Tol Laut Bisa Dongkrak Investasi di Gunungsitoli Nias

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan optimalisasi muatan tol laut melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP). Langkah ini dijalankan guna meningkatkan investasi daerah.

Kepala KSOP Gunungsitoli Kemenhub Merdi Loi mengatakan, optimalisasi tol laut dapat meningkatkan investasi daerah khususnya untuk peningkatan nilai tambah sebagai muatan balik guna mewujudkan peningkatan kesejahteraan perekonomian masyarakat.

“Saat ini Kantor KSOP Gunungsitoli terus bekerja keras dengan turun langsung ke lapangan untuk melakukan kolaborasi dan sinergi dengan seluruh dinas instansi terkait,” kata Merdi dalam keterangan tertulis, Minggu (28/3/2021).

Selain itu, langkah ini dilakukan juga guna meningkatkan kelancaran distribusi komoditas dan mengurangi disparitas harga antar daerah terlebih-lebih di daerah Tertinggal, Terpencil, Terluar seperti Kepulauan Nias Sumatera Utara.

Adapun beberapa instansi terkait yang memiliki kapasitas untuk mendukung optimalisasi tol Laut yakni Dinas Koperasi, Dinas Perdagangan, Dinas Pertanian, Dinas Kelautan dan Perikanan dan Dinas Perhubungan di wilayah Pemda/Pemko se-Kepulauan Nias.

“Koordinasi lintas sektoral ini sekaligus juga melakukan sosialisasi langsung kelapangan kepada pelaku usaha atau pengusaha di wilayah se-Kepulauan Nias tentang Pemanfaatan Kapal Tol laut yang biaya pengangkutan jauh lebih murah dan efisien serta memiliki rencana pola trayek yang liner dan tersistematis,” jelasnya.

Lebih lanjut Merdi menegaskan, dengan adanya jaringan trayek kapal tol laut ke Kepulauan Nias melalui Pelabuhan Gunungsitoli sangat membantu masyarakat memperoleh komoditas barang dan mengurangi disparitas harga sehingga masyarakat dapat merasakan harga barang yang terjangkau dan memperoleh pemerataan barang secara memadai.

Termasuk bahan bangunan guna mewujudkan peningkatan pembangunan infrastruktur dan begitu juga bila dimanfaatkan dengan baik pengiriman barang (muatan balik) melalui kapal Tol laut seperti kopra, karet, coklat, pinang, pisang, kelapa muda, hasil perikanan dan lain-lain.

“Sehingga sangat membantu masyarakat melalui pelaku usaha atau pengusaha untuk membuka akses link pasar baru baik di pulau Sumatera maupun di pulau Jawa,” katanya.

Demikian Merdi berharap dengan adanya sinergi dan koordinasi optimalisasi tol laut ini dapat membantu masyarakat atau pelaku usaha mendapatkan manfaat yang lebih maksimal.

“Trayek kapal tol laut yakni Gunungsitoli-Teluk Bayur- Tanjung Priok Pulang Pergi dan memiliki jadwal minimal 2 kali sebulan serta ketepatan waktu kapal sesuai jadwal yang sudah direncanakan sehingga memudahkan kepada masyarakat atau pelaku usaha untuk mengirim komoditas barang maupun hasil alam yang dikirim keluar baik di Pulau Sumatera dan Pulau Jawa,” pungkasnya.

Kemendag Klaim Tol Laut Sukses Tekan Harga Barang hingga 30 Persen

Petugas berjaga didekat KM Caraka Jaya Niaga III-4 yang digunakan sebagai kapal tol laut logistik Natuna di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (25/10). Tol Laut tersebut bertujuan menekan disparitas harga di Natuna. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)
Petugas berjaga didekat KM Caraka Jaya Niaga III-4 yang digunakan sebagai kapal tol laut logistik Natuna di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (25/10). Tol Laut tersebut bertujuan menekan disparitas harga di Natuna. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan, pemanfaatan tol laut melalui program Gerai Maritim telah sukses menekan ongkos logistik, sehingga membuat disparitas harga barang atau komoditas di daerah menjadi lebih kecil.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Suhanto mengatakan, fasilitasi tol laut sejauh ini berhasil memangkas harga barang di daerah hingga 30 persen.

"Sekarang laporan yang dapat kami terima dari dinas-dinas yang menangani perdagangan daerah yang dilalui tol laut umumnya dengan produk yang bisa diangkut daerah-daerah tersebut dapat menurunkan harga antara 20 sampai 30 persen dibandingkan sebelumnya," terangnya dalam sesi teleconference, Kamis (10/12/2020).

"Artinya mengurangi disparitas harga yang selama ini sangat tinggi dari daerah terluar tertinggal terpencil (3T) tadi dibandingkan daerah-daerah produsen," ujar Suhanto.

Menurut catatannya, seringkali daerah yang belum dilalui tol laut, khususnya angkutan kapal untuk kebutuhan pokok menuju Indonesia Timur harus menghadapi harga yang lebih tinggi dibandingkan daerah produsen asal.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Syailendra mengutarakan, merujuk data hingga Oktober 2020, disparitas harga barang antar wilayah masih berada di bawah target.

"Data kita dari tahun 2019 sampai dengan Oktober 2020 ini, dari target kita disparitas antar wilayah itu plus-minus 19 persen, dan itu di bawahnya. Jadi dengan adanya tol laut sangat terbantu untuk menjaga disparitas harga di wilayah, terutama Indonesia Timur," tuturnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: