Tokoh Dayak Ceritakan Reaksi Warga Gelar Ritual Potong Babi Imbas Ucapan Edy Mulyadi

Merdeka.com - Merdeka.com - Reaksi kemarahan Kalimantan, khususnya dari Suku Dayak terluapkan usai mendengar ucapan Edy Mulyadi terkait kritik Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara dengan kalimat 'jin buang anak'. Demikian disampaikan Ketua Persekutuan Dayak Kalimantan Timur Kota Balikpapan, Lampang Bilung.

Menurutnya, setelah video kalimat 'Jin Buang Anak' viral di media sosial banyak masyarakat Kalimantan yang merasa tersinggung. Karena menganggap kalimat tersebut serasa memberikan kesan negatif kepada warga yang tinggal di lokasi pembangunan IKN Nusantara.

"Mengapa kami tersinggung dengan kata jin buang anak? Yang seperti saya katakan masyarakat Dayak Paser yang terdiri dari beberapa suku, mereka hidup dalam beberapa kelompok punya desa kecil-kecil, di mana titik 0 itu," kata Lampang saat sidang di PN Jakarta Pusat, Selasa (5/7).

"IKN itu tempat hutan industri, ketika saudara Edy mengatakan jin buang anak otomatis menyepelekan masyarakat kami yang ada di sekitar situ, padahal mereka sudah hidup," tambah dia.

Lampang mengatakan bahwa reaksi kemarahan masyarakat sempat diluapkan dengan beberapa aksi, seperti penutupan akses jalan di Sungai Mahakam. Termasuk menggelar ritual memotong babi di jalan sebagai ritual adat atas protes terhadap Edy Mulyadi.

"Waktu orasinya dari semua masyarakat Dayak, mereka sampai ambil babi, mereka potong babi itu mengatasnamakan saudara Edy Mulyadi, itu yang membuat kami luar biasa," ungkap dia.

Lampang yang saat itu melihat proses adat tersebut, merasa harus segera mengambil langkah upaya guna meredam amarah masyarakat. Alhasil dilaporkannya Edy ke pihak kepolisian atas dugaan ujaran kebencian yang membuat keonaran

"Kalau kami biarkan tak cepat antisipasi kondisi keamanan kita, luar biasa tak akan terkontrol karena di tengah jalan di depan di Samarinda di sembelih babi itu dengan ritual adat. Ini yang buat kami cepat respons. Kami rasa punya tanggung jawab bagaimana membantu pemerintah meredam ini," ujarnya.

"Kami luar biasa takut melihat reaksi masyarakat Dayak yang nggak akan terkontrol karena semua kita pernah melihat 2006 pernah ada kejadian. Inilah rasa tanggung jawab kami di Kaltim khususnya," lanjut Lampang.

Dakwaan Edy Mulyadi

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah mendakwa Edy Mulyadi karena dianggap telah menyebarkan berita yang membuat keonaran di masyarakat. Perbuatan itu terkait pernyataannya mengenai lokasi Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan yang disebut sebagai tempat jin buang anak.

"Menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan, yang dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, sedangkan ia patut dapat menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong," kata JPU dalam sidang, Selasa, (10/5).

Menurut jaksa, perbuatan itu dilakukan Edy ketika menjadi pembicara dalam acara konferensi pers yang digelar LSM Koalisi Persaudaraan & Advokasi Umat (KPAU) di Hotel 101 Urban Thamrin, Jakarta Pusat. Dia juga menyebarkan sejumlah pernyataan kontroversial melalui akun YouTube miliknya 'Bang Edy Channel'.

Akun tersebut sudah memiliki ratusan ribu subscriber. Lalu, sudah mendapat plakat penghargaan berupa Silver Play Button. Edy disebut mengeruk keuntungan dari akun YouTube tersebut. Akun YouTube itu disebut di bawah naungan Forum News Network (FNN) yang belum terdaftar di Dewan Pers.

"Sekalipun Bang Edy Channel tak terdaftar di Dewan Pers tapi akun tersebut rutin mengunggah berita dan rutin mengulas pendapat kebijakan pemerintah yang tendensius," ujar Edy.

Atas hal itu, Edy didakwa dengan Pasal 14 ayat (1) atau ayat (2) atau Pasal 15 UU RI Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana. Jaksa juga mendakwa dengan pasal alternatif yakni Pasal 45A ayat (2) jo Pasal 28 ayat (2) UU RI Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) atau Pasal 156 KUHP. [gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel