Topaz, Budidaya Kelapa Sawit Berkelanjutan yang Menjanjikan

VIVA
·Bacaan 8 menit

VIVA – Salah satu alasan pentingnya penerapan sistem pangan yang berkelanjutan adalah tidak terlepas dari makin tingginya pertambahan penduduk di seluruh dunia.

Di pertengahan tahun 2019, contohnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah merilis laporan yang menyebutkan bahwa dalam masa 30 tahun akan ada pertambahan penduduk dunia hingga 2 milyar orang. Sehingga dari jumlah yang ada saat ini 7,7 milyar akan menjadi 9,7 milyar orang pada tahun 2050.

Lebih lanjut lagi, Indonesia disebut sebagai satu dari 9 negara yang akan berkontribusi menambahkan lebih dari 1 milyar orang atau lebih dari separuh jumlah pertambahan penduduk dunia. Sehingga, bukan tanpa alasan bahwa menghasilkan pangan yang cukup secara berkelanjutan merupakan upaya serius yang harus dilakukan.

Namun di sisi lain, pertumbuhan populasi global tidak serta merta dapat diatasi dengan peningkatan produksi pangan. Pasalnya, hal tersebut selain menimbulkan resiko biaya lingkungan yang lebih besar, juga termasuk melindungi keberagaman hayati.

Pertanyaannya lantas, apakah untuk mencapai sistem pangan global yang berkelanjutan merupakan tujuan yang sangat kompleks dan mendesak untuk ditindaklanjuti?

Bernard Riedo, Direktur Sustainability & Stakeholder Relations Asian Agri mengatakan Asian Agri berpartisipasi dalam mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang dicanangkan PBB hingga tahun 2030.

“Prinsip keberlanjutan atau sustainability dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit berkontribusi dalam mencapai kemandirian pangan, sebagaimana diamanatkan dalam tujuan yang kedua dari 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Namun tantangannya adalah bagaimana para pemangku kepentingan tetap berkomitmen menekan dampak negatif lingkungan.”

Penelitian dan Pengembangan sebagai Investasi Wajib


Dok. Asian Agri.

Menghadapi era disrupsi seperti yang sedang terjadi saat ini, banyak perusahaan menaruh perhatian besar dan serius dalam berinvestasi di bidang penelitian & pengembangan. Hal ini sekaligus menjadi sinyal positif meningkatnya kepedulian perusahaan untuk menghasilkan lebih banyak inovasi dan bersiap untuk bertransformasi.

Dalam Strategy&’s 2018 Global Innovation 1000 Study disebutkan bahwa 25 perusahaan teratas di dunia yang berinvestasi untuk R&D pada tahun 2018 didominasi sektor teknologi dan telekomunikasi yang berfokus pada e-commerce, diikuti farmasi dan otomotif.

Kebanyakan perusahaan berinvestasi dalam bidang penelitian dan pengembangan dipicu oleh persaingan yang ketat dan mengantisipasi potensi pasar yang akan digarap di tahun-tahun mendatang.

Suburnya pertumbuhan startups dengan pendekatan kreatif dinilai mampu merebut pasar yang mulai jenuh terhadap pola marketing konvensional. Tak bisa dipungkiri, era globalisasi mengakibatkan permintaan konsumen semakin kompleks, serta mendorong perubahan preferensi dan tren pasar.

Bernard menguraikan bahwa permintaan pasar yang meningkat, pengelolaan biaya yang efektif, adopsi teknologi dan tren pasar, serta tuntutan konsumen akan komitmen keberlanjutan menjadi beberapa faktor penting yang mendorong Asian Agri melakukan investasi dalam bidang riset dan pengembangan (R&D).

“Tim R&D Asian Agri dapat membantu perusahaan mengikuti perkembangan pasar sawit, memproduksi benih sawit unggul dari sisi produksi, tahan terhadap hama, adaptif di kondisi lahan yang berbeda, serta mampu memenuhi kebutuhan pasar benih sawit Indonesia dan dunia secara kompetitif,” paparnya.

Asian Agri yang mengelola perkebunan dan pabrik kelapa sawit di Sumatera Utara, Riau dan Jambi ini pun memberi perhatian serius terhadap bidang penelitian dan pengembangan benih dan tanaman kelapa sawit, dan secara khusus memproduksi benih unggul sawit Topaz.

Ang Boon Beng, Senior Breeder Topaz mengatakan,”Perusahaan perkebunan kelapa sawit harus mengupayakan peningkatan yield tanpa membuka lahan baru, namun dengan meningkatkan produktivitas secara optimal dari lahan yang ada.”

