Tips Mengatasi Trauma Masa Kecil agar Menjadi Pribadi yang Lebih Percaya Diri

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Menjadi dewasa bukanlah hal yang mudah. Banyak hal yang perlu dicoba dan juga masih banyak hal yang tidak kita sadari harus kita improve untuk meningkatkan value dari diri kita sendiri.

Terkadang, hal-hal yang kita alami sekarang adalah hasil pembentukan diri kita di masa lalu, yang tak selalu indah dan mungkin membuat kita trauma. Trauma masa kecil inilah yang memengaruhi kepercayaan diri kita dan juga bagaimana cara kita berperilaku.

TERKAIT: Bagaimana Cara Menghadapi Kenangan Buruk? Ini Jawaban Seorang Terapis

TERKAIT: 5 Cara Mudah Menghilangkan Trauma dalam Percintaan yang Bisa Dicoba

TERKAIT: Mewarnai Dapat Menjadi Terapi Kegembiraan Pulihkan Kasus Trauma

Bagi kamu yang pernah menonton serial drama korea “It’s Okay to Not Be Okay” mungkin sudah familiar dengan karakter bernama Ko Moon Young yang memiliki masalah pada dirinya sendiri karena trauma masa kecil yang ia alami. Dalam psikologis, hal ini disebut dengan istilah “wounded inner-child”.

“Ko Moon Young punya masa kecil yang traumatis, yang membuat dia menjadi pribadi yang sangat keras ketika dewasa. Dalam kehidupan nyata, banyak orang yang juga merasakan hal seperti Ko Moon Young, tetapi tidak tahu bagaimana cara overcome-nya,” ujar Psikolog Saskhya Aulia Prima, menjelaskan fenomena trauma masa kecil atau wounded inner child, dalam webinar yang diselenggarakan oleh iStyle.id, Jumat (29/10).

Dalam webinar bertajuk “Overcome Inner Fear Like Ko Moon Young in K-Drama ‘It’s Okay to Not Be Okay’”, Saskhya mengupas tuntas isu tentang trauma masa kecil dan bagaimana cara kita mengatasinya agar bisa menjadi pribadi yang lebih percaya diri. Berikut ulasan selengkapnya.

Penyebab Trauma Masa Kecil

Ilustrasi Trauma Masa Kecil Credit: pexels.com/Jonas
Ilustrasi Trauma Masa Kecil Credit: pexels.com/Jonas

Setiap orang pasti memiliki inner-child-nya masing-masing. Namun, bagaimana cara orang untuk menyikapi inner-child tersebut pasti berbeda-beda.

Hal ini lantaran tidak semua orang memiliki inner-child yang terluka. Hanya orang-orang yang memang memiliki pengalaman-pengalaman traumatis selama kecil yang memilikinya.

Inner child biasanya keluar di situasi-situasi ketika seseorang berelasi dengan orang lain setiap harinya. Biasanya mempengaruhi cara kita berpikir, merasakan sesuatu, bahkan mempengaruhi hubungan kita dengan orang lain juga,” tutur Saskhya.

Saskhya mengungkapkan, penyebab utama terjadinya trauma masa kecil biasanya dipengaruhi karena relasi dari orang-orang terdekat, khususnya keluarga dan orangtua.

“Mungkin orangtua nggak sadar kalau mereka pernah membuat anaknya trauma ketika membesarkan anaknya. Belum lagi, perbedaan generasi antara orangtua dan kita juga memengaruhi cara mereka mendidik kita. Jadi, ya, mereka belum tahu bahwa perilaku-perilaku tertentu secara tidak langsung akan membuat si anak trauma,” tambahnya.

