Tingkatkan Akses Belajar Daring Melalui Progam Pendidikan Digital Anak & Kaum Muda Marjinal

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Belajar daring masih menjadi solusi yang dijalankan pemerintah di masa pandemi ini, agar semua peserta didik dapat meneruskan proses pembelajaran. Melihat hal ini, Yayasan Bulir Padi ingin ikut berpartisipas dan meluncurkan Digital Learning Program (DLP) untuk memenuhi kebutuhan pendidikan digital anak dan kaum muda marjinal binaannya di Jakarta pada Minggu (20/3).

Program ini dimaksud untuk mendukung kualitas pembelajaran para penerima manfaat, khususnya mereka yang berasal dari keluarga ekonomi lemah. Sebagai bagian dari DLP, Yayasan Bulir Padi juga membangun Digital Learning Center (DLC) di komunitas marjinal yang bermukim di Palmerah – Jakarta Barat dan Marunda – Jakarta Utara. Yayasan Bulir Padi merupakan organisasi lembaga swadaya masyarakat yang membantu anak dan kaum muda marjinal dari keluarga prasejahtera.

Pemberian akses pendidikan belajar daring ini bertujuan untuk memberdayakan mereka menjadi pribadi mandiri, yang kelak membantu meningkatkan taraf hidup keluarga dan komunitasnya. Tiga fokus pilar kerja program ini adalah Keunggulan Prestasi Akademis, Pendidikan Keterampilan Siap Kerja dan Akses ke Dunia Kerja. Yayasan Bulir Padi mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa Bangsa.

United Nation’s Children Fund (UNICEF) melaporkan sedikitnya 463 juta anak di seluruh dunia tidak bisa mengakses pendidikan secara virtual (jarak jauh). Di Indonesia sendiri Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengungkapkan bahwa sebanyak 68 juta anak di Indonesia terpaksa belajar dari rumah dan menjalankan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) akibat Pandemi Covid-19.

Akselerasi pesat untuk bertransisi ke tahap belajar daring sejak Pandemi Covid-19 sampai sekarang sangat sulit untuk siswa dari komunitas ekonomi lemah. Menurut Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) terdapat berbagai kendala selama PJJ antara lain, akses fasilitas pendukung belajar anak belum merata di mana siswa tidak memiliki gawai pribadi atau paket internet yang diperlukan untuk belajar dan melakukan tugas dari guru-gurunya.

Digital Learning Program

Digital Learning Program Yayasan Bulir Padi (Foto dok. Yayasan Bulir Padi)
Digital Learning Program Yayasan Bulir Padi (Foto dok. Yayasan Bulir Padi)

Selain itu, FSGI menilai bahwa kendala PJJ ini juga berdampak pada turunnya minat dan motivasi belajar siswa. Ketua Yayasan Bulir Padi Tia Sutresna mengatakan, “Siswa marjinal sangat rentan untuk ketinggalan dalam pelajaran sekolah karena mereka terpaksa untuk beradaptasi ke metode Pendidikan Jarak Jauh dan tidak memiliki perangkat untuk melakukannya dengan baik. Digital Learning Program kami bertujuan untuk mengisi kebutuhan ini serta merupakan bentuk komitmen kami untuk terus mendukung pendidikan berkualitas bagi anak binaan Yayasan Bulir Padi.”

“Digital Learning Program Yayasan Bulir Padi memberikan akses internet untuk kebutuhan pendidikan serta mendukung pengembangan keterampilan literasi digital mereka. Para penerima manfaat juga dapat akses terhadap pelatihan siap kerja daring agar mereka memiliki keterampilan yang dibutuhkan oleh industri dan mampu berkompetisi di dunia kerja dan usaha,” lanjutnya.

Manfaat yang didapatkan melalui Digital Learning Program Yayasan Bulir Padi antara lain:

1. Akses data/kuota internet dan gawa pintar untuk kebutuhan pendidikan.

2. Akses terhadap pendidikan Informasi Komputer dan Teknologi Digital

3. Informasi terkini dan pengetahuan tentang kebutuhan digital di dunia kerja agar penerima manfaat dapat berkompetisi dalam mencari peluang kerja.

Setiap Digital Learning Center dilengkapi dengan laptop dan sarana wifi yang dapat digunakan oleh siswa SMA/K (15-18 tahun), serta kaum muda produktif (18-25 tahun) binaan Yayasan Bulir Padi untuk menjalankan proses belajar dan pelatihan daring. Tim Yayasan Bulir Padi juga akan melakukan survei dan impact assessment secara berkala untuk mengukur efektivitas program ini terhadap penerima manfaat.

Penulis : Adonia Bernike Anaya (Nia)