Ang menjelaskan peran strategi perusahaan dalam R&D yang akan memberikan inovasi di sektor pertanian dan perkebunan. “Ini tentang keberlanjutan sawit yang dijalankan dengan prinsip pengelolaan untuk menghasilkan kualitas yang lebih baik, produktivitas yang lebih tinggi dan biaya yang lebih rendah atau dikenal dengan QPC - better Quality, higher Productivity, dan lower Cost.”

Topaz sebagai “Permata” Baru di Kebun Sawit

Dok. Asian Agri.

Budidaya kelapa sawit di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan, diantaranya keterbatasan pengetahuan agronomi yang tidak merata di masyarakat petani kecil, kondisi tanah marjinal, cuaca, dan penyakit serta pengelolaan hama.

Tantangan-tantangan ini berdampak signifikan pada produktivitas dan hasil pohon kelapa sawit. Karenanya, penelitian dan pengembangan (R&D) tetap merupakan aspek penting dalam industri kelapa sawit.

Sebagai contoh, penelitian dan pengembangan yang dilakukan Asian Agri terhadap budidaya kelapa sawit dilakukan bukan hanya untuk peningkatan ketahanan tanaman, tapi juga peningkatan produktivitas yang lebih tinggi per hektarnya.

Sehingga dengan investasi serius di R&D ini, pada tahun 1992, Asian Agri sudah memprakarsai berdirinya Pusat Penelitian Kelapa Sawit (OPRS Topaz).

OPRS Topaz memulai penelitiannya dalam pengembangan jenis buah kelapa sawit dura dan pisifera elit, yang diwariskan dan sampai sekarang, belum dimanfaatkan dengan optimal.

Dengan menyeleksi sebagian besar sebagai “calon induk” untuk propagasi hibrida dan pengujian silang, tim R&D kemudian mengawinkan dan mendapatkan hasil turunan genetik dalam skala besar, dan ditempatkan di kebun percobaan selama masa penelitian.

Topaz memungkinkan pekebun membudidayakan kelapa sawit tanpa perluasan lahan. Dengan fokus pada intensifikasi lahan, selain menggunakan benih Topaz sebagai materi tanam berkualitas, Asian Agri juga membekali para petani mitranya dengan pengetahuan di bidang agronomi melalui pelatihan, pendampingan langsung dan aplikasi teknik pengelolaan hama terpadu.

Dengan siklus tanaman sawit yang panjang selama 25 tahun, penanaman kelapa sawit haruslah dimulai dengan langkah yang tepat, agar dalam pertumbuhannya tidak mengalami kendala dasar.

Pengetahuan agronomi yang tidak memadai akan menyebabkan pengelolaan kebun yang buruk, dan penggunaan benih yang tidak berkualitas akan berdampak saat panen tiba, produktivitas dan kualitas buah yang rendah, serta daya tahan tanaman lemah terhadap hama. Ini akan juga menimbulkan biaya ekonomi yang tidak diantisipasi.

Bibit kelapa sawit Topaz Asian Agri terdiri dari lima varietas yaitu Topaz 1, Topaz 2, Topaz 3, Topaz 4 dan Topaz GT. Topaz akan berbuah lebih cepat dibanding benih sawit lain, produksi tandan buah segar yang lebih tinggi dengan kandungan minyak lebih tinggi, dan juga memiliki karakteristik yang diinginkan seperti laju pertumbuhan vertikal yang lebih lambat untuk memungkinkan panen lebih mudah.

Selain itu, keunggulan Topaz yakni adaptasi yang lebih baik untuk berbagai kondisi tanah dan cuaca. Topaz GT adalah jenis benih sawit yang cocok untuk ditanam di daerah dengan risiko tinggi penyakit Ganoderma, yang bisa menyebabkan pembusukan pada batang pohon kelapa sawit.

Perusahaan dan petani disarankan untuk menanam varietas-varietas Topaz yang berbeda untuk meningkatkan keragaman genetik penanaman, sinergi alami yang lebih baik dan saling mendukung dalam siklus berbunga, serta perlindungan terhadap risiko penyakit dan kondisi cuaca yang berkepanjangan seperti kekeringan atau curah hujan tinggi.

Berasal dari Afrika Tengah dan Barat, dura dikenal karena buahnya yang bercangkang tebal dengan lapisan tengah berdaging tipis yang dikenal sebagai mesocarp. Dari mesocarp yang mengandung minyak inilah minyak kelapa sawit mentah (CPO) diekstraksi.

