Tiga Surat Kabar Belanda Muat Kisah Ruyati

TRIBUNNEWS.COM, NETHERLAND – RNW mencatat tiga koran besar Belanda mengangkat kisah Ruyati binti Satubi, TKW Indonesia yang dihukum mati di Arab saudi karena dituduh membunuh majikannya yang berusia 70 tahun dengan pisau dapur.

Sebagaimana diketahui, Ruyati melakukan tindakan ini dikarenakan sang majikan tidak mengijinkannya pulang ke Indonesia, menguncinya di dalam rumah dan memperlakukannya di luar kemanusiaan. Ruyati dieksekusi Sabtu (18/6/2011) di Arab Saudi.

Harian De Volkskrant menulis “eksekusi itu tidak bisa dicabut lagi. Pemerintah Indonesia hanya bisa melakukan protes”.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengecam keras sikap pemerintah Saudi yang dinyatakannya "melanggar semua aturan dan norma internasional."

Selain itu SBY juga mengumumkan moratorium, tidak ada TKI yang dikirim ke Saudi mulai 1 Agustus mendatang hingga ditandatangani aturan yang melindungi para TKI di negara itu.

Eksekusi Ruyati membangkitkan kembali rasa anti- Arab Saudi di kalangan masyarakat Indonesia. Saat ini ada sekitar 700.000 TKI Indonesia bekerja di Arab Saudi. Puluhan ribu TKW kembali ke Indonesia dengan cerita-cerita penyiksaan dan penganiayaan. Sebagian malah tidak kembali sama sekali.

Tidak jarang para TKW ini dibunuh majikannya. Ratusan yang melarikan diri, ditangkap dan dijebloskan ke penjara, dan tidak dapat pulang ke Indonesia karena paspor mereka ditahan sang majikan.

Sementara itu, koran Trouw menulis, sudah bertahun-tahun pemerintah Arab Saudi dikiritik karena tidak memperlakukan para tenaga kerja asing secara manusiawi.

"Sepertinya aku bukan manusia," demikian judul laporan yang dikeluarkan organisasi HAM Human Rights Watch tahun 2008. Ketika itu ditulis banyak para pekerja domestik yang tidak dibayar gajinya, atau mendapat gaji sangat rendah, tidak pernah mendapat libur atau istirahat, sering harus menghadapi kekerasan fisik dan mental bahkan seksual.

Saat ini ada 22 orang warga Indonesia yang mendekam di penjara Arab saudi menunggu eksekusi mereka. Posisi hukum mereka di negara konservatif Islam ini sangat lemah. Pemerintah indonesia juga dituduh kurang memperhatikan nasib warganya di negara tersebut. SBY telah memanggil pulang dubesnya di Riyadh untuk berunding, dan mengajukan protes keras kepada pemerintah Saudi. Tapi langkah SBY ditertawakan banyak pihak terutama para aktivis HAM Indonesia.

"SBY mengatakan bahwa ia sangat khawatir. Tapi kata itu digunakannya untuk setiap persoalan."

Kemudian, Harian NRC Handelsblad memuat foto kedua anak Ruyati, Irwan Setiawan dan Evi Kurniawati yang menangis dan memperlihatkan foto ibu mereka yang telah tiada. Keduanya sudah berulang kali meminta bantuan berbagai instansi pemerintah untuk menyelamatkan ibu mereka. Tapi tidak ada satu pejabat pun yang tergerak untuk menolong. Sampai Sabtu lalu mereka mendapat berita ibunya telah dihukum pancung dengan pedang.

Arab Saudi memang dinyatakan sebagai tempat asal peradaban Islam, tapi kedua anak Ruyati menentang hal tersebut."Mereka mengatakan bahwa itu adalah tanah suci, tetapi mengapa semua PRT di sana dilecehkan secara seksual dan dianiaya?"

Apalagi cara sadis yang dijatuhkan terhadap ibu mereka, memancung kepala dengan pedang. Anak Ruyati mencontoh Australia yang tidak mau lagi mengirim ternak mereka ke Indonesia karena disembelih tanpa dibius. "Australia memperlakukan hewan ternak seperti manusia. Tetapi di Arab Saudi mereka memperlakukan manusia seperti binatang."

Saat ini keluarga Ruyati sedang berusaha untuk mendatangkan jasadnya ke Indonesia. Tetapi Ruyati telah dikubur, dan di Arab Saudi orang dimakamkan tanpa ditandai dengan batu nisan. Anak-anak Ruyati tidak tahu di mana ibu mereka dikubur.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.