Tips Investasi Saham: Mengenal Sunk Cost Fallacy Beserta Baik dan Buruknya

Merdeka.com - Merdeka.com - Dalam ilmu akuntansi, istilah sunk cost merujuk pada biaya hangus atau biaya yang terjadi di masa lalu dan tidak dapat diubah sekarang maupun di masa mendatang. Berangkat dari istilah tersebut, pada akhirnya muncul fenomena sunk cost fallacy.

Sunk cost fallacy merujuk pada kekeliruan sikap terhadap biaya hangus. Dalam investasi sendiri, sering kali ditemukan beberapa orang yang tetap memilih setia pada suatu saham meskipun saham tersebut trennya sedang turun.

Beberapa orang tersebut memilih untuk tetap berinvestasi karena mereka sudah terlanjur banyak mengeluarkan uang dan merasa sayang untuk meninggalkan saham tersebut. Pemikiran itu lah yang disebut sebagai sunk cost fallacy.

Perencana keuangan finansialku, Gembong Suwito, CFP®, QWP menggambarkan fenomena sunk cost fallacy dengan istilah 'kebucinan' atau rasa sayang berlebih. "Sebenarnya ini sudah turun saham-sahamnya, tapi karena sudah sayang banget terus ditambah. Ya bucin lah bahasa cinta nya ya. Sudah bucin jadi apapun keadaanya ya tetap ditambah," ujarnya di Jakarta, ditulis Rabu (11/5).

Baik atau Buruk?

buruk
buruk.jpg

Perihal baik dan buruk, Gembong menyampaikan bahwa hal tersebut bergantung pada tipe pemain saham. Menurutnya ada dua tipikal orang dalam bermain saham, yaitu sebagai investor dan trader.

Mari ambil contoh dari saham yang bergerak pada bidang consumer goods atau barang konsumsi sehari-hari. Kondisi pandemi menyebabkan saham perusahaan yang bergerak pada bidang ini menurun, seperti yang terjadi pada Unilever.

Orang dengan tipe investor akan melihat ini sebagai sebuah kesempatan karena harga di pasar bisa dikatakan murah. Dengan membeli di harga yang murah ke depannya jika harga naik mereka akan menjualnya.

Sedangkan bagi orang dengan tipe trader, tren turun mungkin akan memengaruhi mereka. Hal ini disebabkan karena mereka butuh keuntungan yang instan dan dalam waktu yang singkat, biasanya mingguan atau bulanan.

"Kalau dia memahami apa yang dia beli, maka istilah itu baik. Tapi kalau misalkan sebagai trader dan tidak punya rencana, maka sunk cost fallacy ini menjadi buruk," tegas Gembong.

Cara Agar Tidak Terjebak pada Sunk Cost Fallacy?

tidak terjebak pada sunk cost fallacy
tidak terjebak pada sunk cost fallacy.jpg

Gembong menyampaikan dua cara yang bisa dilakukan agar tidak terjebak dalam sunk cost fallacy saat berinvestasi. "Jadi, sebelum masuk ke sunk cost fallacy maka perlu adanya rencana investasi. Yang kedua melakukan diversifikasi ke beberapa sektor."

Perencanaan investasi menjadi penting sebelum akhirnya mantap memutuskan untuk investasi. Sebagai investor tentu harapannya adalah tren saham naik dan memberi profit.

Namun terkadang hal tersebut tidak selalu terjadi di lapangan, sehingga perlu rencana lain yang harus dilakukan. Bagi investor yang tidak memiliki rencana pasti akan kesulitan untuk menerima kerugian yang terjadi.

Selanjutnya, untuk melakukan diversifikasi, Gembong menyarankan untuk melakukan diversifikasi minimal ke tiga saham dengan sektor yang berbeda. Hal ini dilakukan agar menyelamatkan keuangan ketika di satu sektor terjadi kerugian.

Perencana keuangan Finansialku ini juga menegaskan bahwa cara-cara yang telah disebutkan sebelumnya harus disesuaikan dengan keadaan keuangan investor. Karena kondisi keuangan setiap orang pasti berbeda-beda.

"Intinya kalau di saham informasinya itu seperti obat dalam kesehatan. Betul-betul kustom dan harus butuh dokter untuk menjelaskan kadarnya, dosisnya, dan jenis obatnya itu berbeda tiap orang."

[bim]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel