TNI Ungkap OPM Gunakan Isu Agama Adu Domba Aparat dan Masyarakat Papua

Rifki Arsilan
·Bacaan 2 menit

VIVA – Upaya Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polri dalam menindak tegas kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Bumi Cenderawasih, Papua sepertinya tidak dapat berjalan mulus.

Sebab, OPM diduga kuat telah memainkan propaganda dengan menggunakan isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan) untuk mengadu domba TNI dan Polri dengan masyarakat Papua.

Isu itu itu terungkap setelah TNI dan Polri berhasil melakukan operasi penggerebekan ke sebuah markas OPM dan telah menewaskan Rubinus Tigau di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Senin, 26 Oktober kemarin.

Rubinus Tigau disebut-sebut merupakan seorang tokoh agama di Kampung Jalai, Distrik Sugapa. Sehingga seolah-olah TNI dan Polri telah membunuh seorang tokoh agama Kristen di Sugapa dalam operasi penggerebekan markas OPM itu.

Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III, Kolonel Czi IGN Suriastawa langsung mengklarifikasi kabar bohong yang beredar tersebut. Menurut Kolonel Suriastawa, Rubinus Tigau bukanlah seorang tokoh agama.

Dalam operasi penindakan yang dilakukan pada Senin, 26 Oktober 2020 pagi itu, selain telah berhasil menewaskan Rubinus Tigau, TNI dan Polri juga telah berhasil mengamankan dua anggota OPM lainnya. Salah satu dari mereka yang ditahan mengaku sebagai adik dari Rubinus Tigau.

Kolonel Suriastawa menjelaskan, dalam pemeriksaan yang dilakukan oleh aparat keamanan, adik Rubinus Tigau telah mengakui bahwa Rubinus telah terlibat aktif dalam gerakan kelompok itu sejak satu tahun lalu.

Selain itu, lanjut Suriastawa, penggerebekan tempat persembunyian Rubinus Tigau itu dilakukan hasil dari pengembangan kasus penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok bersenjata yang diduga kelompok OPM terhadap rombongan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk oleh Menkopolhukam pada 9 Oktober 2020.

"Jadi, sasaran sudah diintai lama, selain didasarkan info akurat bahwa yang bersangkutan aktif dalam aksi KKSB. Hal ini juga diakui oleh pihak keluarga dan saksi lain," kata Kolonel Czi IGN Suriastawa dalam keterangan resminya, Selasa, 27 Oktober 2020.

Dia menambahkan, pasca kejadian di Hitadipa, ada kecenderungan korban dari pihak kelompok separatis itu selalu dikaitkan dengan tokoh agama. Dengan demikian dia berharap agar masyarakat Papua tidak terprovokasi dengan isu SARA yang sengaja diciptakan oleh kelompok separatis OPM untuk mengadu domba masyarakat dengan TNI dan Polri.

"Diluar kasus Hitadipa, terdapat 3 kasus yang oleh KKSB dikaitkan dengan tokoh agama. Termasuk tanggal 19 Oktober lalu, masifnya intimidasi dari KKSB untuk mengibarkan bendera bintang kejora sambil berkumpul di rumah-rumah ibadah. Hal ini sangat disayangkan karena membawa-bawa sentimen agama untuk kepentingan aksinya," ungkapnya.

Lebih jauh lagi Kapen Kogabwilhan III menegaskan, TNI dan Polri sangat menghormati tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat di mana pun, termasuk di Papua. Dia pastikan tidak mungkin aparat keamanan TNI dan Polri berseberangan dengan para tokoh-tokoh masyarakat dalam menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

"Tidak ada keuntungan berseberangan dengan tokoh-tokoh ini, apalagi membunuhnya. Justru TNI/Polri sangat membutuhkan kerjasama para tokoh ini karena dengan pengaruhnya yang sangat besar kepada masyarakat, dan seharusnya dapat menjadi contoh tauladan dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam kepatuhannya pada hukum Indonesia," katanya.

Baca juga : OPM Tewas Disergap TNI di Intan Jaya Papua