TNI AL: KRI Nanggala 402 Layak Operasi Sampai September 2022

Rifki Arsilan
·Bacaan 2 menit

VIVA – Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut kembali menegaskan bahwa kondisi kapal selam KRI Nanggala 402 yang telah dinyatakan Subsunk (tenggelam) di perairan utara Bali berada dalam kondisi yang sangat laik layar dan siap tempur.

Hal itu disampaika oleh Asisten Perencanaan dan Anggaran Kepala Staf Angkatan Laut (Asrena Kasal) Laksamana Muda TNI Mohammad Ali ketika menyampaikan keterangan resmi di Mabesal, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa, 27 April 2021.

"Perbaikan kapal tadi sudah disampaikan oleh Danseskoal pak Iwan, bahwa KRI Nanggala ini overhaul tahun 2011 sampai 2012 di Korea Selatan," kata Asrena Kasal Laksamana Muda TNI Mohammad Ali.

Setelah menjalanin overhaul di Korea Selatan tahun 2012 lalu, lanjut Laksda TNI Ali, kapal selam buatan Jerman tahun 1979 itu rutin menjalani perawatan di galangan kapal.

"Terakhir kali masuk galangan atau docking itu tahun 2020," ujarnya.

Perwira Tinggi TNI Angkatan Laut yang juga pernah mengawaki KRI Nanggala 402 itu menegaskan, kapal KRI Nanggala 402 dalam kondisi laik layar hingga September 2022 mendatang.

"Jadi dari sisi kelaikan, kapal ini dinyatakan laik sampai September 2022. Jadi KRI Nanggala dalam kondisi siap tempur ketika latihan kemarin," kata Laksda TNI Mohammad Ali.

Laksda TNI Mohammad Ali juga membantah anggapan miring sejumlah pengamat yang menyatakan bahwa KRI Nanggala 402 tenggelam karena kelebihan kapasitas. Menurut Ali, pendapat itu merupakan hal yang sangat keliru dan tidak berdasar.

Mantan Komandan kapal selam itu menjelaskan, KRI Nanggala 402 adalah kapal selam type 209-1300 yang biasa diawaki hingga 57 orang personel dalam setiap operasinya. Dan kapal selam KRI Nanggala 402 juga didesain sebagai kapal selam yang dilengkapi oleh delapan peluru torpedo yang masing-masing torpedo beratnya mencapai dua ton. Dan pada saat kapal selam KRI Nanggala melakukan latihan dan dinyatakan Submiss (hilang kontak) KRI Nanggala 402 hanya membawa tiga peluru torpedo saja.

"Berbagai operasi sudah kita lakukan, kita biasanya membawa 50 personel. Kalau kita dalam operasi penyusupan, kita itu membawa juga satu regu pasukan. Satu regu itu 7 orang pasukan, berarti 57 orang personel. Sedangkan pada saat kejadian KRI Nanggala tenggelam itu kita kita membawa 53 orang. Jadi orang yang menyampaikan bahwa KRI Nanggala itu kelebihan muatan itu sama sekali tidak berdasar," tutupnya.

Baca: Tangis Haru Brigjen TNI Fauzi Ketika Melihat Anak Letkol Laut Irfan