Tradisi Emas di India Pengaruhi Ekonomi

Oleh Kay Johnson

MUMBAI, India (AP) – Pajak baru yang diberlakukan India terhadap impor emas tidak menghalangi langkah Mousumi Rao untuk membeli kalung emas senilai $5 ribu (sekitar Rp48 juta).

AP/Rajanish Kakade

Mousumi Rao membeli kalung itu untuk pernikahan anak perempuannya. Mengingat putrinya saat ini baru berusia 12 tahun, masih ada beberapa tahun lagi sebelum pernikahan itu berlangsung.

Tradisi di India mengharuskan pengantin wanita mengenakan perhiasan, jadi tidak terlalu dini bagi keluarga di India untuk mulai mempersiapkannya, apalagi dengan tingginya harga emas akhir-akhir ini.

“Saya mengumpulkan berbagai hal untuknya dari sekarang, sehingga saat dia dewasa dan menikah, saya sudah memiliki cukup emas untuknya,” kata Rao. “Ini sangat penting bagi kami, salah satu hal yang paling penting, memberikan emas untuk putrimu.”

Emas memiliki kaitan erat dengan budaya India selama ribuan tahun. Kini, India menjadi negara pembeli emas terbesar di dunia. Tahun lalu India mengimpor 864 ton emas, sekitar seperlima dari total penjualan emas di dunia. Nilainya mencapai 2,5 triliun rupee (sekitar Rp435 tirliun), terbesar kedua setelah impor minyaknya.

Meningkatnya permintaan terhadap koin emas, emas batangan dan perhiasan membuat perdagangan India mengalami defisit dan memperlemah nilai mata uangnya, dan menjadikan impor barang penting seperti minyak menjadi semakin mahal.

Pemerintah tidak bisa melakukan banyak hal terhadap impor minyak, karena tanpa bahan bakar roda ekonomi akan berhenti berputar. Jadi selama beberapa tahun terakhir, mereka mencoba mengurangi permintaan emas, menaikkan biaya impor tiga kali dalam setahun sampai pada posisinya saat ini, yaitu pada tingkat 6 persen.

Tetapi pajak yang lebih tinggi tersebut terbukti tidak mampu mengikis tradisi permintaan emas yang telah berlangsung cukup lama.

“Semua orang India menginginkan emas. Sekarang adalah musim pernikahan, dan saya melihat bahwa pajak tidak memengaruhi tingginya permintaan terhadap emas,” kata penjual perhiasan, Arun Kaigaonkar. “Harganya terus naik setiap tahun, meski demikian masih banyak orang yang membeli.”

Ia mengatakan bahwa bukan hanya perhiasan yang mengalami banyak permintaan tapi juga koin dan emas batangan, karena jarang ada bank di daerah pinggiran. “Di daerah pinggiran, orang-orang menabung dengan bentuk emas.”

Tahun lalu, tingkat pembelian emas di India sempat turun selama enam bulan, namun kembali melambung pada pertengahan tahun. Dan di Januari, penjualan melonjak drastis seiring dengan para penjual emas dan investor yang langsung membeli emas menjelang penerapan pajak impor 6 persen, yang diberlakukan pada akhir bulan.

“Budaya emas sangat kuat di India. Sulit diredam hanya dengan meningkatkan biaya impor,” kata Samiran Chakraborty, ekonom Standard Chartered Bank di Mumbai.

Selama peperangan yang berlangsung berabad-abad dan pergantian perbatasan kerajaan-kerajaan setempat, emas menjadi mata uang yang paling aman. Dalam beberapa legenda Hindu, Brahma, dewa yang menciptakan jagad raya, dilahirkan dari telur emas.

Di India, emas memiliki nilai spiritual dan ekonomi. Para orang tua mempelai wanita menganggap emas sebagai simbol kemakmuran. Emas juga menjadi jaminan terhadap pernikahan yang buruk, karena perhiasan adalah milik sang istri, meski banyak juga pria yang mengambilnya.

Di awal 2011, satu ons emas di pasaran berharga $1.375 (sekitar Rp13 juta). Kini harga emas satu ons mencapai $1.600 (sekitar Rp15,5 juta), namun karena jatuhnya nilai tukar rupee terhadap dolar maka nilai terus melonjak semakin tinggi, mencapi 90 ribu rupee.

Melonjaknya harga memang mengurangi permintaan, namun saat musim perayaan dan pernikahan tiba, penjualan kembali melonjak.

Beberapa pihak berharap bahwa penerapan pajak yang tinggi tersebut diturunkan kembali. Membuat skema baru yang lebih efektif untuk mengembalikan banyak emas yang telah ada di India ke pasaran.

“India bukan hanya negara pengimpor emas terbesar di dunia, India adalah penyimpan emas terbesar,” kata Albert Cheng, direktur manajemen World Gold Council, yang memperkirakan bahwa ada 18 ribu ton emas yang tersimpan di berbagai bank dan rumah-rumah di India.

Chakraborty dari Standard Chartered mengatakan bahwa emas yang tidak bergerak di India bernilai $1 triliun (sekitar Rp9.661 triliun), setengah dari PDB India.

Pemerintah baru-baru ini menghentikan perdagangan emas untuk guna menahan jumlah penjualan emas. Sebaliknya, uang tersebut diizinkan untuk menjadi deposito emas, sebagai gantinya pihak bank dapat meminjamkannya kepada tukang perhiasan, yang secara teori bisa mengurangi impor emas selama beberapa waktu.

“Sampai saat ini, baik para penjual perhiasan dan ETF memiliki andil dalam peningkatan permintaan impor emas. Kini, mungkin saatnya bagi mereka untuk menghentikan semuanya,” kata Chakraborty.

“Dalam budaya kami emas dianggap benda yang murni dan bernilai. Sejumlah emas harus dibeli,” kata Rohini yang berusia 26 tahun, fisioterapis dari Mumbai yang sedang melihat-lihat di sebuah toko emas.

Ibunya, Jaishiri, juga sependapat. “Tentu saja, tidak ada orang yang mampu membeli seperti dulu. Sebelumnya, kami biasa membeli emas kiloan,” katanya. “Tapi saat ini harganya sangat tinggi, jadi kami hanya membeli sesuai kebutuhan.”

Memuat...