Top 3: Kinerja Keuangan Blue Bird hingga September 2021 Bikin Penasaran

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berdampak terhadap kinerja PT Blue Bird Tbk (BIRD). Akan tetapi, PT Blue Bird Tbk mampu menekan rugi dan pendapatan turun tipis hingga September 2021.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Blue Bird Tbk mencatat pendapatan Rp 1,44 triliun hingga September 2021. Realisasi pendapatan itu turun 6,6 persen dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,55 triliun.

EBITDA Perseroan juga turut meningkat. EBITDA yang dihasilkan adalah Rp 248 miliar hingga September 2021, naik Rp 12,5 miliar dibandingkan September 2020.

Artikel Blue Bird kantongi pendapatan Rp 1,44 triliun hingga kuartal III 2021 menyita perhatian pembaca di saham. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di saham? Berikut sejumlah artikel terpopuler di saham yang dirangkum pada Senin (1/11/2021):

1.Blue Bird Kantongi Pendapatan Rp 1,44 Triliun hingga Kuartal III 2021

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berdampak terhadap kinerja PT Blue Bird Tbk (BIRD). Akan tetapi, PT Blue Bird Tbk mampu menekan rugi dan pendapatan turun tipis hingga September 2021.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Blue Bird Tbk mencatat pendapatan Rp 1,44 triliun hingga September 2021. Realisasi pendapatan itu turun 6,6 persen dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,55 triliun.

EBITDA Perseroan juga turut meningkat. EBITDA yang dihasilkan adalah Rp 248 miliar hingga September 2021, naik Rp 12,5 miliar dibandingkan September 2020.

Berita selengkapnya baca di sini

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2.Harga Tes PCR Turun, Bagaimana Dampaknya ke Saham Emiten Sektor Kesehatan?

Ilustrasi tes Swab, PCR. (Photo by Mufid Majnun on Unsplash)
Ilustrasi tes Swab, PCR. (Photo by Mufid Majnun on Unsplash)

Harga tes Polymerase Chain Reaction (PCR) kembali turun mulai 27 Oktober 2021. Hal ini tak terlepas dari permintaan Presiden Joko Widodo terkait penurunan tarif PCR menjadi Rp300 ribu.

Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Nomor HK.0.02/1/3843/2021, untuk pemeriksaan RT-PCR di Pulau Jawa dan Bali sebesar Rp275.000,(Dua Ratus Tujuh Puluh Lima Ribu Rupiah). Kemudian pemeriksaan RT-PCR di luar Pulau Jawa dan Bali Rp 300.000.

Dengan ada sentimen itu, bagaimana dampaknya kepada emiten sektor kesehatan?

Berita selengkapnya baca di sini

3.Melihat Potensi Saham Sektor Kesehatan hingga Akhir 2021

Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG menguat 0,34 persen atau 21 poin ke level 6.296 pada penutupan perdagangan Senin (13/1) sore ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG menguat 0,34 persen atau 21 poin ke level 6.296 pada penutupan perdagangan Senin (13/1) sore ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pandemi yang terjadi membuat saham di sektor kesehatan menjadi salah satu yang paling menarik dan dilirik investor.

Meski demikian, saat ini pemerintah telah menentukan sejumlah kebijakan terkait penanganan kasus Covid-19, tak terkecuali harga tes PCR.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks sektor saham IDX sector healthcare naik 7,15 persen ke posisi 1.404,01 secara year to date (ytd) hingga Jumat, 29 Oktober 2021.

Berita selengkapnya baca di sini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel