Timnas Indonesia U-19 Sebaiknya Dijadikan Satu Tim dan Tampil di Liga 3

Bola.com, Solo - Mantan kapten Timnas Indonesia, Agung Setyabudi, ikut berkomentar mengenai rencana PSSI tentang regulasi pemain muda dalam lanjutan Shopee Liga 1 2020. Ia menilai wacana tersebut bagus, hanya menurutnya lebih baik semua pemain Timnas Indonesia U-19 dijadikan satu tim dan berkompetisi di Liga 3 saja.

Wacana penerapan regulasi U-20 dihembuskan menyusul terdampaknya sepak bola Indonesia termasuk kelompok usia akibat wabah virus corona. Terlebih dalam waktu dekat, Timnas Indonesia U-19 akan mengikuti ajang bergengsi.

Ada dua turnamen prestisius, yakni Piala Asia U-19 tahun ini dan Piala Dunia U-20 tahun depan, apalagi Indonesia bakal menjadi tuan rumahnya. Menurut Agung Setyabudi, wacana optimalisasi pemain muda cukup bagus, hanya kurang tepat.

"Karena Liga 1 kabarnya juga tidak ada degradasi, lebih baik pemain-pemain muda yang tergabung di Timnas U-19 dijadikan satu tim dan tampil dengan tim-tim di Liga 3," tuturnya kepada Bola.com, Jumat (26/6/2020).

Agung berpendapat bahwa tujuan sebenarnya bagus karena pemain bisa dapat jam tebang. Namun dampaknya pemain bisa menjadi bulan-bulanan pemain senior di Liga 1.

"Kasihan mentalnya nanti. Seperti dulu saya saat sudah jadi pemain senior, pemain muda yang jadi lawan harus dihajar. Doktrinnya seperti itu, karena kalau menang tidak membanggakan dan jika kalah juga malu," ungkap mantan punggawa PSIS Semarang mengomentari wacana penerapan regulasi U-20 di Liga 1.

 

Puji Model Kepelatihan Shin Tae-yong

Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, bersama pelatih anyar Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, dalam perkenalan pelatih Timnas Indonesia di Stadion Pakansari, Cibinong, Sabtu (28/12). PSSI Kontrak Shin Tae-yong 4 Tahun sebagai Pelatih Timnas.(Bola.com/Yoppy Renato)

Pria yang telah mencatatkan 53 penampilan di Timnas Indonesia tersebut turut memuji ketatnya asupan makanan para atlet. Seperti yang diterapkan Shin Tae-yong, termasuk wajib tahu pemainnya mengkonsumsi makanan apa selama ini.

Agung bercerita metode tersebut sudah dilakukan sejak dirinya masih berstatus pemain di Timnas Indonesia. Begitu ketatnya pola makanan membuat pemain tidak jarang melanggarnya, meski memiliki tujuan yang bagus.

"Makan secukupnya, setelah itu sampai hotel makan mie rebus, lha mau bagaimana lagi, lidahnya tidak cocok. Beda budaya dengan kita. Sebenarnya bagus itu, benar-benar diukur. Setelah makan timbang badan, begitu dan seterusnya," jelasnya.

Video