Tim penyelamat berpacu mencari penyintas gempa Turki, 27 ditemukan tewas

·Bacaan 3 menit

Bayrakl (AFP) - Tim penyelamat berpacu melawan waktu pada Sabtu untuk menyelamatkan orang-orang yang terkubur di bawah puing-puing ketika ratusan orang menghabiskan malam yang mencekam di tenda-tenda setelah gempa bumi dahsyat merenggut 27 nyawa di Turki dan Yunani.

Gempa berkekuatan 7,0 Skala Richter (SR) itu menewaskan 25 orang dan melukai 804 di pantai barat Turki setelah diguncang gempa Jumat sore, dengan pusat gempa di lepas pantai kota Seferihisar di provinsi Izmir.

Bencana itu juga menewaskan dua remaja dalam perjalanan pulang dari sekolah di Yunani, tsunami kecil di pulau Samos di Laut Aegean dan gelombang laut yang mengubah jalan-jalan menjadi sungai deras di satu kota pesisir Turki.

Di Bayrakli, keluarga dan teman-teman di Turki menyaksikan penderitaan, kelelahan, dan harapan ketika para pekerja dengan susah payah menggali puing-puing dua bangunan yang benar-benar rata oleh gempa.

Hanya lima menit dari pusat kota, kerumunan orang menyaksikan kantong jenazah yang dibawa dari gedung lain yang runtuh pada Sabtu dini hari.

"Saya ingin lihat siapa itu!" seorang pria berteriak.

Di ruang hijau kecil di dekat bangunan yang rusak, pemerintah kota mendirikan tenda darurat putih besar untuk para korban, sementara tim penyelamat medis kementerian kesehatan menawarkan tenda yang lebih kecil untuk keluarga yang trauma.

Sepanjang malam, sup panas dan air tersedia bagi mereka yang menunggu di luar saat suhu turun.

Azize Akkoyun memperhatikan saat para penyelamat bekerja.

"Tirai itu, milik mertua putri saya," kata Akkoyun kepada AFP, sambil menunggu kabar.

"Kami akan menunggu sepanjang malam. Insya Allah mereka akan keluar hidup-hidup," katanya, seraya menambahkan bahwa mereka tidak dapat dihubungi melalui telepon.

Penduduk mengatakan Bayrakli, dengan populasi lebih dari 300.000, adalah distrik yang berkembang pesat dengan bangunan baru bermunculan di pinggiran kota resor Aegean, Izmir.

Tidak jauh dari lokasi tersebut, bunyi alat dan debu memenuhi udara kecuali saat-saat ketika semuanya berhenti dengan harapan mendengar adanya suara panggilan meminta bantuan dari mereka yang selamat.

Saat Cemalettin Enginyurt, 51, dan keluarganya menginap di dalam tenda, dia menggambarkan perasaan "tidak berdaya".

Pensiunan tentara itu mengatakan rumah keluarganya mengalami retakan "serius" dan dia khawatir kalau kondisinya tidak bisa untuk ditinggali.

"Seperti saat ini dan dengan risiko gempa susulan, kami memutuskan solusinya adalah tetap di luar. Izmir beriklim sedang, kami akan baik-baik saja dalam jangka pendek tetapi kami tidak yakin untuk jangka panjang," katanya. .

Harapan mulai muncul bahwa lebih banyak orang yang selamat dapat ditemukan menyusul laporan di media pemerintah tentang seorang pria berusia 53 tahun dan 62 tahun yang diselamatkan sekitar 17 jam setelah gempa.

Badan bencana pemerintah AFAD mengatakan 100 orang telah ditarik dari reruntuhan dalam kondisi selamat.

Bencana tersebut menimbulkan kekhawatiran jika Istanbul juga akan dilanda gempa bumi besar setelah gempa berkekuatan 7,4 skala Richter yang menghancurkan pada tahun 1999 di Izmit, Turki barat. Sekitar 17.000 orang tewas saat itu, termasuk 1.000 di Istanbul.

Ini adalah gempa kuat kedua yang melanda Turki tahun ini, setelah gempa di kota timur Elazig menewaskan lebih dari 30 orang pada Januari.

Menurut badan bencana pemerintah, 743 dari mereka yang terluka berada di Izmir dan sisanya di dekat provinsi Aydin, Manisa dan Balikesir. Gempa dirasakan hingga Athena dan Istanbul.

Terdapat 470 gempa susulan setelah gempa termasuk 35 gempa berkekuatan di atas empat, demikian AFAD melaporkan.

Nermin Yeni, 56, sedang memasak di rumah saat bencana melanda. “Saya cepat keluar, saya pingsan,” kata Yeni di luar tenda di taman karena tidak bisa pulang ke rumahnya.

Sebuah keluarga di dekatnya membakar apa yang mereka bisa dengan kaleng logam untuk menghangatkan badan. Beberapa tidak seberuntung mereka karena hanya bisa tidur di kantong tidur di luar atau meringkuk di mobil mereka.

Berapa saat ketika gempa mengguncang, Huseyin Sarac mengatakan dia dan keluarganya "sangat tegang, semua orang menangis."