Titik Terendah Bisa Menjadi Momen Paling Mendewasakan dalam Hidup

·Bacaan 8 menit

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

TERKAIT: Karena Sedekah, Keadaan Ekonomi Keluargaku Membaik setelah Terpuruk saat Pandemi

TERKAIT: Berkarier atau Berumah Tangga, Tiap Perempuan Bebas Memilih

TERKAIT: 7 Cara Bangkit setelah Keluar dari Lingkungan Kerja yang Tidak Sehat

***

Oleh: Felicia Michellin

Hi Fimela team! I hope you guys have a good day. First of all, nama saya Felicia Michellin, berprofesi sebagai copywriter di Jakarta. Di sini saya mau menceritakan tentang titik terendah dalam hidup saya saat remaja, momen saat saya berpikir akan gagal terus-menerus dan bagaimana saya melawan pikiran buruk tersebut.

Sejak lahir, saya tinggal di lingkungan yang tidak begitu memadai namun tidak terlalu parah, kami sekeluarga masih punya atap untuk berlindung dan sandang yang layak pakai, pun tidak kelaparan. Papa bekerja sebagai karyawan dan mama sebagai ibu rumah tangga, terkadang merangkap menjadi tukang jamu keliling.

Beranjak SD saya mulai senang membaca atau lebih tepatnya berimajinasi dengan dunia dalam buku-buku yang dimiliki oleh teman sekelas saya, namun mama selalu menunda untuk membelikan buku karena menganggap anak seusia saya bagusnya bermain dengan boneka barbie saja dan cukup membaca buku sekolah.

Karena pemikiran mama saat itu, saya tumbuh menjadi anak yang tidak terlalu suka membaca, kekuatan imajinasi saya terkikis di makan waktu. Tahu sendiri kan kalau buku sekolah tidak begitu menarik kala itu?

Pengalaman di Bangku Sekolah

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Opat+Suvi
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Opat+Suvi

Felicia kecil mengidamkan buku dengan warna-warni lucu khas Disney dengan gaya ilustrasi yang menggemaskan, penampilan di luar nalar sehingga merangsang imajinasi, bukan gambar hitam putih atau abu-abu yang karakternya saja tidak imut dan membosankan. Semua tokoh anak di buku itu mempunyai wajah dan warna rambut yang sama kecuali potongan rambutnya, perempuan pakai rok sedangkan laki-laki pakai celana. Namanya selalu Budi, Anton, Rina, Shinta.

Lompat ke masa saat memasuki masa puber, tahun 2011 saya mengikuti tes masuk ke salah satu SMK swasta ternama di Jakarta dan lulus. Hanya saja karena transisi dari SMP dekat rumah yang tidak terkenal ke sekolah dengan akreditasi A , saya kesulitan untuk beradaptasi untuk belajar juga bergaul.

Kalau kata teman-teman SMK saya dulu saya terlalu hemat, nggak asik atuhlah kalau hangout sama saya. Gaya hidup anak-anak di situ tuh setiap hari bisa nongkrong di starbucks atau mc cafe yang harga menunya saja setara uang jajan saya selama sehari termasuk ongkos pulang pergi saya ke sekolah. Kalaupun saya bisa menunggu beberapa hari dulu, saya malas pulang kesorean.

Saya harus pulang pergi naik bus Transjakarta lalu menyambung dengan angkot yang suka ngetem sana-sini, menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit untuk sampai rumah. Walaupun pulang kesorean itu karena saya belajar di perpustakaan.

Di era putih abu ini saya menemukan sebagian jati diri saya, yaitu anak perempuan yang terlahir dengan otak yang sebenarnya bisa lebih mudah menyerap pelajaran namun orang tua saya tidak pernah memotivasi saya untuk belajar, yang penting selalu naik kelas dan menyelesaikan sekolah tepat waktu.

Lingkungan tempat saya tinggal tidak mempunyai fasilitas yang memadai di rumah, seperti saat malam hari listrik sering konslet karena daya listrik yang rendah dan saudara saya yang menumpang tinggal di rumah ngotot untuk menonton TV di sore ke malam hari.

