TNI: KKB Bocor Sobolin Bunuh Warga karena Wanita Tolak Dinikahi

Merdeka.com - Merdeka.com - Komandan Korem 172/PWY Brigjen TNI JO Sembiring memaparkan hasil penyelidikan pihaknya terhadap aksi kekerasan dan pembunuhan warga di Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo, dan Korowai, Kabupaten Boven Digoel. Aksi ini dilakukan kelompok yang dipimpin Bocor Sobolin.

"Kekerasan dengan membunuh masyarakat di daerah perbatasan antara Kabupaten Pegunungan Bintang dan Kabupaten Boven Digoel, kembali lagi terjadi. Di mana aksi tersebut dilakukan oleh KKB kelompok Bocor Sobolim," ujar Komandan Korem 172/PWY Brigjen TNI JO Sembiring, Senin (7/11) di Jayapura.

Menurut JO Sembiring, kekerasan yang dilakukan Bocor Sobolim merupakan perbuatan kriminal murni. "Jadi sebenarnya begini, kekerasan dengan pembunuh terhadap masyarakat yang belakangan ini terjadi, yang dilakukan oleh KKB kelompok Bocor Sobolim, berkaitan dengan seorang perempuan yang menolak untuk menjadi istri dari Bocor Sobolim, sehingga yang bersangkutan marah dan membunuh masyarakat di sekitar daerah itu," jelasnya.

Dia menambahkan, dari informasi yang didapat pihaknya, Bocor Sobolim ingin wanita itu sebagai istrinya. Namun ditolak, karena wanita itu sudah mempunyai suami.

"Sehingga dari situlah Bocor Sobolim kesal dan marah, kemudian mengancam warga-warga yang menjadi penambang di sana. Dan hal itu dibuktikan oleh Bocor Sobolim, dengan membunuh satu warga di Kabupaten Pegunungan Bintang," tutur JO Sembiring.

Warga Diimbau Tinggalkan Pertambangan Emas

JO Sembiring juga mengimbau para penambang emas untuk berhati-hati dan meninggalkan Korowai. Sebab, aparat keamanan belum mendirikan pos di kawasan itu.

"Apalagi mengingat jelang 1 Desember kita tahu ada momen-momen yang nanti sedianya dimanfaatkan oleh Kelompok Separatis Teroris (KST) bersenjata untuk melakukan aksi. Saya mengimbau untuk lebih hati-hati. Kalau memang bisa dihentikan sementara ya dihentikan kegiatannya," tutur JO Sembiring.

Dia mengakui masyarakat cukup banyak di kawasan itu. Sejumlah orang pun mengelola pertambangan emas. Dia mengingatkan warga untuk berhati-hati.

"Sekali lagi hati-hati kalau memang bisa dihentikan ya dihentikan sementara. Karena memang aparat TNI-Polri tidak ada di sana membangun pos," pungkasnya. [yan]