Tole Iskandar, Sosok Pahlawan Muda Darah Biru Pimpin Kelompok 21

Ezra Sihite, Zahrul Darmawan (Depok)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Bagi masyarakat Depok, sebutan Tole Iskandar sudah tak asing lagi. Namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan di kota tersebut. Namun siapa sebenarnya sosok di balik nama tersebut? Pada Hari Pahlawan kali ini, layaklah sosok Tole terungkap.

Data yang berhasil dihimpun VIVA menyebutkan, Tole Iskandar adalah satu dari sekian banyak pejuang yang lahir di Kota Depok, Jawa Barat. Ia merupakan sulung dari tujuh bersaudara.

Adiknya bernama Tuti, Sukaesih, Sugito, Suyoto, Mulyati, dan Slamet Mulyono. Mereka adalah anak dari pasangan Raden Samidi Darmorahardjo dan Sukati binti Raden Setjodiwiryo.

Menurut pengakuan keponakan Tole, Arifin Darmo Wahyu, ayah Tole merupakan menteri perairan zaman kolonial Belanda di Depok. Tole sendiri lahir di Gang Kembang, Kelurahan Ratu Jaya, Kecamatan Cipayung, Depok.

“Sebenarnya saya enggak layak cerita karena saya hanya tahu dari ibu dan koran-koran peninggalan zaman dahulu. Yang saya tahu kami inikan bisa dibilang darah biru. Kakek saya ikut bedol desa dari Purworejo kira-kira pada abad 18,” kata Arifin mengawali percakapan saat ditemui di kediamannya di kawasan Ratu Jaya, Selasa 10 November 2020

Pria 51 tahun itu menjelaskan, Tole adalah pimpinan Kelompok 21. Nama tersebut diambil karena saat itu pasukan yang dipimpin olehnya berjumlah 21 personel.

Menurut keterangan yang didapat oleh Arifin, Tole sempat mengenyam pendidikan militer dengan Jepang sebelum akhirnya bergabung menjadi tentara rakyat.

“Saat itu keluarga atau orangtuanya tidak ada yang tahu. Dia (Tole) balik-balik sudah jadi tentara, pakai samurai panjang," lanjut dia.

Sontak, penampilan Tole membuat keluarga kaget. Terlebih saat itu, ayah Tole, Raden Samidi Darmorahardjo memiliki posisi penting sebagai salah satu pejabat yang bekerja untuk Belanda.

“Kakek saya kan dahulu menteri air, tugasnya ngontrol air dari Pondok Cina (Depok) sampai Bogor. Kalau dahulu naik kuda, ya bisa dibilang dibilang kaki tangan Belanda. Kita dahulu masih didikan Belanda,” kata dia.

Tekad Tole sebagai pejuang akhirnya mendapat restu dan dukungan penuh dari keluarga. Berbekal kemampuan dan pasukan yang dimiliki, Tole pun semakin gencar melakukan serangan terjadap penjajah. Pertempurannya tidak hanya pecah di Depok namun hingga ke wilayah Bogor dan Sukabumi.

“Saat dia jadi tentara awalnya kita (keluarga) enggak ada yang tahu, tahunya dia sudah pakai seragam dan jadi pemimpin pasukan.”

Untuk mendukung perjuangan Tole dan pasukannya, Raden Samidi Darmorahardjo akhirnya berinisiatif untuk mendirikan dapur-dapur logistik sebagai bekal penyediaan makanan dan minuman untuk para pejuang.

Namun Tole wafat pada usia sekira 25 tahun. Ia gugur saat berperang dengan sekutu di daerah Cikasintu, Sukabumi, Jawa Barat, pada 1947 bersama Batalion 8. Saat gugur pangkatnya letnan dua. Kini makam Tole Iskandar berada di Taman Makam Pahlawan Dreded, Kota Bogor, setelah dipindahkan dari Sukabumi. Dia jadi pahlawan yang layak diingat pada Hari Pahlawan seperti hari ini, 10 November 2020.

“Om saya (Tole) meninggal saat masih sangat muda. Ia belum menikah. Kami keluarga besar tentu sangat bangga dengan perjuangannya," ujarnya lagi mengenang Tole Iskandar. (ren)