Tinjau Gudang Bulog, Ganjar Kritik Mekanisme Serapan Gabah Petani

Fikri Halim, antv/tvOne, Teguh Joko Sutrisno
·Bacaan 2 menit

VIVA – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengkritik mekanisme penyerapan Bulog terhadap gabah petani yang belum mendukung. Menurutnya, rendahnya penyerapan karena fungsi Bulog yang tidak optimal. Jika dulu Bulog punya program beras miskin sekarang program itu tidak ada.

"Ini diserap terus, tidak dikeluarkan. Paling keluar rutin dari Bulog hanya bencana atau operasi pasar (OP). Jadi mohon maaf, kalau tidak ada bencana atau harga stabil dan tidak ada operasi pasar, ya ndongkrok," kata Ganjar saat meninjau gudang Bulog Banaran Delanggu Klaten, Senin 29 Maret 2021.

Pengecekan dilakukannya untuk mengetahui serapan gabah petani saat musim panen tiba. Menurutnya, serapan Bulog itu masih terlalu kecil. Padahal, saat ini Jateng memasuki musim panen raya. Menurut laporan Dinas Pertanian dan Perkebunan, sejak Januari-Mei ini Jateng sudah surplus 1,6 juta ton.

"Saya ke sini untuk melihat proses serapan, karena bulan April ini kita sedang pucaknya panen raya. Teman-teman di Bulog ini sudah mulai serap, tapi kalau kita bicara produksi kita, hari ini sangat melimpah. Maka penting memastikan gabah petani dibeli dengan harga di atas HPP atau minimal sama dengan HPP," jelas Ganjar yang didampingi Wakil Bupati Klaten, Yoga Hardaya dan Pemimpin Wilayah Bulog Jateng, Miftahul Ulum.

Ia mengusulkan kepada pemerintah pusat membuat kebijakan baru untuk membantu Bulog menyerap gabah petani. Bulog lanjut dia, bisa diberikan tugas yang lebih banyak seperti dulu lagi.

Menurutnya, fungsi Bulog agak pincang. Di satu sisi mereka diminta menyerap gabah dari petani, tapi keluarnya tidak banyak, hanya untuk stok saja.

"Kalau sistemnya ndak dirubah, sudah pasti serapan Bulog enggak bisa bagus. Dampaknya harga petani pasti rendah karena betul-betul menggunakan mekanisme pasar dan diadu dengan pasar," tegasnya.

Menurutnya, kalau pusat tidak melakukan terobosan, maka Pemda harus mengambil tindakan. "Sepertinya kita harus punya gudang sendiri, mungkin kita yang melakukan fungsi PSO dan mengambil stok agar petani bisa terbantu. Kalau tidak ada saluran keluarnya, ngendonnya akan lebih banyak," tandasnya.

Sementara Pemimpin Wilayah Bulog Jateng, Miftahul Ulum mengatakan, Bulog Jateng dijatah menyerap gabah petani sebanyak 204.000 ton tahun ini. Namun, lanjutnya, ada kendala Bulog dalam penyerapan gabah petani, yaitu kualitas gabah petani tidak terlalu bagus.

"Kendalanya saat musim hujan kemarin. Jadi banyak gabah yang dipanen lebih awal, karena rusak. Dalam arti terkena banjir padi roboh jadi segera dipanen," terangnya.

Laporan: Teguh Joko Sutrisno/tvOne