Tolak Vaksinasi COVID-19 pada Anak, Identifikasi Kekhawatiran Orangtua Bisa Jadi Langkah Awal

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K. Lukito telah memberikan izin pemberian vaksin Sinovac pada anak usia enam hingga 11 tahun. Namun ternyata masih banyak orangtua merasa ragu bahkan menolak untuk melakukan vaksinasi pada putra dan putrinya.

Terkait hal ini, Epidemiolog Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia Dicky Budiman mengungkapkan bahwa mengidentifikasi kekhawatiran orangtua bisa menjadi langkah awal yang dapat dilakukan terkait pemberian vaksinasi COVID-19 pada anak.

"Kita masih punya waktu dari sejak BPOM merilis izin emergency use authorization (EUA)-nya, sampai ke pelaksanaan itu masih perlu waktu. Menurut saya, paling cepat juga di Desember ya, atau mungkin realistisnya awal tahun depan," ujar Dicky pada Health Liputan6.com, Selasa (2/11/21).

"Nah, yang harus dilakukan adalah literasi dengan strategi komunikasi yang tepat terhadap manfaat, potensi dari pemberian vaksin pada anak usia enam sampai 11 tahun ini. Tentu ini harus dimulai dari sekarang, melibatkan sekolah, masyarakat, dan orangtua," tambahnya.

Hal tersebut bisa dimulai dengan mengidentifikasi apa yang menjadi concern orangtua terhadap vaksin pada anak. Menurut Dicky, penting untuk mengetahui terlebih dahulu bagaimana pemahaman orangtua dan kekhawatiran-kekhawatiran yang muncul.

"Ini yang harus di address dulu, itu namanya assessment. Setiap masyarakat akan berbeda, isu yang dominan akan berbeda. Jadinya kita bisa tahu apa yang membuat mereka menjadi enggan atau ragu-ragu, atau bahkan gak mau sama sekali untuk anaknya divaksinasi," kata Dicky.

Dicky menjelaskan bahwa tanpa adanya identifikasi awal, kita tidak bisa menyelesaikan masalah penolakan terkait vaksin pada anak ini dengan tepat. Tak berhenti di situ, hasil yang telah didapatkan pun nantinya harus disampaikan kembali pada orangtua mengenai manfaat-manfaat vaksin itu sendiri.

Sangat penting untuk PTM

"Vaksin pada anak ini sebetulnya kontekstualnya akan sangat penting ketika anak ini melakukan PTM (pembelajaran tatap muka), dan akan sangat bermanfaat untuk ketika mulai terjadi reopening, pembukaan-pembukaan dan pelonggaran aktivitas masyarakat," ujar Dicky.

Terlebih, fungsi pemberian vaksinasi pada anak relatif sama dengan orang dewasa. Vaksinasi akan menghindari anak-anak untuk mengalami long covid. Bahkan, antibodi si anak pun dinilai akan menjadi lebih kuat.

"Potensi anak yang sudah divaksin dan terinfeksi, dia jadi 32 kali lebih kecil risikonya untuk mengalami fatality. 32 kali itu banyak banget. Bandingannya orang yang gak divaksin dan terkena, kemungkinannya terinfeksi kembali juga lima kali lebih besar. Nah manfaat-manfaat seperti itu harus disampaikan," kata Dicky.

Dicky mengungkapkan, pemberian vaksinasi pada anak akan memiliki makna yang besar pada pandemi COVID-19 karena akan berperan untuk melindungi bukan hanya dirinya sendiri, tetapi juga teman-teman seusianya, orangtua, dan orang-orang disekitarnya yang belum divaksinasi.

"Termasuk dia juga bisa melindungi adik-adiknya yang dibawah enam tahun, yang belum bisa divaksinasi ini. Hal lain yang juga harus disampaikan pada orangtua juga, ini kan kita berpotensi mengalami gelombang ketiga. Nah ini efektif jika anak bisa divaksin apalagi dengan pelonggaran tadi," ujar Dicky.

Infografis

Infografis: Deretan Negara yang Sudah Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun (Liputan6.com / Triyasni)
Infografis: Deretan Negara yang Sudah Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun (Liputan6.com / Triyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel