TikTok Makin Berkuasa, Bikin Facebook, Instagram, dan YouTube Kian Was-was

Merdeka.com - Merdeka.com - TikTok, platform streaming video pendek China mengambil alih ruang media sosial dengan terus tumbuh lebih kuat. Cukup menarik bagaimana platform yang baru diluncurkan enam tahun lalu kini memimpin di banyak bidang. Pendek kata, platform besutan Zhang Yiming ini kalahkan supremasi Instagram, Facebook, dan YouTube.

Dilaporkan GizChina dari Mashable, Jumat (28/10), banyak alasan mengapa TikTok mampu meroket meninggalkan kompetitornya padahal usia TikTok jauh lebih muda dibandingkan Instagram maupun Twitter. Aplikasi yang sedang naik daun ini memiliki lebih dari 1 miliar unduhan dari Google Play Store saja.

Celakanya, jika jumlah unduhan TikTok terus bertambah dengan cepat, maka TikTok mungkin memiliki jumlah pengunduh yang sama dengan Facebook dan WhatsApp. Artinya, TikTok mampu menyaingi raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) dan kemungkinan mereka akan sulit untuk bisa bersaing dengan media sosial asal China itu.

Satu hal yang sebetulnya menjadi kekuatan Facebook sebagai kompetitor TikTok selama ini. Media sosial besutan Mark Zuckerberg ini di awal sebelum ramainya TikTok, cenderung unggul di layanan berbagi cerita. Sifat Facebook membuatnya menjadi tempat yang mudah untuk berbagi berita dan tentunya juga untuk membaca informasi.

Sayangnya, keunggulan ini kemudian mampu ditekel TikTok. Jumlah orang yang mendapatkan berita di TikTok terus bertambah. Menjadikan platform ini sumber informasi awal bagi pengguna. Konsekuensi logisnya adalah jumlah pengguna yang kerap sowan ke platform Facebook menurun.

Kondisi ini relevan dengan survei yang baru-baru ini dilakukan Pew Research Center. Lembaga survei ini melakukan penelusuran melalui pendataan sejumlah orang dewasa di AS. Institusi ini menanyakan berbagai kelompok umur tentang sumber berita awal yang mereka dapatkan.

Hasilnya adalah hanya TikTok dan Instagram yang disebut sebagai sumber awal informasi yang diterima. Dengan demikian, trafik kedua media sosial itu meningkat sejak 2020. Semua platform lain termasuk WhatsApp, Facebook, Twitter, Reddit, LinkedIn, YouTube, Snapchat, dan Twitch, menurun.

Sejak 2020, penggunaan TikTok sebagai sumber berita meningkat dari 22 persen menjadi 33 persen. Meskipun Instagram juga terlihat adanya pertumbuhan, berkat adanya Instagram Reels. Namun pertumbuhan itu sia-sia, karena lagi-lagi TikTok yang memimpin. Sejak 2020, News Feed Instagram naik hanya 1 persen dari 28 menjadi 29 persen.

Sebagian besar orang berusia antara 18 hingga 29 tahun adalah mereka yang mengandalkan TikTok sebagai platform berita. Artinya, TikTok secara bertahap menjadi mesin pencari alternatif bagi generasi muda yang sedang tumbuh.

Penurunan Facebook tidak terlalu mengejutkan, karena fakta bahwa telah terjadi penyebaran informasi yang salah di platform tersebut akhir-akhir ini. Sehingga, Facebook dianggap tidak menarik bagi generasi Z sebagai sumber informasi.

Mark Zuckerberg Akui Kekalahan

Sebelumnya, CEO Meta Mark Zuckerberg mengakui gagal mengantisipasi tren baru di jejaring sosial yang berkontribusi pada kesuksesan saingannya yakni TikTok.

Dalam sebuah wawancara yang yang dilakukan analis Ben Thompson ke Zuckerberg, ia mengatakan seperti melewatkan cara baru orang-orang berinteraksi dengan konten melalui media sosial.

Orang-orang semakin menggunakan ‘feeds’ jejaring sosial mereka untuk menemukan konten yang menarik dibandingkan dengan melihat media yang dibagikan oleh teman-teman yang mereka ikuti.

"Jadi di dunia itu, sebenarnya agak kurang penting siapa yang memproduksi konten yang Anda temukan, Anda hanya menginginkan konten terbaik," kata Zuckerberg seperti dilaporkan CNBC, Selasa (18/10).

Selain itu, Zuckerberg juga mengakui TikTok adalah "pesaing yang sangat efektif." Dia mengatakan, perusahaannya agak lambat soal ini karena tidak sesuai dengan pola sosial dirinya. Menurutnya, TikTok lebih seperti YouTube dalam versi lebih pendek. [faz]