Tips Makan Gorengan yang Sehat Menurut Ahli Gizi

Donny Adhiyasa, Isra Berlian
·Bacaan 3 menit

VIVA – Makanan dengan teknik digoreng seperti ayam goreng, ikan goreng, hingga aneka gorengan sulit lepas dari masyarakat tanah air. Hal ini lantaran selain aromanya yang menggugah selera, tekstur crunchy dan rasa yang gurih membuat olahan makanan dengan teknik digoreng begitu menggugah selera.

Namun, jika mengonsumsinya terlalu berlebihan juga berdampak pada kesehatan.

Sebut saja meningkatnya risiko penyakit jantung, kanker, diabetes dan obesitas karena makanan yang digoreng dimasak dalam minyak pada suhu yang tinggi. Sehingga makanan yang diolah dengan cara digoreng cenderung mengandung lemak trans.

Ahli Gizi, dr. Maya Surdjaja, M.Gizi menyebut bahwa masyarakat masih bisa menikmati makanan dengan cara digoreng namun tetap sehat. Lantas seperti apa caranya?

Salah satunya adalah dengan memerhatikan jenis minyak yang digunakan. Maya menjelaskan ada baiknya menggunakan minyak yang stabil dan tidak mudah teroksidasi. Sebab ketika minyak mengalami oksidasi, minyak dapat membentuk radikal bebas dan senyawa berbahaya yang tentu saja tidak baik dikonsumsi.

Faktor terpenting dalam menentukan ketahanan minyak terhadap oksidasi baik pada panas dan tinggi maupun rendah adalah tingkat kejenuhan relatif dari asam lemak di dalamnya. Lemak jenuh dan lemaktidak jenuh tinggal cukup tahan terhadap pemanasan, tetapi minyak yang tinggi lemak tak jenuh ganda harus dihindari dalam memasak.

"Minyak harus stabill, ikatanya kalau bisa full, contohnya minyak kepala, minyak jenis ini tidak terjadi trans fat," kata Maya dalam virtual conference Peluncuran Sasa Tepung Berbumbu Bervitamin Terbaru, Rabu 26 Januari 2021.

Selain itu juga dalam memasak dengan teknik digoreng, gunakan minyak yang memiliki titik asap yang memadai. Titik asap mengacu pada suhu ketika minyak mulai terbakar dan berasap.

Titik asap yang tinggi berarti dapat dipanaskan hingga suhu yang relatif tinggi sebelum mulai mengeluarkan asap. Jika memasak, dengan minyak yang dipanaskan melewati titik asapnya akan membuat makanan menjadi gosong bahkan memicu kebakaran pada minyak.

Minyak kelapa sawit sendiri memiliki titik asap sekitar 232 derajat celcius. Titik asap tersebut membuatnya tepat dijadikan untuk deep frying.

"Minyak kelapa cukup oke stabil setelah 8 jam deep fried di suhu 100 derajat qualitynya masih bagus, dan rasanya enggak jadi rusak," kata dia.

Selain itu juga tidak boleh menggunakan minyak untuk menggoreng secara berulang. Sebab jika dipakai berulang kali, minyak goreng tersebut akan kehilangan susunan lemak tidak jenuhnya dan bisa berubah menjadi lemak jenuh atau radikal bebas yang berbahaya bagi kesehatan.

"Deep fry boleh tapi jangan terlalu lama gorengnya," kata dia. Selain minyak, penggunaan tepung juga menjadi perhatian masyarakat.

Mengingat makanan bertepung yang digoreng seperti tempe atau ayam begitu digemari. Namun tidak sedikit yang menghindarinya lantaran dirasa prosesnya telah menghilangkan nutrisi baik bagi tubuh.

Melihat hal tersebut, PT Sasa Inti meluncurkan Sasa Tepung Bumbu bervitamin berlabel ‘Sasa Platinum Care+’ yang terfortifikasi dengan kandungan zat besi, zink, vitamin B2 dan B9, serta serat pangan, untuk penuhi nutrisi dan berikan manfaat kesehatan lebih lengkap.”

Head of R&D PT Sasa Inti, Susi Purnama, menjelaskan lebih detail mengenai proses fortifikasi pada tepung ini merupakan sebuah inovasi yang memberikan hasil hidangan gorengan tetap bernutrisi, dengan kandungan gizi tidak hilang ketika melalui proses penggorengan.

“Bagi sebagian orang, hidangan gorengan merupakan menu yang kerap dihindari karena dirasa prosesnya telah menghilangkan nutrisi baik bagi tubuh. Situasi ini kemudian coba kami perbaiki agar masyarakat tetap dapat menikmati makanan favorit namun juga tetap mendapat nutrisi baik,” kata dia.

Produk terbaru ini pun diketahui telah mendapatkan sertifikasi dari BPOM. Sehingga masyarakat Indonesia tetap dapat menikmati makanan gorengan kesukaan mereka, sekaligus mendapat kelengkapan gizi yang bermanfaat untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh, di samping manfaat lainnya.