Top 3: Haruskah Investor Sell in May? Bikin Penasaran

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Memasuki kuartal kedua 2021, investor dihadapkan pada perkembangan pasar terkait sentimen inflasi, pajak, dan defisit.

Di sisi lain, memasuki Mei, investor pasar modal biasanya akan sering mendengar maupun membaca informasi mengenai fenomena Sell in May and Go Away.

Diketahui, pada Mei, investor pasar modal cenderung melakukan aksi jual guna menghindari terjadinya penurunan kinerja pasar modal pada Mei hingga Oktober. Kendati tak selalu terjadi tiap tahun, Analis Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada menilai idiom Sell in May and Go Away kerap menjadi momok bagi banyak pelaku pasar.

"Sebagai gambaran, laporan keuangan emiten di Maret dan April sudah keluar. Dividen juga sudah disampaikan. Maka di Mei ibaratnya jadi minim sentimen. Jadi banyak pelaku pasar yang keluar pasar menunggu sentimen selanjutnya,” ujar dia kepada Liputan6.com, Sabtu, 1 Mei 2021.

Artikel haruskah investor Sell In May menyita perhatian pembaca di Liputan6.com. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di saham? Berikut sejumlah artikel terpopuler di saham yang dirangkum pada Minggu, (2/5/2021):

1.Haruskah Investor Sell in May?

Memasuki kuartal kedua 2021, investor dihadapkan pada perkembangan pasar terkait sentimen inflasi, pajak, dan defisit.

Di sisi lain, memasuki Mei, investor pasar modal biasanya akan sering mendengar maupun membaca informasi mengenai fenomena Sell in May and Go Away.

Diketahui, pada Mei, investor pasar modal cenderung melakukan aksi jual guna menghindari terjadinya penurunan kinerja pasar modal pada Mei hingga Oktober. Kendati tak selalu terjadi tiap tahun, Analis Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada menilai idiom Sell in May and Go Away kerap menjadi momok bagi banyak pelaku pasar.

"Sebagai gambaran, laporan keuangan emiten di Maret dan April sudah keluar. Dividen juga sudah disampaikan. Maka di Mei ibaratnya jadi minim sentimen. Jadi banyak pelaku pasar yang keluar pasar menunggu sentimen selanjutnya,” ujar dia kepada Liputan6.com, Sabtu, 1 Mei 2021.

Berita selengkapnya baca di sini

2.Kelola Keuangan, Buruh Bisa Jajal Investasi Ini

May Day, atau Hari Buruh yang diperingati tiap 1 Mei acap menjadi momentum evaluasi kesejahteraan buruh. Di Indonesia, Hari Buruh kerap diwarnai aksi unjuk rasa buruh menuntut sejumlah hak, utamanya berkaitan dengan kelayakan upah.

Untuk tahun ini, upah minimum provinsi (UMP) paling banyak adalah yang berlaku di DKI Jakarta, yakni Rp 4,4 juta. Sementara untuk UMP terendah yakni Yogyakarta sebesar Rp 1,76 juta.

Dengan besaran ini, pekerja atau buruh harus memutar otak untuk mengalokasikannya ke berbagai kebutuhan. Bahkan tak jarang honor ini hanya lewat tanpa sempat disisihkan untuk investasi.

Berita selengkapnya baca di sini

3.Siloam Siap Terlibat untuk Vaksinasi Gotong Royong

PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) bakal ikut andil dalam program vaksin gotong royong. Perseroan mengaku telah mengantongi sejumlah perusahaan yang tertarik bekerja sama dengan perseroan untuk vaksinasi.

"Banyak perusahaan yang sudah menyatakan ingin melakukan vaksinasi dengan Siloam. Sehingga kami juga mempersiapkan untuk vaksinasi gotong royong, di mana payernya bukan pemerintah tetapi powernya pada korporasi di Indonesia,” kata Direktur Utama Siloam International Hospitals Caroline Riady dalam keterangan resmi, Sabtu, 1 Mei 2021.

Untuk diketahui, vaksin gotong royong ini akan dilakukan pada minggu ketiga Mei 2021. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia sebagai penggagas memilih vaksin Sputnik V dan Sinopharm untuk program vaksin gotong royong.

Berita selengkapnya baca di sini

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini