Touadera favorit menang saat Afrika Tengah gelar pemilu

·Bacaan 3 menit

Bangui (AFP) - Para pemilih di Republik Afrika Tengah (CAR) menuju tempat-tempat pemungutan suara Minggu di mana Presiden petahana Faustin Archange Touadera di ambang memenangkan masa jabatan kedua di negara miskin yang dihantui kekerasan tersebut.

Satu pekan sebelum hari pemungutan suara, Touadera menuduh pendahulunya Francois Bozize merencanakan kudeta. Milisi sempat merebut kota terbesar keempat di negara itu dan Rusia serta Rwanda mengirim personel militer guna membantu menyangga pemerintahannya.

Suasana di ibu kota Bangui memang suram.

Pada Rabu, rumor berseliweran bahwa pemberontak sudah memasuki kota itu sehingga memicu kepanikan.

"Lihatlah betapa takutnya rakyat," kata seorang pedagang lokal yang menyebut namanya Thierry memprediksi masa yang kelam: "Pemilu tidak akan terjadi."

Kantor hak asasi manusia PBB pada Rabu mengaku "sangat khawatir" atas peningkatan kekerasan "yang dipicu oleh keluhan politik dan ujaran kebencian" dan mengingatkan ancaman terhadap hak memilih.

Tetapi Touadera, PBB, dan Uni Eropa, termasuk Prancis yang merupakan bekas penjajah CAR dan sekutu terkuat negeri ini di Barat, semuanya dengan tegas bersikukuh pemilu mesti diselenggarakan.

Negara yang kaya mineral tetapi dinilai sebagai termiskin kedua di dunia di bawah Indeks Pembangunan Manusia, CAR secara kronis tidak stabil sejak merdeka 60 tahun lalu.

Perang saudara meletus Maret 2013 ketika sebagian besar pemberontak Muslim dalam koalisi bernama Seleka menyerbu ibu kota dan menyingkirkan Bozize yang merupakan mantan jenderal beragama Kristen yang merebut kekuasaan sepuluh tahun sebelumnya.

Kelompok-kelompok lain, terutama Kristen dan animisme, kemudian mengorganisir milisinya sendiri-sendiri sehingga memicu kekhawatiran terjadinya genosida karena garis sektarian.

Prancis mengirimkan sekitar 2.000 tentara di bawah mandat PBB. Pada 2014, PBB mengirimkan misinya sendiri, MINUSCA, dan pada 2016 digelar pemilihan umum yang dimenangkan oleh Touadera yang adalah teknokrat didikan Prancis dan Kamerun.

Kini, presiden berusia 63 tahun itu dianggap akan dengan mudah memenangkan masa jabatan kedua setelah pengadilan tertinggi CAR melarang Bozize yang berada dalam daftar buron 2014 dan terkena sanksi PBB, mengikuti pemilu.

Saingan terdekat dalam barisan calon presiden yang meliputi 16 calon itu adalah Anicet Georges Dologuele, seorang ekonom dan mantan perdana menteri yang didukung Bozize setelah pencalonannya sendiri gagal.

Tapi pertanyaan krusialnya adalah dari partisipasi pemilih itu, di mana jumlah pemilih yang rendah akan sangat merusak kredibilitas presiden dan legislatif berikutnya, yang juga dipilih.

Teorinya 1,8 juta orang berhak menyalurkan suara.

Tetapi hanya sepertiga dari negara tersebut yang dikuasai pemerintah yang secara politik lemah dan angkatan bersenjatanya sangat kekurangan serta kurang terlatih.

Dua pertiga sisanya dikendalikan oleh milisi-milisi yang memperoleh pendapatan dari pertambangan dan "pajak" dari pelancong dan pedagang dan sering kali bertengkar soal sumber daya ini.

"Pemilu ini tidak bisa diadakan di wilayah yang dikuasai oleh kelompok-kelompok bersenjata yang ingin menghambat pemilu," kata Roland Marchal, spesialis CAR di dalam lembaga think tank Centre for International Research (CERI) di Paris.

Dia menggambarkan situasi itu sebagai "perampokan elektoral".

Touadera harus terlibat dalam tindakan penyeimbangan yang rumit dengan kelompok-kelompok bersenjata sejak pertama kali menjabat.

Pada Februari 2019, dia menandatangani kesepakatan damai dengan 14 milisi di mana para kepala mereka ditawari posisi-posisi pemerintah.

Kesepakatan itu membantu mendukung turunnya kekerasan yang telah dimulai tahun sebelumnya, meskipun pertumpahan darah tetap menjadi ancaman yang selalu ada.

Walaupun demikian Bozize telah menambahkan faktor volatilitas lebih dalam sejak dia menyelinap ke negara itu pada Desember 2019 setelah bertahun-tahun di pengasingan.

Kembalinya dia memicu kekhawatiran bahwa pria berusia 74 tahun itu merencanakan comeback penuh kekerasan.

Pemerintah akhir pekan lalu menuduh kelompok-kelompok bergerak bersama dan merangsek ke Bangui dalam persekongkolan yang diduga digerakkan oleh Bozize yang telah dibantahnya.

Kemajuan itu berhenti setelah pemberontak merebut beberapa dusun kecil, kata pasukan penjaga perdamaian PBB MINUSCA, Rabu.

Dalam pernyataan tertanggal Rabu yang disahkan oleh dua dari enam anggotanya, koalisi pemberontak ini mengumumkan "gencatan senjata sepihak" selama 72 jam.

Pada Selasa, kota terbesar keempat CAR, Bambari, 380 kilometer arah timur laut Bangui, dikuasai oleh kelompok bersenjata yang menyebut diri Persatuan untuk Perdamaian di Afrika Tengah (UPC).

Pasukan keamanan yang didukung penjaga perdamaian PBB kembali mengendalikan keadaan pada hari berikutnya.

Sejak 2013, ribuan orang meninggal dan lebih dari seperempat dari total 4,9 juta orang penduduk negeri ini telah meninggalkan rumah mereka. Dari angka itu, 675.000 adalah para pengungsi yang berada di negara-negara bertetangga dan tidak bisa memilih.

clt-amt/gir/at/ri/gd