TNI AL Kandangkan Tujuh Pesawat Bonanza G-36 usai Insiden di Selat Madura

Merdeka.com - Merdeka.com - TNI AL mengandangkan pesawat latih jenis G-36 Bonanza T-2503 usai insiden di Selat Madura, Rabu (7/9). Ada tujuh pesawat Bonanza G-36 dibekukan sementara waktu hingga penyelidikan TNI AL terkait penyebab kecelakaan burung besi tersebut rampung.

"Kita punya tujuh. Saya sampaikan untuk jenis pesawat Bonanza G-36 kita grounded dulu untuk kepentingan investigasi," kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono dalam konferensi pers di Mabes AL, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (8/9).

Yudo mengatakan akan mengomunikasikan dengan Komandan Pusat Penerbangan Angkatan Laut terkait investigasi penyebab pesawat Bonanza G-36 jatuh dilakukan internal atau menggandeng pihak luar. Namun yang terpenting menurut Yudo, investigasi dapat mengetahui penyebab kecelakaan pesawat buatan Amerika Serikat tersebut.

"Ya tentunya kita akan evaluasi supaya tidak terjadi lagi karena mengingat pesawat itu baru selesai pemeliharaan berkala 22 Agustus lalu. Jam terbangnya masih banyak, 190 jam terbang sehingga sebenarnya baru melaksanakan pemeliharaan berkala," kata Yudo.

Yudo menjelaskan dengan dibekukan sementara pesawat Bonanza G-36 maka seluruh kegiatan TNI AL seperti upacara demo udara dihentikan. Namun Yudo memastikan pesawat Bonanza G-36 kembali mengudara ketika digunakan seperti kegiatan operasi.

"Jadi ini kan bukan kepentingan operasi sehingga kalau hanya demo bisa kita tunda dulu, kita hentikan dulu supaya kita tidak demo dulu. Kecuali akan digunakan untuk operasi yang sangat-sangat urgen baru kita laksanakan," kata Yudo.

Pilot dan Kopilot Ditemukan Meninggal

Tim SAR TNI AL sebelumnya menuntaskan evakuasi pilot dan kopilot maupun badan pesawat latih jenis G-36 Bonanza T-2503, jatuh di Selat Madura, pada Rabu (7/9) kemarin. Dua awak pesawat terdiri dari pilot dan kopilot ditemukan meninggal dunia.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono mengatakan, Tim SAR baru bisa mengevakuasi pilot dan kopilot lantaran terkendala posisi badan pesawat. Menurut Yudo, Tim SAR terkendala mengevakuasi awak karena posisi badan pesawat terbalik.

"Jenazah dua duanya masih duduk di kursi dan masih terikat selfbelt sehingga masih sulit diangkat. Tadi pagi baru diangkat semuanya, dua personel pilot dan kopilot," kata Yudo dalam konferensi pers di Mabes AL, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (8/9).

Selain berhasil mengevakuasi jenazah pilot dan kopilot, Tim SAR juga berhasil mengangkat badan pesawat buatan Amerika Serikat tersebut. Pesawat itu diangkat menggunakan kapal perang KRI Soputan.

"Bangkai pesawat juga sudah diangkat KRI Soputan karena kita kan punya alat untuk KRI yang bisa mengangkat. Beratnya pesawat kan ringan, itu kalau pesawat latih Bonanza ringan sehingga bisa diangkat semuanya," ujar dia.

Identitas Pilot dan Kopilot

Komandan Pusat Penerbangan TNI AL, Laksamana Muda TNI Dwika T Setiawan mengatakan, pesawat bertipe Bonanza dipiloti Judistira Eka Permady yang berpangkat Lettu Laut. Sedangkan untuk Co pilot bernama Dendy Kresna Bhakti yang berpangkat Letda Laut.

"Tercatat pesawat tersebut diterbangkan Lettu Laut Judistira Eka Permady dan Copil Letda Laut Dendy Kresna Bhakti," ungkap Dwika dalam keterangannya, Rabu (7/9).

Dwika mengatakan, TNI AL telah menerjunkan KRI dan tim Kopaska untuk menelusuri titik jatuhnya pesawat latih tersebut. Tim telah menemukan kerangka diduga milik pesawat Bonanza.

"Sar AL melibatkan beberapa KRI, heli untuk melaksanakan pencarian dan melibatkan tim Kopaska dipimpin oleh panglima koarmada II," ujar dia. [gil]