Tim Sepak Bola Putri Afganistan Tiba di Inggris dengan Penerbangan Dibayari Kim Kardashian

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sekelompok gadis remaja yang merupakan anggota tim sepak bola pengembangan pemuda di Afghanistan telah tiba dengan selamat di Inggris. Mereka naik penerbangan sewaan dari Pakistan yang diurus seorang rabi yang berbasis di New York dan dibayar Kim Kardashian, lapor VICE World News, Jumat (19/11/2021).

Lebih dari 30 gadis dan perempuan muda berusia antara 13 dan 19 terbang ke Inggris pada Kamis pagi, 18 November 2021, ditemani keluarga mereka. Ini mengakhiri perjalanan epik dan "mengancam keselamatan" mereka sejak Taliban merebut kekuasaan di Afghanistan.

Para remaja dan keluarga mereka menghadapi ancaman pengembalian ke Afghanistan ketika visa sementara di Pakistan berakhir. Namun, para pendukung mengatakan tim sepak bola putri Afghanistan ini "ada dalam radar ancaman" Taliban karena hubungan mereka dengan olahraga wanita.

Upaya penyelamatan kemudian dikoordinasikan mantan kapten wanita Afghanistan Khalida Popal. Ia mengatakan pada Associated Press, "Banyak dari keluarga itu meninggalkan rumah mereka ketika Taliban mengambil alih."

"Rumah mereka dibakar. Beberapa anggota keluarga mereka dibunuh atau dibawa Taliban, jadi bahaya dan tekanannya sangat tinggi. Itulah mengapa sangat penting untuk bergerak cepat membawa mereka keluar dari Afghanistan," sambungnya.

Sebelumnya, tim nasional putri Afghanistan telah dievakuasi ke Australia dan Portugal memukimkan kembali tim nasional remaja putri. Tim pengembangan yang tiba di Inggris awalnya mencoba meninggalkan Kabul melalui bandara pada hari-hari setelah pengambilalihan Taliban, tapi tidak dapat melakukannya. Mereka kemudian menyeberang ke Pakistan dengan visa sementara.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Terima Visa Inggris

Aksi sekelompok wanita saat berunjuk rasa di Herat, Afghanistan, Kamis (2/9/2021). Para pengunjuk rasa mendesak Taliban menghormati hak-hak kaum perempuan, termasuk menempuh pendidikan. (AFP Photo)
Aksi sekelompok wanita saat berunjuk rasa di Herat, Afghanistan, Kamis (2/9/2021). Para pengunjuk rasa mendesak Taliban menghormati hak-hak kaum perempuan, termasuk menempuh pendidikan. (AFP Photo)

Mereka diberikan visa Inggris bulan lalu, dengan perjalanan yang didukung Rabi Moshe Margaretten dari Asosiasi Tzedek nirlaba yang berbasis di New York. Pihaknya telah banyak terlibat dalam membawa orang keluar dari Afghanistan dengan aman.

"Sebagai putra dan cucu dari korban Holocaust, saat orang-orang saleh non-Yahudi melangkah membantu menyelamatkan begitu banyak orang Yahudi, saya tahu dalam hati saya bahwa kita harus ada untuk orang lain saat mereka membutuhkan di waktu yang tepat, saat nyawa mereka terancam," katanya pada BBC News.

Kim, yang juga telah bekerja dengan Margaretten untuk tujuan lain, dan perusahaan pakaiannya SKIMS, menanggung biaya penerbangan sewaan. Perjalanan mereka ke Inggris juga didukung Ketua Klub Sepak Bola Leeds United Andrea Radrizzani.

Sesuai aturan terkini, para remaja dan keluarga mereka akan menghabiskan 10 hari di karantina terkait COVID-19 sebelum memulai kehidupan baru mereka di Inggris.

Isu Keamanan dan Kesejahteraan Perempuan Afghanistan

Aksi sekelompok wanita saat berunjuk rasa di Herat, Afghanistan, Kamis (2/9/2021). Para pengunjuk rasa mendesak Taliban menghormati hak-hak kaum perempuan, termasuk menempuh pendidikan. (AFP Photo)
Aksi sekelompok wanita saat berunjuk rasa di Herat, Afghanistan, Kamis (2/9/2021). Para pengunjuk rasa mendesak Taliban menghormati hak-hak kaum perempuan, termasuk menempuh pendidikan. (AFP Photo)

Isu keamanan dan kesejahteraan perempuan Afghanistan secara konstan muncul setelah Taliban mengambil alih kekuasaan. Salah satunya terkait hak bersekolah bagi wanita dan perempuan muda.

Setelah dikecam dunia internasional, Taliban menegaskan pihaknya tidak melarang anak perempuan untuk sekolah. Syaratnya, mereka harus mengenakan hijab. Tolo News melaporkan, Kementerian Kebajikan dan Pencegahan Maksiat mereka menyebut perempuan bisa sekolah hingga level PhD.

"Islam tidak menolak pendidikan, tapi menolak pendidikan tanpa hijab," ujar (plt.) Menteri Kebajikan dan Pencegahan Maksiat Shaikh Mohammad Khaled Hanafi.

Solusi lain yang dilakukan Emirat Islam Afghanistan adalah pemisahan siswa dan siswi agar tak belajar di tempat yang sama. Akhir Oktober lalu, beberapa SMA di Afghanistan dilaporkan sudah menerima kembali para siswi.

Infografis Kejatuhan dan Kebangkitan Taliban di Afghanistan

Infografis Kejatuhan dan Kebangkitan Taliban di Afghanistan. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Kejatuhan dan Kebangkitan Taliban di Afghanistan. (Liputan6.com/Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel