TNI AU Masih Punya Dua Jenis Pesawat Latih Uzur

TEMPO.CO, Bandung -Selain Fokker 27, TNI AU masih punya dua jenis pesawat latih yang sudah uzur. Pesawat itu jenis AS 202 Bravo dan T-34 Charlie. "Total jumlahnya sekitar 26 pesawat,” ujar mantan instruktur penerbang di Angkatan Udara, Kapten Nasrun Natsir, Sabtu, 23 Juni 2012.

Menurut Nasrun, kedua jenis pesawat latih tersebut usianya lebih dari 25 tahun. Meskipun masih layak terbang, namun kerusakan pesawat biasanya makin sering ditemukan. "Meskipun perawatannya bagus, kalau sudah tua seperti manusia kan ada saja sakitnya. Besi juga kan ada tingkat kelenturannya,” kata instruktur penerbang pesawat tempur sejak 1985-1996 di TNI AU ini.

Direktur Utama Bandung Pilot Academy itu menambahkan, kelaikan pesawat biasanya berdasarkan usia dan jam pemakaian. Di maskapai penerbangan Indonesia juga TNI AU biasanya masih berdasarkan jam pemakaian. ”Misalnya baru 100 jam terbang disebut masih baru, padahal usia pesawatnya sudah 20-30 tahun,” ujarnya.

Dengan kondisi seperti itu, kata Nasrun, TNI AU memang harus mengganti pesawat-pesawat tuanya. Soal terus terjadinya pesawat latih yang jatuh,  faktornya cukup banyak, tidak hanya usia pesawat. ”Kecelakaan bisa terjadi  karena mesin, cuaca, peralatan, manajemen terbang, atau burung masuk ke mesin bisa juga,” ucap dia.

Nasrun mengakui bahwa  penyelidikan mengenai penyebab pesawat latih TNI AU yang jatuh memang tertutup dan hasilnya juga tidak diumumkan ke publik. Hasil penyelidikan hanya dipakai untuk TNI AU sebagai kajian, evaluasi, dan pencegahan jatuhnya lagi pesawat latih.  Jika keluarga korban bertanya. ”Biasanya cukup disebutkan meninggal dalam tugas negara,” ujarnya.

Mengenai black box, menurut Nasrun, setiap pesawat militer atau pesawat negara tidak dipasangi kotak hitam. ”Kotak hitam itu kan sebenarnya hanya untuk kepentingan industri penerbangan bukan untuk investigasi,” ujarnya.

ANWAR SISWADI

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.