Tingkat penembakan fatal polisi AS terhadap kulit hitam tak bersenjata '3 kali lebih tinggi daripada terhadap kulit putih'

·Bacaan 3 menit

Paris (AFP) - Para petugas polisi AS menembak warga kulit hitam tak bersenjata tiga kali lebih banyak dari pada terhadap warga kulit putih tak bersenjata berdasarkan jumlah penduduknya, sebut hasil sebuah penelitian yang diterbitkan Rabu tentang apa yang disebut oleh para peneliti sebagai "darurat kesehatan masyarakat".

Temuan ini muncul ketika AS mengalami gelombang protes sejak pembunuhan George Floyd pada Mei, yang menjadi simbol dari apa yang disebut banyak orang sebagai rasisme sistemik dan kekerasan polisi terhadap warga Afrika-Amerika.

Kurangnya data resmi telah menghalangi perkiraan akurat tentang seberapa parah masalah ini.

Para peneliti dari University of Pennsylvania, Yale dan Drexel University College of Medicine, menggunakan data umum yang ada yang dikumpulkan oleh Washington Post tentang orang-orang yang dibunuh oleh petugas polisi yang sedang bertugas di AS antara 2015 dan 2020 untuk memetakan kecenderungan insiden ini.

Studi yang diterbitkan dalam Journal of Epidemiology and Community Health itu menyimpulkan bahwa tingkat insiden sebagian besar tetap tidak berubah dalam lima tahun terakhir.

Berdasarkan data itu, ada 5.367 kasus penembakan fatal oleh polisi yang dilaporkan selama periode tersebut. Menurut penelitian itu data tersebut bersumber dari laporan berita lokal, database independen, dan liputan tambahan di surat kabar itu.

Dari 4.653 kematian yang memiliki cukup informasi untuk dianalisis, para peneliti menemukan bahwa 51 persen kematian terjadi pada kulit putih, 27 persen warga kulit hitam, 19 persen terdaftar sebagai Hispanik, sementara penduduk asli Amerika dan Asia masing-masing menyumbang 2 persen.

Mengingat komposisi penduduk AS, para peneliti menghitung bahwa penduduk asli Amerika tiga kali lebih mungkin ditembak mati daripada warga kulit putih, sedangkan warga kulit hitam lebih dari 2,5 kali, dan warga Hispanik 29 persen lebih mungkin.

"Penembakan fatal oleh polisi adalah keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menyumbang kepada kesehatan yang buruk" bagi warga Kulit Hitam, Pribumi, dan Kulit Berwarna, kata para peneliti.

Studi tersebut menemukan 753 (15,9 persen) penembakan fatal oleh polisi melibatkan korban-korban tidak bersenjata.

Para peneliti mengatakan mereka memasukkan orang-orang dengan objek-objek -misalnya AC, kursi, pena atau sekop- dalam daftar mereka yang tidak bersenjata karena "kemungkinan kecil memuat kekuatan yang langsung mematikan".

Di antara kelompok tidak bersenjata ini -dan juga relatif terhadap jumlah penduduk- warga kulit hitam 3,18 kali lebih mungkin ditembak secara fatal daripada warga kulit putih, sedangkan angka serupa 1,45 kali lebih tinggi untuk warga Hispanik.

Para peneliti mengakui keterbatasan studi tersebut, termasuk bahwa data asli mengandalkan laporan berita dan oleh karena itu bisa saja melewatkan insiden yang tidak menarik perhatian media.

Mereka menambahkan bahwa penelitian ini juga tidak menangkap cedera serius jenis lainnya dan kematian saat dalam tahanan polisi, termasuk kematian George Floyd.

Seorang petugas polisi difilmkan menekan lututnya saat memborgol leher Floyd sampai dia lemas saat ditangkap pada Mei.

Petugas itu, Derek Chauvin, didakwa dengan pasal pembunuhan tingkat dua dan tingkat tiga serta pembunuhan tak disengaja.

Pembunuhan itu memicu demonstrasi berpekan-pekan di seluruh AS, di mana penembakan dan kematian warga Afrika-Amerika lainnya - termasuk Breonna Taylor di Louisville, Kentucky - turut menyumbang kepada tudingan bahwa warga kulit hitam secara tidak proporsional menjadi korban penembakan polisi jika dibandingkan dengan ras-ras lainnya.

Sebuah studi yang tahun lalu diterbitkan Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa pria kulit hitam di Amerika Serikat 2,5 kali lebih mungkin dibunuh oleh polisi ketimbang rekan senegaranya yang berkulit putih.

Para peneliti menggunakan data dari Fatal Encounters, sebuah proyek yang dipimpin wartawan, serta National Vital Statistics System, untuk menganalisis periode 2013-2018.


klm/pg/adp