Tinggalkan 11 Hal Ini Jika Ingin Jadi Miliarder

Liputan6.com, Jakarta - Setiap orang tentu memiliki cita-cita masing-masing. Misalnya menjadi seorang miliarder. Namun, untuk mencapai kesuksesan tidak diraih dengan mudah.

Apalagi jika ingin menjadi miliarder, Anda harus berkorban dan meninggalkan kebiasaan hidup yang buruk.

Inilah 11 kebiasaan yang tidak dilakukan lagi oleh miliarder, dilansir dari CNBC, Sabtu (30/11/2017):

1. Berpikir Dangkal

Menurut Steve Siebold, dalam bukunya yang berjudul “How Rich People Think” menuliskan, tujuan utama banyak orang terkait uang adalah pensiun pada usia 65. Kemudian berharap memiliki cukup uang untuk bertahan hidup sampai meninggal.

Jangan takut untuk berpikir besar, kata Siebold. Pada akhirnya, rata-rata orang memiliki "semua yang mereka butuhkan untuk menghasilkan lebih banyak uang daripada yang bisa mereka habiskan." Mulailah berpikir, seperti yang dilakukan orang kaya, "Jika bukan Anda, lalu siapa?"

2. Menempatkan Terlalu Banyak pada Tabungan

Bagi miliarder selain penting menabung, hal yang utama adalah berinvestasi. Dengan begitu, kekayaan akan tetap menghasilkan dan bertambah. Itu sebabnya miliarder tidak akan menekankan simpanan hanya pada tabungan semata.

3. Gaji Tetap

Orang memilih untuk bekerja dan mendapatkan gaji tetap setiap bulannya. Sementara bagi miliarder lebih senang dan puas apabila dapat menghasilkan uang sendiri.

4. Tenggat waktu yang fleksibel

Jika Anda ingin menghasilkan banyak uang, maka harus memiliki tujuan yang jelas. Susun rencana dengan rapi, serta menuliskan tenggat waktu untuk sebuah pencapaian.

5. Membeli barang yang Tidak Mampu dibeli

Daripada membelanjakan semua yang mereka hasilkan, miliarder memiliki banyak aliran pendapatan dan membayar sendiri terlebih dahulu.

“Alih-alih berfokus pada pengeluaran dan menabung, fokuslah pada cara mendapatkan lebih banyak, investasikan persentase, dan belanjakan sisanya dengan cara apa pun yang Anda inginkan,” kata Siebold.

Kebiasaan makan miliarder ternyata memengaruhi kesuksesan kerja. (Ilustrasi: The Huffington Post)

6. Hiburan

Miliarder "lebih suka dididik daripada dihibur," tulis Siebold. Pendidikan sangat dijunjung tinggi oleh seorang miliarder.

"Berjalan ke rumah orang kaya dan salah satu hal pertama yang akan Anda lihat, adalah perpustakaan buku yang luas yang mereka gunakan untuk mendidik diri mereka sendiri tentang bagaimana menjadi lebih sukses. Kelas menengah membaca novel, tabloid, dan majalah hiburan." tulis Sibold dalam bukunya.

7. Tinggalkan Hubungan yang Tidak Baik

Pikirkan dengan siapa Anda bergaul, faktanya akan memengaruhi kehidupan Anda. "Orang-orang sukses umumnya setuju bahwa kesadaran itu menular, dan bahwa paparan kepada orang-orang yang lebih sukses memiliki potensi untuk memperluas pemikiran Anda dan melambungkan pendapatan Anda," tulis Sibold.

8. Nostalgia

Orang biasa cenderung merindukan masa lalu yang baik, kata Siebold. Sementara itu, orang kaya sibuk memimpikan masa depan dan optimis tentang apa yang akan terjadi.

9. Nyaman

Rata-rata orang ingin merasa nyaman. Sebaliknya, miliarder dirangsang oleh ketidakpastian.

“Para pemikir kelas dunia belajar sejak dini bahwa menjadi seorang jutawan bukanlah hal yang mudah dan kebutuhan akan kenyamanan dapat menghancurkan. Mereka belajar untuk merasa nyaman saat beroperasi dalam keadaan ketidakpastian yang berkelanjutan." Tulis Sibold.

10. Takut

Hal yang harus ditinggalkan, adalah perasaan takut. Jika Anda ingin menjadi miliarder, harus siap menerima dan menghadapi berbagai kemungkinan masalah yang datang.

11. Harapan yang Rendah

Orang biasa akan menempatkan ekspektasi finansial yang rendah, dibandingkan seorang miliarder yang menetapkan ekspektasi yang tinggi dan siap menghadapi tantangan apapun.

Seperti yang ditulis Siebold, dalam bukunya: “Tidak seorang pun akan pernah menjadikannya kaya dan mewujudkan impian mereka tanpa harapan besar. Kebijaksanaan kuno mengatakan Anda mendapatkan apa yang Anda harapkan, namun banyak orang memutuskan untuk membatasi hidup mereka hanya untuk kelas menengah dalam upaya melindungi diri dari kegagalan. ”