Tokoh Oposisi Rusia Navalny Protes Dihalangi Baca Alquran di Penjara

Dedy Priatmojo
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny mengancam akan menuntut sipir penjara tempat dia dipenjara dengan tuduhan menyembunyikan Alquran - kitab suci umat Islam yang ingin dia pelajari saat menjalani hukuman.

Navalny yang seorang Kristen memang sedang tertarik mempelajar kitab suci umat Islam saat di dalam penjara. Dilansir AlJazeera Rabu, 14 April 2021, dalam postingan Instagramnya, Navalny mengumumkan gugatan pertamanya terhadap petugas penjara.

"Masalahnya, mereka tidak memberikan Alquran saya," tulis Navalny dalam postingan di Instagram.

Ia mengaku telah membuat rencana perbaikan diri ketika pertama kali dipenjara. Salah satunya adalah dengan mempelajari dan memahami Alquran dan Sunnah Nabi secara mendalam. Keduanya merupakan rujukan utama agama Islam.

Klaim tersebut muncul setelah Navalny melakukan aksi mogok makan sebagai protes terhadap dugaan penolakan oleh pihak berwenang untuk mengizinkan dokter pribadinya memeriksa kondisi kesehatannya di balik jeruji besi Navalny sempat mengalami sakit punggung dan kaki yang parah.

Postingan Instagram Navalny soal Alquran itu terjadi pada saat awal bulan Ramadhan, periode di mana umat Islam berpuasa dari matahari terbit hingga terbenam dan menghabiskan waktu membaca Alquran.

Klaim Navalny mungkin mengejutkan beberapa orang. Sebab, di awal karir politiknya Ia mendapat kecaman karena membuat komentar yang mencemooh para imigran di Rusia dari negara-negara mayoritas Muslim di Asia Tengah.

Kritikus Kremlin itu mengatakan belum diberi akses ke buku apapun yang dia bawa di penjara, atau pesan selama sebulan terakhir karena semuanya perlu diinspeksi dari ekstremisme, yang menurut para pejabat membutuhkan waktu tiga bulan. "Ini bodoh dan ilegal," tulisnya.

"Buku adalah segalanya bagi kami, dan jika saya harus menuntut hak saya untuk membaca, maka saya akan menggugat," katanya.

Alexei Navalny ditangkap pada Januari setelah kembali ke Moskow dari Jerman, di mana dia menghabiskan lima bulan untuk memulihkan diri dari dugaan keracunan zat saraf yang dia sebut dalangnya adalah Kremlin. Namun otoritas Rusia telah menolak tuduhan tersebut.

Pengadilan memerintahkan Navalny pada Februari untuk menjalani hukuman dua setengah tahun penjara karena melanggar persyaratan masa percobaannya, termasuk ketika dia menjalani pemulihan di Jerman, dari hukuman penggelapan tahun 2014.

Navalny telah menolak hukuman itu karena dibuat-buat, dan Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa menganggapnya "Sewenang-wenang dan secara nyata tidak masuk akal"

Pihak berwenang memindahkan Navalny bulan lalu dari penjara Moskow ke koloni hukuman IK-2 di wilayah Vladimir, 85 kilometer (53 mil) timur ibu kota Rusia. Fasilitas di kota Pokrov terkenal dengan rutinitas yang kejam, termasuk berdiri tegak selama berjam-jam.

Dalam beberapa minggu setelah dipenjara, Navalny mengatakan dia mengalami sakit punggung dan kaki yang parah dan secara efektif dilarang tidur karena seorang penjaga memeriksanya setiap jam di malam hari.

Dia melakukan mogok makan dua minggu lalu, menuntut akses ke pengobatan yang tepat dan kunjungan dari dokternya. Layanan lembaga pemasyarakatan negara bagian Rusia mengklaim bahwa dia menerima semua bantuan medis yang dia butuhkan.