampaikan hal itu saat rapat pertemuan tahunan Berkshire Hathaway pada Sabtu, 1 Mei 2021 waktu setempat. Warren Buffett menghabiskan beberapa jam menjawab pertanyaan investor dalam pertemuan tahunan Berkshire Hathaway bersama Vice Chairman Charlie Munger, Greg Abel dan Ajit Jain.

Buffett mengatakan, sulit memilih pemenang jangka panjang. Ia menunjukkan pada 1903 terdapat lebih dari 2.000 perusahaan mobil, dan hampir semuanya gagal meskipun mobil telah mengubah negara sejak saat itu.

"Ada lebih banyak hal untuk memilih saham dari pada mencari tahu apa yang akan menjadi industri luar biasa pada masa depan," kata dia, dilansir dari yahoo finance, ditulis Senin (2/5/2021).

Ia mengatakan, kalau investasi saham tidak semudah kedengarannya. "Aku hanya ingin memberitahumu kalau ini tidak semudah kedengarannya,” ujar dia.

Buffett mengatakan, kebanyakan orang akan mendapatkan hasil lebih baik memiliki dana indeks S&P kemtimbang bertaruh pada saham individu.

Ia menambahkan, banyak investor pemula yang terjun ke pasar baru-baru ini dan menaikkan nilai penjualan ritel video game GameStop pada dasarnya judi.

Buffett mengatakan, platform perdagangan saham memungkinkan orang membeli dan menjual saham secara gratis seperti Robinhood juga mendorong judi itu.

Buffett menambahkan, kebijakan the Federal Reserve dan paket stimulus yang disahkan Kongres telah melakukan pekerjaan luar biasa dalam menopang ekonomi pada 2021. Hal ini seiring suku bunga tetap rendah.

Akan tetapi, pihaknya juga mengingatkan pemerintah untuk belajar dari resesi yang terjadi pada 2008, dan bertindak cepat. Namun, sulit diprediksi mengenai konsekuensi jangka panjang dari kebijakan tersebut.

"Perekonomian saat ini 85 persen sedang berjalan dengan kecepatan sangat tinggi. Anda melihat beberapa inflasi dan sebagainya. Ini telah cara merespons dengan cara yang luar biasa. Kami belajar sesuatu dari 2008-2009 dan kemudian kami menerapkannya. Tapi saya rasa itu bukan hal yang pasti bahwa itu akan terjadi,” kata dia.

Buffett juga mengatakan ingin investasi lebih banyak. Akan tetapi, persaingan saat ini yang dihadapi dari private equity dan dana investasi lainnya telah menyulitkan Berkshire menemukan akuisisi dengan nilai wajar.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel