Tingginya Pernikahan Anak Jadi Penyumbang Stunting Terbesar

Tasya Paramitha, Sumiyati
·Bacaan 3 menit

VIVA – Upaya penanggulangan stunting harus dimulai jauh ke belakang, yaitu dengan memberi perhatian pada kesehatan remaja dan terutama calon ibu.

Sebab, stunting bukan hanya persoalan saat anak mengalami persoalan gizi, tapi pencegahan stunting harus diawali dengan memastikan calon ibu benar-benar siap menghadapi 1000HPK (Hari Pertama Kehidupan).

Selain itu, perkembangan kesehatan saat remaja juga sangat menentukan kualitas seseorang untuk menjadi individu dewasa. Masalah gizi yang terjadi pada masa remaja akan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit di usia dewasa serta berisiko melahirkan generasi yang bermasalah gizi.

Ketua TP PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin mengungkapkan, penanganan stunting di wilayahnya adalah prioritas yang langsung dipimpin oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

"Intervensi stunting memang harus saat dalam kandungan, namun itu saja sudah telat. Momen yang paling tepat adalah ketika remaja, sehingga mereka siap untuk menjadi ibu," ujarnya dalam webinar yang diselenggarakan PP Muslimat NU dan Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia (YAICI), baru-baru ini.

Arumi juga mengakui, saat ini penyumbang terbesar stunting adalah tingginya pernikahan di usia anak. Penyebabnya adalah kemiskinan, putus sekolah, kurangnya pendidikan baik formal maupun non formal.

Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya edukasi tentang gizi harus disampaikan secara gamblang. Salah satunya adalah edukasi mengenai konsumsi kental manis yang masih jamak diberikan masyarakat sebagai minuman untuk anak-anak.

"Terkait kental manis menjadi salah satu faktor penyebab stunting, kita harus kedepankan fakta dan disampaikan dengan gamblang. Orang tua dalam hal ini ayah dan ibu harus bekerja sama menjaga anak dan mendidik orang tua (nenek) untuk tidak memberi kental manis kepada anak," tegas Arumi.

Mendukung pernyataan Arumi, Dokter Spesialis Gizi Klinis UI, Dr. dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, SpGK(K), pun mengatakan, karakteristik perilaku konsumsi masyarakat Indonesia adalah senang mengonsumi manis, asin dan mengandung lemak.

"Asupan lemak rata-rata orang Indonesia memang hanya 32 persen, tidak lebih tinggi dibanding negara lain. Namun asupan lemak jenuhnya 2 kali lipat dari negara lain, dan ini adalah sumber dari segala penyakit," ungkap dia.

Lebih lanjut, Fiastuti menjelaskan, pada remaja perilaku konsumsi yang tidak seimbang tersebut bahkan terlihat lebih jelas.

"Kita perlu fokus pada remaja karena ketidak tepatan nutrisi akan memengaruhi status gizi dan kesehatan generasi yang akan datang. Remaja yang melakukan diet yang salah akan berakibat pada gangguan pertumbuhan," kata dia.

"Dan bila dietnya salah, maka akan menjadi remaja yang pendek dan akan melahirkan bayi-bayi yang stunting. Ditambah lagi remaja sekarang terbiasa mengonsumsi fast food dan junk food yang kandungan gula, garam dan lemaknya tinggi," sambung dia.

Karena itu, guna mencegah stunting, Fiastuti mengatakan, pemenuhan gizi remaja perlu diperhatikan.

"Harusnya nutrisi remaja yang mengandung nutrian yang dibutuhkan bagi pertumbuhannya, seperti protein yang tinggi, jangan banyak gula. Dan saya tidak setuju jika anak diberi kental manis karena sama sekali tidak ada gizinya isinya hanya gula," tegas Fiastuti.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang VII PP Muslimat NU, Dr. Erna Yulia Soefihara, mengatakan, sebagai bentuk partisipasi dalam pembangunan SDM unggul, PP Muslimat NU akan terus melakukan edukasi gizi untuk masyarakat.

"Sejak 2018 telah dilakukan kegiatan sosialisasi ke beberapa wilayah di Indonesia untuk mensosialisasikan pentingnya pengetahuan gizi dan peruntukan kental manis. Selain itu juga dilakukan penelitian di beberapa wilayah untuk memperkuat edukasi dan upaya advokasi fakta kental manis di berbagai kalangan," tutur Erna.