Papa saat itu berfokus membayar biaya pendidikan saya dan kakak saya sehingga untuk listrikpun harus hemat. Karena masih sekamar dengan orang tua juga saya harus tidur pada jam mereka tidur. Walaupun pindah ke ruang tamu tidak akan senyaman di kamar karena banyak nyamuk dan sempit.

Belum lagi dengan tidak adanya meja belajar dan tembok di rumah yang tidak kedap suara sehingga sulit berkonsentrasi di saat orang-orang di rumah berbisikpun kedengaran. Tahu nggak quote yang bilang kurang lebih begini, “Ketika kamu berhenti melihat sekeliling, kamu akan merasa tertampar kenyataan bahwa duniamu tidak seburuk yang kamu bayangkan.” Lucunya quote itu malah berkebalikan buat saya. Ketika saya dalam perjalanan pulang ke rumah, saya perlahan berpindah dari lingkungan mewah di sekolah saya ke lingkungan kumuh tempat saya bertumbuh.

Salah satu cobaan tersulit di hidup remaja saya adalah ketika sekolah menyatakan saya tidak dapat naik ke kelas tiga. Sepulang pengambilan rapot, saya dan keluarga memasuki mobil yang papa pinjam dari kantornya. Beliau berusaha tenang dan menghibur sedangkan saya melihat mama mengusap air matanya diam-diam.

Dalam perjalanan ke rumah saya menyalahi diri saya yang malas, genetik orang tua yang tidak pintar juga tidak rajin, rumah saya yang tidak bisa menjadi tempat yang nyaman untuk belajar dan istirahat, apa pun yang bisa saya salahkan. Masih dengan mental yang berantakan, keesokannya papa mama menemani saya berkeliling Jakarta utara-pusat ke beberapa SMK dengan jurusan yang sama dengan sekolah saya sebelumnya guna memindahkan saya untuk naik ke kelas tiga.

Di hari ini saya sadar bahwa orang tua saya sangat mementingkan nama baik keluarga mereka di depan keluarga besar, mereka selalu ingin membawa kabar baik tentang keluarga mereka dan menyembunyikan boroknya.

Sangat aib jika sampai ketahuan bahwa anak perempuan yang mereka banggakan bisa bersekolah di tempat yang bergengsi dan harus mengulang kelas. Sayangnya, tidak ada satu pun dari lima sekolah yang dikunjungi mau menerima saya tanpa saya harus kembali ke kelas dua.

Saat itu saya sudah pasrah namun tidak dipungkiri bahwa saya masih sedikit menyalahkan diri saya saat itu, orang tua, bahkan Tuhan di dalam lubuk hati saya yang terdalam. Saya melihat anak-anak lain yang dikarunai otak encer, orang tua yang mementingkan pendidikan sehingga bisa menyediakan fasilitas untuk mendukung anak mereka.

Kalau sekarang istilah kerennya tuh privilege, right? Saya berpikir seharusnya orang tua saya memberi contoh bahwa dalam hidup, kita harus menjadi pribadi yang ulet untuk bersaing di masyarakat. Saya merasa tumbuh menjadi pribadi yang malas belajar karena orang tua saya lepas tangan, padahal memang di umur 16 tahun saya sudah tahu mana yang baik dan buruk yang harus dilakukan.

Keesokannya orang tua saya di telepon oleh kepala sekolah dari salah satu SMK yang saya kunjungi kemarin dan memanggil saya untuk datang ke sekolah itu. Saya langsung mengalami mixed feeling yang didominasi oleh rasa bingung dan takut, takut bahwa saya akan ditegur dan diceramahi karena tidak mau menerima saya tidak naik kelas.

Beberapa saat kemudian salah satu guru saya Bernama pak Joseph menghubungi saya dan berkata bahwa beliau dan satu rekan guru lagi Bernama pak Slamet membujuk kepala sekolah di sekolah itu agar menerima saya untuk naik ke kelas 3.

