Tiongkok Pertimbangkan Pencampuran Vaksin COVID-19 untuk Tingkatkan Efikasi

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Beijing Pejabat Tiongkok tengah mempertimbangkan pencampuran vaksin COVID-19 demi meningkatkan efikasi atau kemanjuran. Dari hasil penelitian terbaru, efikasi vaksin buata negara tersebut terbilang rendah, meski jarang diakui kelemahannya.

Kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok Gao Fu menjelaskan, pemerintah Tiongkok telah mengembangkan empat vaksin COVID-19 (dua di antaranya, Sinovac dan CanSino) berbeda yang disetujui untuk penggunaan publik walau beberapa uji coba di luar negeri menunjukkan efikasi serendah 50 persen.

"Tiongkok mempertimbangkan untuk mencampurkan vaksin COVID-19 sebagai cara untuk meningkatkan efikasi (kemanjuran). Langkah-langkah untuk "mengoptimalkan" kinerja vaksin dapat mencakup mengubah jumlah dosis dan lamanya (interval) waktu (pemberian)," jelas Gao Fu, dikutip dari BBC, Senin, 12 April 2021.

Gao Fu juga menyarankan untuk menggabungkan berbagai vaksin untuk proses imunisasi. Namun, ia menarik kembali komentarnya, bahwa 'rata-rata tingkat perlindungan semua vaksin di dunia terkadang tinggi, terkadang rendah.'

"Bagaimana meningkatkan efikasi vaksin COVID-19 adalah pertanyaan yang perlu dipertimbangkan oleh para ilmuwan di seluruh dunia," kata Gao Fu dalam sebuah makalah.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Efektivitas Vaksin COVID-19 buatan Tiongkok dan Negara Peminat

Seorang perawat menyuntikkan vaksin Covid-19 CoronaVac dari Sinovac di Institut Penyakit Menular Bamrasnaradura di Bangkok, Thailand, Minggu (28/2/2021). Tenaga medis dan relawan kesehatan menjadi golongan pertama yang menerima vaksin Covid-19 tersebut. (Lillian SUWANRUMPHA/AFP)
Seorang perawat menyuntikkan vaksin Covid-19 CoronaVac dari Sinovac di Institut Penyakit Menular Bamrasnaradura di Bangkok, Thailand, Minggu (28/2/2021). Tenaga medis dan relawan kesehatan menjadi golongan pertama yang menerima vaksin Covid-19 tersebut. (Lillian SUWANRUMPHA/AFP)

Dari data yang dihimpun secara internasional, keefektifan berbagai vaksin COVID-19 buatan Tiongkok sudah sejak lama dianggap tidak pasti.

Contohnya, uji klinik vaksin Sinovac CoronaVac di Brasil menunjukkan tingkat kemanjuran sekitar 50,4 persen, yang hampir tidak melebihi ambang batas 50 persen yang diperlukan untuk persetujuan sebagaimana ketentuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Akan tetapi, hasil sementara dari uji klinik tahap akhir di Turki dan Indonesia menunjukkan tingkat kemanjuran suntikan Sinovac antara 91 persen dan 65 persen. Persentase ini sudah di atas ambang batas WHO, yang 50 persen.

Vaksin produksi negara-negara Barat, seperti yang dibuat oleh BioNTech/Pfizer dan Moderna memiliki tingkat efikasi sekitar 90 persen atau lebih tinggi, sedangkan AstraZeneca Inggris diperkirakan sekitar 76 persen.

Sejauh ini, CoronaVac Sinovac hanya diizinkan sepenuhnya untuk digunakan oleh Tiongkok. Namun, Beijing juga menawarkan vaksin produksinya ke seluruh dunia dan telah mengirimkan jutaan dosis ke sejumlah negara.

Di Asia, peminat terbesar adalah Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Pakistan. Di Amerika, diminati Brasil, Meksiko, Chile, Kolumbia, dan Ekuador juga telah memesan jutaan dosis. Di Eropa, Turki dan Ukraina telah menandatangani kontrak besar untuk CoronaVac.

Vaksin tersebut dianggap sangat penting bagi negara-negara Afrika yang mana sejauh ini Zimbabwe, Somalia, Djibouti, Benin, dan Tunisia telah menerima vaksin dari Tiongkok.

Keunggulan Vaksin COVID-19 buatan Tiongkok

Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 Sinovac ke seorang guru saat vaksinasi massal di Gedung Pemerintah Kota Tangerang, Banten, Kamis (25/2/2021). Sebanyak 6.000 petugas pelayanan publik dan guru di Kota Tangerang menjalani vaksinasi COVID-19. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 Sinovac ke seorang guru saat vaksinasi massal di Gedung Pemerintah Kota Tangerang, Banten, Kamis (25/2/2021). Sebanyak 6.000 petugas pelayanan publik dan guru di Kota Tangerang menjalani vaksinasi COVID-19. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Vaksin COVID-19 buatan Tiongkok berbeda secara signifikan dari beberapa vaksin lain, terutama yang dikembangkan oleh Pfizer dan Moderna.

Seperti halnya vaksin Sinovac yang dikembangkan dalam bentuk vaksin yang tidak aktif (inactivated vaccine). Artinya, menggunakan partikel virus yang dimatikan untuk merespons sistem kekebalan terhadap virus.

Sebagai perbandingan, vaksin BioNtech/Pfizer dan Moderna termasuk kategori vaksin mRNA. Ini berarti vaksin dikembangkan bagian dari kode genetik virus Corona disuntikkan ke dalam tubuh, yang merangsang sistem kekebalan untuk merespons.

Lain juga dengan vaksin AstraZeneca Inggris adalah jenis vaksin lain dimodifikasi mengandung materi genetik yang dimiliki oleh virus Corona. Setelah disuntikkan, vaksin merespons sistem kekebalan bagaimana melawan virus yang sebenarnya.

Satu keunggulan signifikan dari vaksin Tiongkok, yakni mampu disimpan di lemari es standar pada suhu 2-8 derajat Celsius. Vaksin Moderna perlu disimpan pada suhu -20 derajat Celsius dan vaksin Pfizer pada -70 derajat Celsius. Vaksin AstraZeneca juga dapat disimpan pada suhu lemari es normal, 2-8 derajat Celsius.

Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca

Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Perbandingan Vaksin Covid-19 Sinovac dengan AstraZeneca. (Liputan6.com/Trieyasni)

Saksikan Video Menarik Berikut Ini: