Tinkerlust rilis laporan khusus dukung industri fesyen berkelanjutan

Tinkerlust, marketplace yang khusus menjual produk preloved di Indonesia, merilis laporan khusus untuk menggugah kesadaran masyarakat dan menggalang lebih banyak dukungan terhadap industri fesyen berkelanjutan.

Laporan bertajuk "Tinkerlust Impact Report 2022 - Unlocking Fashion Sustainability & Circular Economy" itu sudah dirilis secara resmi dan bisa diakses masyarakat umum.

"Tinkerlust berkomitmen untuk dapat membantu meningkatkan circular economy dengan mengenalkan jual-beli barang preloved sebagai new shopping lifestyle, kami berharap dengan gerakan ini dapat membantu mengurangi dampak lingkungan dari industri fesyen," kata Co-Founder dan CEO Tinkerlust Samira Shihab di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Mengenal fesyen sirkular, siklus yang mengubah dinamika dunia mode

Adapun laporan ini menggalang suara dari 665 responden di Tanah Air dan rupanya masih banyak masyarakat yang menyukai produk fesyen baru dengan persentase 58 persen dibandingkan dengan barang preloved yang menjadi sisanya.

Dalam laporan itu juga ditemukan sebanyak 63,46 persen masyarakat masih memilih produk "fast fashion" karena memiliki gaya modis serta harga yang dinilai lebih murah.

Menariknya dari para responden itu juga ditemukan fakta bahwa 75 persen-nya sudah memahami fesyen berkelanjutan.

Rata-rata mereka mengenal dan mendapatkan informasi mengenai industri fesyen berkelanjutan dari media sosial serta berita.

Berkaca dari tinggi-nya masyarakat yang mulai mengenal industri fesyen berkelanjutan, dalam laporan itu Tinkerlust menyarankan solusi bernama "Buyerarchy of Needs" yang dicetuskan penulis buku asal AS yaitu Sarah Lazarovic.

Dalam sebuah skema piramida, masyarakat diajak untuk menggunakan dengan maksimal produk fesyen yang dimilikinya demi mendukung fesyen berkelanjutan.

Baca juga: "Daur", koleksi sisa potongan bahan tenun dengan gaya artistik

Jika merasa bosan, pemilik produk fesyen bisa saling bertukar pakaian atau meminjam pakaian dengan temannya untuk membawa nuansa baru.

Melangkah ke langkah selanjutnya pecinta fesyen bisa mulai mencoba kebiasaan "thrift" atau membeli produk bekas yang masih layak pakai dikenal juga sebagai produk preloved.

Selain itu, langkah lain yang bisa dicoba ialah memberdayakan kearifan lokal seperti para penjahit di sekitar anda untuk mendukung UMKM.

Jika ternyata langkah-langkah di atas belum bisa menjawab kebutuhan fesyen, maka langkah terakhir yaitu membeli baru bisa dilakukan.

Langkah-langkah tersebut bisa dijadikan kebiasaan baik untuk memulai fesyen berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada "fast fashion".

"Harapan kami, Impact Report ini dapat memberikan tambahan pengetahuan terkait gaya hidup berkelanjutan ini, yang dapat membangkitkan semangat untuk berkontribusi secara positif kepada lingkungan kita sendiri," tutup COO Tinkerlust Aliya Amitra.

Bagi anda yang tertarik lebih lanjut membaca laporan ini, anda bisa mengakses-nya melalui situs web Tinkerlust.com/impact-report.

Baca juga: Produksi yang "zero-waste" kian jadi andalan UMKM batik

Baca juga: Wastra Bali dalam "Langkah" Denny Wirawan

Baca juga: Uniqlo kampanyekan pelestarian lingkungan