Titiek Puspa dan 5 Kisah Pahit dalam Perjalanan Hidupnya

Liputan6.com, Jakarta Titiek Puspa merupakan diva legendaris yang sangat dikagumi di Indonesia. Ia berhasil merintis karier sejak nol hingga bisa tenar seperti sekarang.

Walau sudah berada di puncak karier sejak lama, tidak berarti kehidupan Titiek Puspa selalu berjalan mulus. Sebagai seorang manusia, Titiek Puspa juga mengalami naik turunnya roda kehidupan.

Sudah berada di puncak karier, membuat Titiek Puspa banyak menghadapi cobaan hidup. Sebagai seorang seniman, Titiek Puspa tidak memiliki penghasilan yang tetap. Ia masih mengalami kesulitan finansial walau sudah menjadi bintang terkenal.

Titiek Puspa berusaha ikhlas dan pasrah dalam menghadapi setiap cobaan yang ada. Berikut adalah lima kisah pahit kehidupan Titiek Puspa yang diceritakan dalam buku berjudul Titiek Puspa: A Legendary Diva karya Alberthiene Endah.

 

1. Vakum Dua Tahun

(Bambang E.Ros/Fimela.com)

Pada 1980 sampai 1982, mendadak pita suara Titiek Puspa bermasalah. Dalam kurun waktu dua tahun tersebut, Titiek Puspa menolak semua tawaran menyanyi karena suara seraknya. Selama masa vakum, Titiek Puspa tidak menghasilkan pemasukan sama sekali.

Di tengah kondisi ekonomi yang menurun, Petty, anak pertamanya meminta restu untuk menikah dengan pria pilihannya. Tidak ingin merusak rencana indah anaknya, Titiek Puspa menjual emas simpanannya untuk menggelar pernikahan Petty.

 

2. Berobat ke Jepang

Titiek Puspa (Nurwahyunan/Fimela.com)

Titiek Puspa mendapatkan cobaan lagi di tengah kondisi ekonomi yang tidak baik. Kondisi Mus Mualim, suaminya, menurun karena sakit. Ia sudah tidak bisa berjalan karena tempurung lututnya terasa sakit bila digerakkan. Saat itu Titiek Puspa belum bisa melakukan tindakan yang optimal dalam pengobatan suaminya karena kondisi finansial yang memprihatinkan setelah dua tahun tidak manggung sama sekali.

Tak lama berselang, suara Titiek Puspa kian membaik. Titiek Puspa membuat lagu bersama Euis Darliah berjudul "Apanya Dong". Tak disangka lagu tersebut sangat melejit di pasaran. Royalti "Apanya Dong" yang tidak sedikit digunakan untuk membawa suaminya berobat ke Jepang.

 

3. Rumah Terbakar

(Bambang E.Ros/Fimela.com)

Setelah menjalani pengobatan selama satu setengah bulan di Jepang, Mus Mualim diperbolehkan untuk pulang. Titiek Puspa dan suami memutuskan untuk liburan sejenak di Singapura. Ternyata saat Titiek Puspa berada di Singapura, rumahnya hangus terbakar. Tidak ingin membuat Titik Puspa khawatir, anaknya hanya bilang bahwa bagian dapur saja yang terbakar.

Ketika sampai di Jakarta pun, Titiek Puspa dipaksa untuk tinggal di rumah anaknya. Penasaran, Titiek Puspa memberanikan diri ke rumahnya di Jalan Sukabumi, Menteng. Titiek Puspa terkejut ketika seluruh bagian rumahnya hangus terbakar. Uniknya, Titiek Puspa tidak merasa sedih. Ia merasa ringan karena Titiek Puspa berpasrah pada Tuhan.

 

4. Pandangan Miring

Titiek Puspa pernah disuruh membuat lagu untuk mantan Presiden RI, Soeharto. Dalam waktu singkat, Titiek Puspa menghasilkan lagu berjudul "Bapak Pembangunan". Ia terinspirasi ketika Soeharto menyumbang sejumlah beras bagi penduduk Ethiopia yang kelaparan. Mendiang Soeharto sangat menyukai lagu tersebut.

Setelah publikasi lagu "Bapak Pembangunan", sejumlah komentar-komentar miring dilontarkan pada Titiek Puspa. Beberapa masyarakat menilai bahwa Titiek Puspa cari muka dan berusaha mengambil hati keluarga Cendana. Ia tidak terlalu ambil pusing akan komentar miring itu. Baginya, membuat lagu itu berdasarkan nilai-nilai yang ia tangkap, sama seperti lagu lain ciptaannya.

 

5. Kepergian Suami

Pada paruh kedua dekade 80-an, penyakit Mus Mualim kembali parah. Penyakit ginjal yang diidapnya semakin kronik. Pada 1989, suaminya meminta Titiek Puspa agar tidak menerima tawaran menyanyi pada tahun baru. Namun ketika menjelang tahun baru, Titiek Puspa mendapatkan tawaran bernyanyi di Malang pada 29 Desember. Titiek Puspa menerima tawaran tersebut karena harus membeli obat suaminya yang cukup mahal.

Titiek Puspa sampai Jakarta pada 31 Desember malam. Sepanjang malam, ia terus memeluk suaminya karena kondisinya yang kian menurun. Keesokan harinya, kondisi Mus Mualim masih sama. Pada pukul 13.00, Mus Mualim minta untuk diantar ke toilet. Setelah duduk di atas kloset, Mus Mualim mengembuskan nafas terakhir. Kepergian suaminya meninggalkan luka dalam bagi Titiek Puspa. Ia merasakan kehilangan yang amat besar.

(Maria Advensiani/Mgg)