Trauma Memengaruhi Rasa Percaya Diri

Ilustrasi trauma memengaruhi rasa percaya diri/Credit: pexels.com/Liza
Ilustrasi trauma memengaruhi rasa percaya diri/Credit: pexels.com/Liza

Adanya rasa takut yang dialami seseorang karena trauma masa kecil sangat bisa memengaruhi kepercayaan dirinya. Dalam banyak kasus, biasanya orangtua yang sering menuntut atau membanding-bandingkan anak akan membuat anaknya tumbuh menjadi pribadi yang penakut.

Inner-child mungkin banget memengaruhi rasa percaya diri kita. Mungkin banyak orangtua yang menganggap bahwa dengan membandingkan anaknya dengan orang lain akan memotivasi sang anak untuk bisa menjadi lebih baik. Padahal justru sebaliknya,” tutur Saskhya menjelaskan problematika yang seringkali membuat seorang anak memiliki trauma.

Ia menjelaskan, generasi yang paling banyak mengalami kejadian tersebut adalah anak-anak yang memiliki orangtua dengan perbedaan generasi yang sangat jauh, sehingga mereka belum paham bagaimana cara membesarkan anak dengan metode-metode pola asuh yang sudah sesuai dengan penelitian yang banyak dilakukan di era sekarang.

“Ironisnya, kita tidak bisa mengubah mereka. Jadi, yang bisa kita lakukan sekarang adalah menerima mereka apa adanya. Memang mereka lah yang membuat kita trauma, tapi kita tak bisa menuntut mereka minta maaf sama kita, makanya ada istilah 'it’s okay to not be okay',” ujarnya.

Cara Mengatasinya

Ilustrasi Konseling dengan Psikolog untuk mengatasi trauma masa kecil/Credit: pexels.com/cottonbro
Ilustrasi Konseling dengan Psikolog untuk mengatasi trauma masa kecil/Credit: pexels.com/cottonbro

Dalam hal ini, ia memberikan beberapa tips untuk bisa mengatasi trauma masa kecil agar bisa menjadi pribadi yang lebih percaya diri.

1. Sadari dan akui apa hal yang membuat kita trauma

Langkah awal yang harus kita lakukan adalah menyadari hal-hal apa saja yang membuat dirimu merasa trauma ataupun hal yang membuat dirimu tidak percaya diri. Dengan mengakui apa yang kamu rasakan, maka kamu akan tahu apa yang harus kamu tingkatkan dari dirimu sendiri.

2. Self-compassion

Saskhya mengungkapkan, banyak orang yang berperilaku sangat baik dengan orang lain hingga terus-terusan memberikan afirmasi positif kepada orang lain, tetapi lupa bahwa dirinya sendiri belum diberikan afirmasi positif. Bukan egois, namun berterima kasih dan mengapresiasi diri sendiri sangat penting untuk bisa menyembuhkanmu dari trauma masa kecil yang membuatmu selalu takut.

3. Be present

“Kita seringkali overthinking dengan apa yang sudah terjadi di masa lalu, atau bahkan hal-hal yang belum terjadi. Tinggalkan semua pikiran itu. Be present adalah salah satu hal yang paling penting untuk bisa melupakan dan mengatasi wounded inner-child kamu,” jelas Saskhya.

4. Me-time

Melakukan semua hal dengan penuh kesadaran dan perhatian adalah salah satu hal yang bisa membuatmu lebih enjoy dalam menikmati hidup. Tidak apa-apa jika belum bisa membahagiakan orang lain, dan bukanlah hal yang egois jika kamu memikirkan dirimu sendiri. Jadi, lakukanlah me-time.

5. Cari bantuan profesional

Jika kamu sudah melakukan keempat cara di atas namun belum juga merasa lebih baik, tidak ada salahnya untuk mencari bantuan profesional, karena penanganan dan proses healing dari setiap orang itu berbeda-beda.

“Sebelum kita punya relasi yang baik sama orang lain, kita harus punya relasi yang baik sama diri kita sendiri. Jadi, heal yourself first, baru kamu mampu menghadapi semuanya secara present dan lebih mindful,” tutupnya.

Penulis: Chrisstella Efivania

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel