Tradisi Balimau yang Berubah Maknanya

Syahdan Nurdin, terkekeh
·Bacaan 2 menit

VIVA – Di daerah Sumatera Barat, ada tradisi bernama Balimau. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh masyarakat Minangkabau, saat menjelang bulan ramadhan. Kegiatan ini dijalankan dengan membersihkan diri di tepian sungai, yang airnya sudah dicampur oleh jeruk nipis.

Biasanya saat sore, setelah shalat ashar keluarga-keluarga di tanah Minang akan mencari tepi sungai di sekitar tempat tinggalnya dan mandi di sana. Ini hanya dilakukan oleh orang yang memiliki ikatan keluarga atau mahramnya.

Semakin ke sini, banyak anak muda membuat tradisi ini jadi tidak bermanfaat malah membuatnya menjadi tempat maksiat. Tradisi yang tadinya terkesan suci, karena memiliki niat baik berubah karena disalahgunakan oleh anak muda sebagai tempat berpacaran.

Mengoptimalkan Ibadah Puasa pada Bulan Ramadhan

Tradisi Balimau selalu dikaitkan sebagai kegiatan menjelang bulan ramadan. Tujuannya adalah agar membersihkan diri sebelum menjalankan puasa, agar menjadi lebih optimal. Sebelum mandi, biasanya ada beberapa bahan untuk disiapkan.

Seperti bunga-bungaan dan jeruk nipis atau limau. Saat ini, Balimau dimeriahkan dengan organ tunggal atau pengisi lain agar lebih meriah. Tradisi yang sudah melekat erat dengan masyarakat Sumatra Barat, karena sudah dijalankan sejak bertahun-tahun lalu.

Membersihkan diri bersama keluarga di mata air terdekat, semata-mata untuk menyambut bulan ramadan agar diri dan jiwa kita menjadi bersih kembali. Tradisi sudah dijalankan sejak abad ke-19 pada saat Indonesia masih menjadi negara jajahan Belanda.

Tradisi istimewa ini dijalankan oleh masyarakat setahun sekali, karena hanya pada saat bulan ramadan. Namun kegiatan ini terpaksa diberhentikan, karena ada beberapa hal yang membuat kegiatan ini menjadi tidak suci karena disalahgunakan oleh sebagian orang.

Dekat dengan Maksiat, Jauh dari Manfaat

Kegiatan ini dijalankan oleh keluarga yang memiliki ikatan darah, tapi ada beberapa pihak menjalankan tradisi ini sebagai ajang untuk berpacaran. Anak muda biasanya mencari sungai atau mata air yang terletak jauh dari tempat tinggalnya, agar bisa berpacaran.

Tradisi yang dulunya suci, menjadi tidak baik karena kegiatan yang dekat dengan maksiat tersebut. MUI Sumatra Barat, meminta masyarakat tidak melaksanakan kegiatan Balimau karena mendekatkan pada maksiat.

Unsur permasalahan di sini bukan karena tradisi mandinya, tetapi karena kegiatan ini bisa menjadi tempat maksiat dan tidak berkah. Makna yang dulu sudah dibangun sejak dulu oleh para masyarakat, harus rusak karena kelakuan anak muda tersebut.

Lebih baik melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat, agar lebih berkah saat menjalankan puasa. Karena kegiatan ini lebih banyak mengandung mudarat dibanding manfaat, sehingga lebih baik dihentikan mulai sekarang.

Di sisi lain juga, karena pandemi masih berlangsung untuk mandi bersama di tempat umum seperti itu juga bukanlah kegiatan yang cocok untuk dilakukan. Karena bisa meningkatkan risiko terkenanya virus covid-19.

Memang sulit untuk meninggalkan tradisi yang sudah dilakukan setiap tahunnya, apalagi untuk menyambut bulan suci ramadan. Tapi apakah tradisi tersebut akan membawa keberkahan, apabila disalahgunakan oleh pihak tertentu dan bisa mendatangkan maksiat.