Tingkatkan ekspor ikan, Kadin harap subsidi listrik di Indonesia timur

Subagyo
·Bacaan 2 menit

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto berharap agar pemerintah memberikan subsidi listrik dan BBM, terutama di kawasan Indonesia timur guna meningkatkan ekspor perikanan di tengah pandemi.

Sebelum adanya pandemi COVID-19, menurut dia, ekspor perikanan selalu mengalami kenaikan hingga 6 persen. Oleh karena itu, Kadin berupaya mendorong peningkatan ekspor khususnya pada budidaya ikan.

"Untuk menunjang itu, harapan kami agar pemerintah menetapkan subsidi supaya listrik BBM diberikan harga khusus untuk budidaya terutama di Indonesia Timur, selain itu juga dipermudah izin di daerah-daerah," kata Yugi dalam konferensi pers JFSS-5 yang diselenggarakan secara virtual, Jumat.

Dia mengatakan investasi sektor marikultur diharapkan terjadi peningkatan. Saat ini, porsi investasi budidaya perikanan masih di bawah 5 persen dari potensi yang ada.


Baca juga: Kadin sebut Covid-19 peluang Indonesia tingkatkan ekspor perikanan

Baca juga: Kadin: Ekspor produk perikanan ke China jalan terus


Oleh karena itu, pelaku usaha berharap adanya kejelasan penentuan lahan untuk revitalisasi budidaya. Selain itu, Kadin juga meminta adanya keringanan pajak di negara penerima untuk ekspor perikanan ke Uni Eropa.

"Kita dikenakan 25 persen, sementara Taiwan 0 persen," kata Yugi.

Sementara itu, sertifikat kesehatan untuk komoditas rumput laut sebaiknya tidak disamakan dengan ikan dan produk hidup, sebagai salah satu administrasi wajib di Badan Karantina Pertanian.

Untuk akses kredit, Kadin menilai bahwa sampat saat ini kredit perikanan maritim masih di bawah 10 persen dari total kredit yang disalurkan perbankan. Padahal, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan 65 persen adalah laut, sehingga nelayan diharapkan mendapat kemudahan dalam mengakses pembiayaan.

Ada pun untuk mendukung ketahanan pangan, Kadin Indonesia memperkuat kemitraan para pemangku kepentingan, seperti petani, peternak, nelayan dan industri pengolahan melalui Jakarta Food Security Summit (JFSS) kelima pada 18-19 November 2020.


Baca juga: Kadin apresiasi pemerintah tidak menaikkan harga pakan ikan


JFSS merupakan wadah lintas sektoral swasta, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, badan internasional, akademisi dan para petani untuk menampung dan menyusun langkah terbaik guna meningkatkan produktivitas pangan nasional dan kesejahteraan petani melalui praktik pertanian yang baik dan ramah lingkungan.

Kegiatan JFSS-5 akan membahas sejumlah langkah, strategi dan solusi agar sektor pertanian, peternakan dan perikanan bisa menjadi tumpuan perekonomian nasional.

Selama dua hari, ada empat tema besar yang akan dibahas dalam JFSS-5, yaitu Momentum untuk Mendukung Petani, Peternak, dan Nelayan; Memaksimalkan Potensi Pasar Domestik; Strategi Ekspor Indonesia di masa Pandemi dan pasca Pandemi, dan Menyusun Strategi Baru Pasca Pandemi.


Baca juga: Menteri Edhy Prabowo datang ke Kadin, bahas sinergi budi daya ikan

Baca juga: Kadin usul pemulihan ekonomi melalui sektor kelautan dan perikanan