Dua guru itu pernah mengajar cukup lama di SMK tersebut dan alasan mereka bersepakat membantu saya adalah mereka menganggap walaupun saya anak yang tidak pintar, saya bersikap baik dan jujur. Setelah berdiskusi dengan suster kepala sekolah tersebut, saya resmi pindah ke sekolah itu dengan status kelas tiga.

Saya sangat bersyukur walaupun point of view saya terhadap hidup buruk dan insecure, saya berusaha tidak melakukan hal yang macam-macam, I mean saya sudah bodoh terus kalau nakal maka akan makin hancur, pikir saya saat itu. Dan ternyata mempunyai koneksi yang benar dan sikap ramah dalam berteman benar-benar membantu kehidupan saya.

Proses Bertumbuh

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/BaanditStudio
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/BaanditStudio

Mujizat ini adalah awal tumbuhnya motivasi untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tidak ingin menyia-nyiakan bantuan dari kedua guru saya yang mengorbankan waktu dan tenaga mereka untuk membantu, berusaha untuk tidak menyalahkan orang tua dan lingkungan lagi karena mereka sudah berusaha menjadi mentor yang baik dan menyediakan fasilitas yang sesuai kemampuan mereka, berusaha yang terbaik untuk anaknya walaupun tidak sempurna.

Tidak seperti di film-film superhero, berubah tidak semudah itu, saya masih harus berjuang untuk membangun rasa percaya diri dan berusaha lebih keras melatih skill saya, mendorong diri saya untuk cepat mandiri secara finansial. We are not a tree yang tidak bisa bergerak jika badai menghantam, kita bisa mengontrol reaksi dan aksi kita terhadap badai kehidupan, mempersiapkan senjata sebelum berperang. Jangan lupa juga berserah kepada Tuhan dan selalu mengandalkannya dalam hidup kita.

Alasan saya menceritakan kisah ini adalah karena belum banyak wanita yang sadar bahwa penting untuk menjadi pintar, merencanakan dan berhati-hati dalam mengambil jalan hidupmu. Sebelum memutuskan untuk berkeluarga, carilah calon suami yang pintar dan mapan, bukan matre tapi demi anak kita kelak akan mempunyai orang tua yang bisa membesarkan seorang atau beberapa manusia yang tidak minder menghadapi kehidupan yang keras. Siapkan mental untuk mendidik dan merawat, materi yang cukup dan tidak perlu berlebihan asal bisa menciptakan lingkungan yang baik untuk sang anak bertumbuh.

Jangan sampai kurang maksimal dalam mendidik hanya karena belum bisa mencari uang dan kurangnya wawasan yang luas, apalagi jika tidak punya taste dan tidak tahu caranya berinvestasi. Jangan melahirkan si anak jika belum siap, tidak apa-apa menunda sebentar. Peduli amat dengan komentar orang tua yang meminta cucu, teman-teman seumuran yang sudah hamil duluan, standar masyarakat yang bilang kalau mau jadi Ibu jangan ketuaan. Ini hidupmu bukan milik mereka.

Kejar mimpimu, puasin jalan-jalan dan cari pengalaman, petualangan yang seru, dan jangan lupa banyak baca buku agar punya wawasan dan berpikiran terbuka, mau beradaptasi dengan perubahan supaya anak kalian kelak tidak berada di posisi sandwich generation dan tidak membenci orang tuanya karena menempatkannya dalam kehidupan yang kurang beruntung.

Oh ya, sekarang saya sudah menggapai beberapa mimpi saya yang saya pikir tidak akan tergapai. Walaupun masih banyak yang harus dikerjakan, tapi langkah saya sudah jauh dari diri saya yang dulu, dan saya mencintai hidup saya. Walaupun harus mengulang masa-masa kelam itu, saya tidak keberatan karena momen itu yang membuat saya menjadi pribadi saya sekarang, yang tidak akan diam saja ketika masalah datang karena Tuhan ada di sisi saya dan saya percaya diri bisa melewatinya. Sekian, terima kasih.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel