Tiga tewas dalam demonstrasi Iran yang tak kunjung reda

Teheran (AFP) - Tiga personel keamanan dibunuh oleh "perusuh" di Iran pada Selasa yang menjadi korban maut terakhir dalam unjuk rasa yang tak menunjukkan tanda-tanda bakal mereda meskipun terjadi gelombang penangkapan dan penutupan internet.

Kematian itu menyebabkan sedikitnya lima orang yang dikonfirmasi terbunuh dalam demonstrasi nasional yang meletus pada Jumat, memprotes keputusan tiba-tiba dalam memaksakan kenaikan harga BBM.

Situasi di jalan-jalan tetap tidak menentu sebagian besar karena pemutusan sambungan internet yang diberlakukan pemerintah yang sudah memasuki hari ketiga.

Pada Selasa pagi, wartawan-wartawan AFP menyaksikan dua pompa bensin di Teheran dilalap api dan kerusakan infrastruktur lainnya termasuk sebuah pos polisi dan jembatan penyeberangan.

Tetapi pewarta-pewarta AFP ini dicegah mengambil gambar ketika ratusan polisi anti huru hara berdiri di pintu masuk alun-alun utama ibu kota Iran dengan kendaraan lapis baja dan meriam air.

Ketika demonstrasi pecah Jumat, para pengemudi menghentikan kendaraan mereka di jalan utama di Teheran untuk memblokir lalu lintas.

Rangkaian unjuk rasa itu seketika berubah menjadi kekerasan dan menyebar ke lebih dari 20 kota di Iran, yang membuat bank, pompa bensin dan properti publik lainnya dibakar, sedangkan toko-toko dijarah.

Rangkaian unjuk rasa itu meletus setelah Iran mengumumkan harga BBM akan dinaikkan 50 persen untuk pembelian 60 liter pertama selama satu bulan dan 200 persen untuk bahan bakar tambahan setelah itu.

Perekonomian Iran terpukul sejak Mei tahun lalu ketika Presiden Donald Trump secara sepihak menarik AS dari perjanjian nuklir 2015 dan menerapkan kembali sanksi yang melumpuhkan negeri itu.

Rekaman para pemuda bertopeng yang bentrok dengan pasukan keamanan disiarkan oleh televisi pemerintah, yang jarang menyiarkan tanda-tanda perbedaan pendapat.

Dalam sebuah video baru yang tayang Senin malam, seorang pria terlihat menembakkan apa yang tampak sebagai senapan serbu ketika yang lain melemparkan batu ke arah pasukan keamanan di kota Andimeshk di bagian barat Iran.

Dalam pertumpahan darah terbaru, para penyerang yang menghunus pisau dan parang menyergap dan menewaskan tiga personel keamanan di barat Teheran, lapor kantor berita ISNA dan Fars, Senin malam.

Salah seorang dari ketiganya diidentifikasi sebagai Morteza Ebrahimi, seorang komandan Korps Pengawal Revolusi Islam dan ayah untuk seorang anak yang baru lahir, lapor kantor berita Fars.

Dua lainnya adalah Majid Sheikhi (22) dan Mostafa Rezaie (33). Keduanya bertugas pada milisi Basij, pasukan sukarelawan yang setia kepada kelompok kemapanan.

Pemadaman internet telah membendung aliran video yang dibagikan di media sosial yang berisi unjuk rasa atau tindakan kekerasan terkait unjuk rasa itu.