Topan Super Goni menghantam Manila

·Bacaan 3 menit

Legazpi (AFP) - Pihak berwenang Filipina memperingatkan kondisi "bencana" di wilayah yang diperkirakan akan paling terdampak, di mana lebih dari 300.000 orang telah meninggalkan rumah mereka, saat topan Super Goni melanda negara itu.

Topan terkuat tahun ini itu menghantam Pulau Catanduanes pada pukul 4:50 pagi (2050 GMT Sabtu) dengan kecepatan angin maksimum 225 kilometer (140 mil) per jam, menurut badan cuaca negara.

Selama 12 jam berikutnya, "angin kencang yang dahsyat dan curah hujan yang sangat deras" akan terjadi di wilayah Bicol, yang meliputi ujung selatan pulau utama Luzon dan Catanduanes, katanya.

"Ini situasi yang sangat berbahaya untuk area ini."

Goni - yang meningkat menjadi topan "super" saat mendekati Filipina - terjadi seminggu setelah Topan Molave menghantam wilayah yang sama di kepulauan yang rawan bencana alam itu.

Badai itu menewaskan 22 orang dan membanjiri desa-desa dataran rendah serta lahan pertanian, sebelum menyeberangi Laut China Selatan menuju Vietnam.

"Angin sangat kencang. Kami bisa mendengar pohon-pohon dihantam angin. Sangat kuat," kata Francia Mae Borras, 21, kepada AFP dari rumahnya di kota pesisir Legazpi.

Atap dua pusat evakuasi koyak akibat kekuatan angin dan penghuninya pindah ke lantai dasar, kata kepala keamanan publik Provinsi Albay, Cedric Daep kepada stasiun radio DZBB.

Kepala Pertahanan Sipil Ricardo Jalad mengatakan pada Sabtu bahwa "hampir satu juta" orang telah dievakuasi dari rumah mereka di wilayah Bicol.

Tetapi juru bicara Alexis Naz mengatakan pada hari Minggu bahwa sekitar 316.000 telah mengungsi ke tempat aman sejauh ini.

"Kami melihat pohon-pohon tumbang di luar kantor kami. Sangat deras. Hujannya deras," kata Naz.

"Kontak terakhir kami dengan orang-orang kami di Catanduanes adalah pada pukul 3:30 pagi. Mereka memberi tahu kami bahwa hujan dan angin sangat kencang di sana. Dan kemudian sistem mati."

Hingga 31 juta orang berada di jalur Goni, kata pihak berwenang, termasuk di Manila di mana ada rencana untuk mengevakuasi penduduk dari daerah kumuh dataran rendah yang berisiko dibanjiri oleh gelombang badai setinggi beberapa meter.

Bandara ibu kota telah ditutup.

Alarm keras berbunyi dari ponsel saat Dewan Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional mengeluarkan peringatan- peringatan darurat angin kencang untuk Manila dan provinsi sekitarnya dalam beberapa jam mendatang.

Pihak berwenang menghabiskan hari Sabtu untuk mengumpulkan kendaraan penyelamat, tim tanggap darurat, dan barang bantuan sebelum badai tiba.

Banjir dan tanah longsor mungkin terjadi karena Goni membawa hujan lebat ke seluruh wilayah yang sudah basah, dinas cuaca memperingatkan.

Pihak berwenang juga memantau dua gunung berapi aktif, Mayon dan Taal, untuk kemungkinan aliran lumpur vulkanik.

Sekolah-sekolah yang telah kosong sejak dimulainya pandemi virus corona digunakan sebagai tempat penampungan darurat demikian juga pusat evakuasi dan tempat olah raga yang dikelola pemerintah.

"Mengevakuasi orang lebih sulit saat ini karena COVID-19," kata Naz kepada AFP sebelumnya.

Mary Ann Echague, 23, dan keluarganya meninggalkan rumah mereka di Legazpi pada hari Sabtu ke sekolah dasar yang terletak di tempat yang lebih tinggi untuk berlindung di ruang kelas bersama beberapa keluarga lainnya.

"Kami takut akan amukan topan," kata Echague, yang mengungsi bersama kedua anaknya, orang tua dan saudara kandungnya. Mereka membawa kompor portabel, daging kaleng, mie instan, kopi, roti, selimut dan bantal.

“Tiap terkena angin topan, rumah kami rusak karena terbuat dari kayu dan atap besi galvanis,” ujarnya.

Ratusan orang telah terdampar setelah penjaga pantai memerintahka kapal feri dan kapal nelayan bersandar di pelabuhan dengan perkiraan laut yang ganas akan menimbulkan gelombang setinggi 16 meter.

Goni diperkirakan melemah saat melintasi Luzon selatan dan memasuki Laut China Selatan pada Minggu malam atau Senin pagi sebagai topan, kata badan cuaca negara.

Filipina dilanda rata-rata 20 badai dan topan setiap tahun, yang biasanya memusnahkan panen, rumah dan infrastruktur, serta membuat jutaan orang terus-menerus miskin.

Topan paling mematikan yang pernah tercatat adalah Topan Super Haiyan, yang menimbulkan gelombang raksasa di pusat Kota Tacloban dan menyebabkan lebih dari 7.300 orang tewas atau hilang pada tahun 2013.