Tiga serdadu pasukan perdamaian PBB tewas di Afrika Tengah jelang pemilu

·Bacaan 2 menit

Bangui (AFP) - Tiga serdadu pasukan perdamaian PBB dibunuh oleh kombatan-kombatan tak dikenal di Republik Afrika Tengah (CAR), kata Perserikatan Bangsa-Bangsa, pada saat negara itu bersiap menggelar pemilihan umum dan pertempuran terus berkecamuk antara pemberontak dan pasukan pemerintah.

Kabar itu menyeruak setelah koalisi pemberontak membatalkan gencatan senjata dan menyatakan akan terus merangsek masuk ibu kota, selain kedatangan pasukan dari Rusia dan Rwanda guna menyangga pemerintah negara kaya sumber daya itu.

"Tiga tentara pasukan perdamaian dari Burundi tewas dan dua lainnya cedera" menyusul serangan terhadap pasukan PBB dan pasukan pertahanan dan keamanan nasional Afrika Tengah, kata PBB dalam satu pernyataan Jumat.

Serangan itu terjadi di Dekoa, Prefektur Kemo tengah, dan di Bakouma di selatan Prefektur Mbomou, kata PBB tanpa mengungkapkan lebih lanjut.

Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, mengutuk keras insiden terakhir itu dan meminta otoritas CAR menyelidiki serangan "keji" tersebut.

Dia juga memperingatkan bahwa "serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa mungkin tergolong kejahatan perang."

Menjelang pemilihan presiden dan legislatif yang akan digelar Minggu, Presiden Faustin Archange Touadera yang berusia 63 tahun menuduh pendahulunya Francois Bozize merancang kudeta.

Bozize yang tengah dikenai sanksi PBB dan dilarang mencalonkan diri, menyangkal tudingan itu.

Pada Selasa, milisi merebut kota terbesar keempat di negara itu sebelum direbut kembali oleh pasukan keamanan yang didukung oleh penjaga perdamaian PBB.

Sementara itu, Mahkamah Konstitusi pada Sabtu menolak banding terakhir dari oposisi agar menunda pemungutan suara Minggu.

Paling sedikit enam kandidat telah mengajukan banding dengan alasan ketidakamanan di negara itu, dan mundurnya salah satu kandidat baru-baru ini menjadi pembenaran bagi ditundanya pemilu.

Kelompok-kelompok pemberontak sepekan lalu melancarkan serangan dengan mengancam akan bergerak ke ibu kota Bangui dalam apa yang disebut pemerintah sebagai upaya kudeta, tetapi gerak maju terhenti berkat bantuan internasional.

Namun demikian, gencatan senjata tiga hari yang ditengahi menjelang pemilihan umum itu pada Jumat dilanggar di mana Koalisi Patriot untuk Perubahan (CPC) mengumumkan mereka akan melanjutkan gerak majunya ke ibu kota.

CPC yang unsur-unsurnya terdiri dari kelompok-kelompok milisi yang total menguasai dua pertiga wilayah negara itu dibentuk pada 19 Desember oleh kelompok-kelompok bersenjata yang menuduh Touadera berusaha mencurangi pemilu.

Bentrokan kembali pecah Jumat di Bakouma, sekitar 800 kilometer arah timur laut Bangui, kata Vladimir Monteiro, juru bicara pasukan penjaga perdamaian PBB, MINUSCA.

MINUSCA mengatakan Kamis bahwa 300 kontingen bala bantuan Rwanda sudah tiba di negara itu.

Rusia yang belum lama ini menandatangani perjanjian kerja sama militer dengan pemerintah Touadera juga telah mengirimkan paling sedikit 300 instruktur militer guna membantu pasukan CAR menjelang pemungutan suara.

Pemilu Minggu dianggap sebagai ujian besar bagi kemampuan CAR dalam memulihkan stabilitas.

Namun pertanyaan terbesarnya adalah apakah partisipasi pemilih akan sangat terpengaruh oleh kekerasan atau intimidasi sehingga merusak kredibilitas presiden dan legislatif berisi total 140 kursi berikutnya.

Negara kaya mineral tetapi dinilai paling miskin kedua di dunia dalam Indeks Pembangunan Manusia, CAR luar biasa tidak stabil sejak merdeka 60 tahun lalu.

bur-rbu/rma/erc/tgb