Timo Werner dalam Ancaman Kutukan Striker Mahal Chelsea

Satria Permana

VIVA – Timo Werner kemungkinan besar akan gabung ke Chelsea pada bursa transfer musim panas 2020. Itu setelah Chelsea menyetujui untuk mengaktifkan klausul pelepasan Werner dari Red Bull Leipzig seharga £50 juta atau setara Rp878 miliar.

Angka yang cukup tinggi. Dan, ini menasbihkan Chelsea sebagai tim yang gemar membeli striker mahal.

Ya, selama rezim Roman Abramovich, Chelsea sangat gemar membeli bomber dengan harga selangit. Contohnya adalah Andriy Shevchenko, Fernando Torres, Alvaro Morata, Michy Batshuayi, dan Diego Costa.

Dari deretan striker mahal itu, harga Costa yang paling murah. Namun, menariknya kualitas Costa malah mewah.

Jika dibandingkan Batshuayi, harga Costa lebih murah £3 juta. Namun, justru Costa yang mampu menjawab tantangan di Chelsea.

Baca juga:Gila, Timo Werner dengan Mudah Kalahkan 4 Pemain Chelsea Sekaligus

Sedangkan, Batshuayi gagal menunjukkan performa terbaiknya bersama Chelsea, hingga sekarang.

Tiga nama lain, Shevchenko, Torres, dan Morata, punya catatan lebih parah. Banderol selangit yang mereka emban, tak mampu dibuktikan dengan kualitas di lapangan.

Striker Chelsea, Alvaro Morata dipinjamkan ke Atletico Madrid.

Justru, catatannya sangat buruk. Sorotan tajam tentu mengarah ke Morata. Masih muda, dan pindah ke Chelsea dalam periode yang menjanjikan, Morata malah cuma bisa membukukan 24 gol dalam 72 pertandingannya.

Selanjutnya, Torres lebih parah. Saat baru pertama kali datang ke Chelsea, pada pertengahan musim 2010/11, produktivitas Torres menurun drastis.

El Nino tak segarang di Liverpool. Selama 903 menit bermain, atau 18 penampilan perdananya bersama Chelsea, Torres cuma cetak satu gol, menyedihkan!

Di musim 2011/12, Torres bermain dalam 49 laga. Tapi, lagi-lagi cuma 11 gol yang dicetaknya. Menariknya, saat catatan gol minim, Torres malah mampu membawa Chelsea menjuarai Liga Champions.

Pelatih Chelsea, Jose Mourinho, bersama Fernando Torres

Pun, pada musim 2012/13 dan 2013/14, kegarangan Torres tak muncul pula di Chelsea. Entah apa masalahnya, tapi gabung dengan Chelsea menjadi periode karier terburuk bagi Torres.

Baca juga: Timo Werner Gagal Lewati Tes Jadi Pemain Liverpool

Mari bicara Shevchenko, salah satu pemain kesayangan Abramovich. Musim panas 2005, publik dikejutkan dengan kepindahan Sheva ke Stamford Bridge.

Harapannya tentu sangat tinggi. Apalagi, Chief Executive Chelsea kala itu, Peter Kenyon, menyanjung kualitas Sheva yang luar biasa.

Andriy Shevchenko ketika memperkuat Chelsea

"Saya rasa, Shevchenko tipe pemain yang kami butuhkan untuk mengembangkan tim. Dengan kelasnya, kami yakin bisa makin bertaji," kata Kenyon dilansir BBC Sports.

Kenyataan bicara sebaliknya. Sheva kesulitan beradaptasi dengan gaya sepakbola Inggris. Pada musim perdananya, 2005/06, Sheva cuma bisa cetak 14 gol dari 51 laga di semua kompetisi yang dijalaninya.

Baca juga: Timo Werner Bisa Picu Ricuh di Chelsea, Gaji Pemain Lama Dipotong

Mimpi buruk itu berlanjut, hingga akhirnya Sheva dibuang dari skuad Chelsea pada musim 2008/09. Manajer Luiz Felipe Scolari tak mau memakai jasa Sheva, memaksanya untuk kembali ke AC Milan dengan status pinjaman, hingga akhirnya Sheva kembali ke Dynami Kyiv dan pensiun di sana.

Nah, menarik untuk dinantikan bagaimana kiprah Werner. Sebab, banderol Werner terbilang tinggi dan tantangan memecahkan kutukan striker mahal Chelsea cukup besar. Bisa, Werner?