Total Delapan Orang Diamankan saat KTT G20 di Bali, Ini Kronologinya

Merdeka.com - Merdeka.com - Puncak konferensi tingkat tinggi (KTT) G20 tengah berlangsung mulai 15 hingga 16 November 2022 di Nusa Dua, Bali. Pertemuan kepala negara dari berbagai penjuru dunia beserta delegasinya ini memang menyita perhatian publik dari berbagai kalangan. Sedikitnya terdapat dua aksi dengan total delapan orang diamankan selama jalannya KTT G20 dalam kurun waktu dua hari ini.

Dimulai dari aksi seorang perempuan dari Cimahi, Jawa Barat, berinisial KR yang ditangkap kepolisian lantaran disinyalir hendak membentangkan pamflet poster bertuliskan "Stop War Human Rights Peace", saat iring-iringan Presiden Amerika Serikat Joe Biden akan melintasi Simpang Peminge, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Selasa (15/11).

Kabid Humas Polda Bali Kombes Satake Bayu menuturkan saat itu kondisi hujan baru saja reda, KR yang membawa pamflet yang rencananya akan dibentangkan, segera diamankan oleh pecalang bersama petugas.

Setelah ditelusuri perempuan tersebut menginap di kawasan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Bali, dari hari Jumat (11/11). KR mengunjungi pulau Dewata Bali dalam rangka liburan bersama temannya.

Satake Bayu menjelaskan, setelah dilakukan pemeriksaan kepada KR, tidak ada unsur pidana karena hanya menyampaikan aspirasi.

"Setelah dibawa oleh Satgas Gakkum Polda Bali, kemudian dilakukan pemeriksaan yang bersangkutan memang penyampaian dari tim itu, tidak ada unsur pidananya. Jadi yang bersangkutan dipulangkan," jelasnya.

Dia juga menyebutkan, untuk motifnya KR hanya menyampaikan aspirasi dan ingin membentangkan pamflet bertuliskan "Stop War Human Rights Peace". Usai diperiksa, KR kemudian dilepaskan.

"Intinya dia hanya ingin membentangkan (pamflet) itu saja tapi belum terlaksana. Kemudian juga niatnya menyampaikan (aspirasi) saja. Dan sudah tidak ada masalah," imbuhnya.

Sementara aksi lainnya dilakukan oleh tujuh mahasiswa Universitas Udayana (Unud). Mereka melakukan aksi demonstrasi di jalan Sudirman, Denpasar, Bali untuk menolak pelaksanaan KTT G20 di Bali. Alhasil para mahasiswa diamankan Satpol PP.

Menurut keterangan dari Kepala Satpol PP Provinsi Bali, I Dewa Nyoman Rai Dharmadi, ketujuh mahasiswa tersebut melakukan aksi dengan membentangkan spanduk bertuliskan 'G20 Ngae Ribet Nak Bali, G20 Bukan Solusi' yang artinya G20 bikin ribet orang Bali dan juga ada bertuliskan 'Indonesia People's Assembly.'

"Aksi damai menyampaikan aspirasi di depan umum membentangkan spanduk. Ada tujuh mahasiswa (dari) Universitas Udayana," kata Dharmadi saat dihubungi, Selasa (15/11).

Dharmadi juga mengatakan jika terdapat satu mahasiswa yang dilarikan ke rumah sakit karena mengalami demam usai beraksi di tengah hujan. Ketujuh mahasiswa tersebut kini telah dipulangkan.

Namun Dharmadi mengatakan jika pihaknya meminta data pribadi mereka berupa KTP guna melakukan pelaporan. Mereka juga diberikan arahan agar tidak melakukan aksinya di depan umum.

"Sudah dipulangkan datanya kita sudah simpan dan kita berikan arahan. Sementara aksinya disampaikan melalui digital saja, jangan menyampaikan demo di depan umum sehingga tidak mengganggu ketertiban. Karena yang dilakukan kan di pinggir jalan," ujar dia.

Hal ini dilakukan petugas untuk meminimalisir adanya oknum yang menunggangi perhelatan KTT G20 ini.

"Kita catat, kita buatkan laporan. Karena ini harus dilaporkan, perhelatan KTT G20 hati-hati jangan sampai ditunggangi dan juga jangan sampai ada kontraproduktif dari beberapa masyarakat mengatasnamakan Nak Bali," tuturnya.

Dia juga menambahkan jika pihaknya sempat mendapatkan laporan dari masyarakat yang tidak terima jika para mahasiswa tersebut mengatasnamakan nama Bali dalam aksinya.

"Setahu saya sebagai besar Nak Bali sangat mengapresiasi kegiatan G20. Makanya kami dapat laporan dari masyarakat, karena keberatan aksi itu," tandasnya.

Reporter: Putri Oktafiana [cob]