TKI Muda Diperkosa, Tua Bak Kerja Paksa

TRIBUNNEWS.COM - Tanpa menafikkan cerita bahagia ribuan Tenaga Kerja Indonesia yang sukses kala merantau sebagai pekerja di Arba Saudi, kisah miris nan mengenaskan jutaan TKI lainnya di Arab seolah tak pernah putus bersambung. Paling tidak, buramnya nasib tertuang jelas dari sejumlah cerita sejumlah TKI yang ditemui di rumah pondokan Migrant Care di Jakarta Timur.

Kisah Imas Tati misalnya. Wanita muda berusia 22 tahun pernah beberapa tahun merantau di tanah Arab. Bagai budak, banyak warga Arab memperlakukan TKI sebagai pelampiasan animal instict mereka.

"Mereka memuaskan nafsu seks dan nafsu membunuhnya pada kami," ungkap tenaga kerja wanita (TKW) Imas Tati (22).

Dua tahun lalu perempuan asal Majalengka ini bekerja di Kuwait. Di sana dia beberapa kali lolos dari pemerkosaan majikan dan para ponakannya. Terakhir, ia berusaha lolos dari pemerkosaan dengan turun dan jatuh dari lantai tiga apartemen majikannya.

Tulang punggung bagian tengah remuk, kedua tulang sendi telapak kaki patah. Nasib serupa dialami rekannya, Dewiyanti asal Brebes, dan Muslimah asal Tegal Gubuk, Indramayu, Jawa Tengah.

Imas mengatakan, di Arab Saudi, para pembantu perempuan Indonesia diperlakukan sebagai budak.

"Dianiaya dan diperkosa berulang kali oleh majikan dan keluarganya, dijual dan diperas agen-agen penyalur pembantu rumah tangga. Itulah pengalaman saya dan sebagian besar kawan-kawan satu pekerjaan di Arab Saudi," papar Imas.

Rosnani (48), TKW yang duduk di samping Imas, membenarkan. Soal pekerjaan misalnya, Rosnani menuturkan bak bekerja paksa tanpa waktu istirahat yang cukup, itu pun harus dibayang-bayangi kecemasan akan sulitnya 'menagih' gaji ke majikan.

 "Kalau sudah tua seperti saya, orang-orang itu engga doyan. Sebagai gantinya, saya diperas bekerja 22 jam setiap hari tanpa libur. Dipukuli, disekap, diludahi, dilempar ke comberan. Saya tidak tahan, akhirnya kabur pulang ke Indonesia dengan uang sendiri. Lolos dari agen juga sudah mujur," tuturnya.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.