Timbun USD 2,1 Miliar Bitcoin, Penjahat Digital Joker Stash Pilih Pensiun dari Kariernya

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Joker Stash, sebuah situs online yang terkenal sebagai penjual data rekening bank curian memutuskan menutup bisnis gelapnya. Joker menghapus semua database dan menutup servernya sehingga tidak bisa lagi diakses.

Sebenarnya Joker berencana menutup layanannya pada 15 Februari, ini diumumkan lewat blognya. Namun, dikutip dari Forbes, Selasa (16/2/2021), sebuah layanan analis mata uang kripto, Elliptic menyebut situs tersebut sudah ditutup sejak 3 Februari lalu.

Dalam pengumuman itu Joker menuliskan kata-kata bagi para pelanggannya. Beberapa penggalan diantaranya mengingatkan para gangster pencuri uang tersebut agar tidak "tersesat mengejar uang".

Kutipan lainnya, "semua uang di dunia tidak akan pernah membuat Anda bahagia dan hal yang paling berharga dalam hidup ini adalah kebebasan."

Beberapa berspekulasi, admin dari Joker Stash mulai memutuskan berhenti dari bisnis ilegalnya ini semenjak terpapar virus Covid-19. Pada bulan Oktober tahun lalu, ia sempat mengabarkan sedang dalam perawatan karena positif Covid-19.

Meski begitu, sekalipun Joker Stash telah mengakhiri kariernya yang artinya membawa kabar baik bagi industri keuangan, beberapa pihak berpendapat bisnis serupa akan bangkit terutama yang menyasar aksi pencurian mata uang kripto.

Melakukan Kejahatan Carding

Joker melakukan kejahatan keuangan berupa Carding, yaitu tindakan kriminal mencuri data rekening orang untuk dipakai bertransaksi. Biasanya pelanggan Joker akan menggunakannya untuk membeli gift card atau barang tertentu yang dapat diperdagangkan dan diganti dengan dollar.

Bukan hanya melakukan carding untuk saldo non-tunai, belakangan Joker ikut menguras saldo mata uang kripto dari rekening yang dicuri. Joker juga meraup uang panas tersebut lewat potongan saat mengkonversi bitcoin menjadi mata uang dollar, dan potongan 20 persen untuk setiap transaksi dengan kartu curian.

Mencuri Saldo Bitcoin

Ilustrasi Bitcoin (iStockPhoto)
Ilustrasi Bitcoin (iStockPhoto)

Laporan Forbes tahun 2019 mengungkap telah ada ada lebih dari satu juta database rekening yang mereka jual, nilainya sekitar USD 130 juta atau Rp 1,8 triliun.

Sekalipun Joker telah menutup servernya 12 hari lebih cepat dari pengumuman dan menyebabkan banyak pelanggan belum menguras saldo dari rekening curiannya, sebenarnya mereka telah menimbun kekayaan dari aksi jahat ini selama lebih dari 6 tahun terakhir.

Elliptic melaporkan telah ada lebih dari USD 400 juta uang curian yang mengalur dari situs tersebut. Meskipun kebijakan dan teknologi pendeteksi transaksi mencurigakan meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

"Kemudian mempertimbangkan hanya dari bitcoin saja mereka telah meraup sekitar 60.000 bitcoin," hasil perhitungan Elliptic. Nilai tersebut setara USD 2,1 miliar atau setara hampir Rp 30 triliun.

Reporter: Abdul Azis Said

Saksikan Video Ini