Tertanam di mesocarp mengelilingi bagian dalam buah kelapa sawit adalah biji yang bercangkang dan intinya disebut kernel, sumber dari minyak inti sawit (Palm Kernel Oil) diekstraksi. Jenis dura, memiliki cangkang yang tebal dengan ketebalan sekitar 2-8 mm. Cangkang memiliki nilai kalori tinggi yang cocok untuk digunakan sebagai bahan bakar boiler.

Buah pisifera, spesies yang juga ditemukan di Afrika Tengah dan Barat, tidak memiliki cangkang sama sekali yang memisahkan proporsi mesokarp yang lebih besar dan inti bagian dalamnya. Buah pisifera hampir 95% mesocarp.

Komitmen Kuat yang Membuahkan Hasil

Dok. Asian Agri.

Seleksi pokok-pokok induk dura maupun pisifera tidak boleh hanya sekedar sifat atau karakter fenotipik saja tetapi perlu berdasarkan sifat persilangan genetik yang datanya hanya bisa didapat dari percobaan-percobaan pemuliaan.

Tim OPRS Topaz telah menghabiskan waktu puluhan tahun mengembangkan dura-pisifera menjadi tipe tenera superior. Jenis tenera memiliki cangkang yang lebih tipis dan proporsi mesocarp yang mengandung minyak tinggi.

Tim telah secara teratur melakukan pemeriksaan akan kualitas tenera dan telah menguji benih ini di perkebunan komersial besar di berbagai kondisi di Sumatera Utara dan Riau, memeriksa sampel tandan buah segar (TBS) ukuran besar untuk memverifikasi kemurnian benih Topaz DxP di perkebunan komersial.

Topaz DxP Series-4, seri keempat dari tipe tenera, mampu menghasilkan lebih dari 12 ton CPO per hektar per tahun pada hasil puncak dan kematangan penuh dengan pengelolaan perkebunan yang baik dan dalam kondisi lingkungan yang mendukung.

Untuk mendukung seleksi genomik program pemuliaan generasi berikutnya, OPRS Topaz memiliki laboratorium biologi molekuler yang mutakhir. Ini juga menampung fasilitas kultur jaringan canggih untuk mengkloning induk unggul dura dan pisifera untuk produksi benih klon serta tipe tenera unggul untuk produksi komersial klon kelapa sawit.

Tim OPRS Topaz mencakup berbagai bidang termasuk agronomi, tanah, hama dan penyakit; layanan pelatihan pembibitan kelapa sawit; dan laboratorium analitik yang sudah dikenal luas.

Benih utama Topaz memang berperan dalam meningkatkan kualitas TBS, tetapi masih ada banyak faktor lingkungan dan lainnya yang turut menentukan keberhasilan pertumbuhan kelapa sawit Topaz, termasuk manajemen perkebunan dan kondisi lokasi perkebunan.

“Di balik meningkatnya permintaan dari petani dan perusahaan perkebunan lainnya, tim R&D Asian Agri terus menyempurnakan bahan tanaman DxP Topaz yang disebarluaskan sejak sertifikasi dan diluncurkan pertama di tahun 2004.

Ini menempatkan Topaz di urutan kedua dari 16 produsen benih bersertifikat lainnya di pasar benih Indonesia pada 2019, dengan 13,2% pangsa pasar benih. Permintaan terhadap benih Topaz juga berasal dari banyak negara di Asia Tenggara dan Afrika,” ungkap Ang.

Benih Topaz tersedia untuk petani-petani mitra selama periode penanaman kembali atau peremajaan kebun sawit. Asian Agri membekali para petani dengan pendapatan alternatif selama masa tanaman belum menghasilkan, petani dibimbing untuk mengembangkan keterampilan baru dan memperoleh pengetahuan bisnis skala kecil menengah sebagai sumber pendapatan alternatif.

Penggunaan benih Topaz membantu mempersingkat masa tunggu panen. Dalam waktu 28 bulan, tandan buah segar dari kelapa sawit Topaz dapat dipanen. Penanaman kembali dengan benih Topaz menghasilkan panen yang lebih tinggi pada setiap panen berikutnya, menghasilkan lebih banyak pendapatan bagi petani.

Pada akhirnya, benih unggul yang dihasilkan melalui proses panjang penelitian dan pengembangan oleh tim Asian Agri adalah upaya menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan pangan di masa mendatang. Tidak hanya dalam jumlah dan kualitas, akan tetapi menghasilkan solusi yang ramah lingkungan.

Petani ataupun perusahaan kelapa sawit harus jeli membuat pilihan, memahami kualitas dan potensi yang dihasilkan benih sawit secara rasional dan berbasis penelitian sains, sehingga mereka dan generasi penerusnya mengetahui pasti akan sumber pangan yang aman, sehat dan ramah lingkungan.