Tokoh puncak Demokrat tarik pelatuk pasal pemakzulan Trump

Washington (AFP) - Tokoh puncak Partai Demokrat Amerika Serikat, Nancy Pelosi memberi lampu hijau untuk menyusun pasal-pasal pemakzulan Donald Trump pada Kamis, dengan mengatakan penyalahgunaan kekuasaan oleh sang presiden "membuat kita tidak punya pilihan selain bertindak."

Dengan meminta ketua Komisi Kehakiman DPR untuk menyusun dakwaan, Ketua DPR Nancy Pelosi mengisyaratkan bahwa pemungutan suara resmi untuk memecat presiden Amerika ke-45 itu sudah pasti.

Ketika mayoritas legislatif yang dikendalikan kubu Demokrat sudah menyatakan niat mendukung prosedur memecah belah itu, Trump kemungkinan menjadi presiden ketiga dalam sejarah AS yang dimakzulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat.

"Sedih, tetapi dengan keyakinan dan kerendahan hati, dengan kesetiaan kepada para pendiri kita dan hati yang penuh cinta untuk Amerika, hari ini saya meminta ketua kami untuk melanjutkan pasal-pasal pemakzulan," kata Pelosi dalam sebuah pernyataan di televisi.

Trump "terlibat dalam penyalahgunaan kekuasaan, merusak keamanan nasional kita dan membahayakan integritas pemilu kita," kata dia seraya menambahkan bahwa "presiden tidak memberi kita pilihan selain bertindak."

Pidato Pelosi ini pendek dan suram. Tetapi politisi wanita paling kuat di Amerika, yang menghadapi saat-saat penuh perhitungan, mengakhiri konferensi pers dengan menunjukkan kilasan kemarahan ketika seorang wartawan bertanya apakah dia membenci presiden Trump.

"Saya tidak membenci siapa pun," balas dia, menunjuk ke arah si wartawan penanya dalam konfrontasi yang luar biasa.

"Saya mendoakan presiden sepanjang waktu. Jadi, jangan main-main dengan saya dengan mengucapkan kata-kata seperti itu."

Pelosi tidak mengumumkan dakwaan terhadap Trump, tetapi dakwaan-dakwaan itu bisa mencakup penyalahgunaan kekuasaan, menghalangi penyelidikan oleh Kongres dan menghalangi penyelidikan hukum.

"Presiden menyalahgunakan kekuasaannya untuk keuntungan politiknya sendiri," kata Pelosi, dengan cara menahan bantuan militer dan pertemuan Gedung Putih sebagai imbalan atas komitmen Kiev dalam menyelidiki Joe Biden, saingan potensialnya yang berasal dari kubu Demokrat pada pemilihan umum 2020.

"Jika kita membiarkan seorang presiden berada di atas hukum, maka kita sudah pasti membahayakan republik kita," tambah sang ketua DPR.

Menuduh Demokrat berusaha menggulingkannya tanpa sebab, Trump menantang lawan-lawan politiknya untuk maju terus dengan pemakzulan "sekarang, cepat" - sehingga ia mendapatkan "pengadilan yang adil di Senat" di mana Partai Republik memegang kendali.

"Bagusnya Partai Republik TIDAK PERNAH sekompak ini," cuit Trump. "Kami akan menang!"

Proses pemakzulan diharapkan bergerak cepat dari sini, dengan pasal-pasal pemakzulan kemungkinan dipresentasikan untuk pemungutan suara pleno DPR akhir bulan ini setelah berminggu-minggu persidangan.

Jajak pendapat menunjukkan rakyat Amerika terbagi rata dalam pemalsuan dan pendongkelan Trump.

Menurut jajak pendapat FiveThirtyEight.com, 46,8 persen responden mendukung pemakzulan dan pencopotan Trump, melawan 44,5 persen yang tidak.

Proses ini berpotensi menjadi bumerang bagi Demokrat yang menghadapi pemilihan ulang di distrik-distrik yang dimenangkan Trump, tetapi Pelosi menegaskan bahwa dia tak membuat pertimbangan politik untuk memajukan pemakzulan.

"Kami melakukan ini dengan cara yang benar," katanya. "Kami sama sekali tak senang dengan hal ini. Ini menyedihkan."