Tradisi Mengisap Ganja dalam Festival Maha Shivaratri

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta - Setiap agama memiliki hari penting masing-masing. Dalam Hindu, salah satu tradisinya adalah Festival Maha Shivaratri yang jatuh setiap 11 Maret.

Festival tersebut dirayakan untuk menghormati Dewa Siwa. Prosesinya pun menjelma jadi salah satu tradisi penting dan utama dalam agama Hindu.

Sadhu atau orang suci Hindu mengambil bagian dalam prosesi keagamaan menjelang festival Hindu 'Maha Shivaratri', di Kathmandu (9/3/2021). (AFP/Prakash Mathema)
Sadhu atau orang suci Hindu mengambil bagian dalam prosesi keagamaan menjelang festival Hindu 'Maha Shivaratri', di Kathmandu (9/3/2021). (AFP/Prakash Mathema)

Festival Maha Shivaratri dilaksanakan pada akhir musim dingin dan sebelum datangnya musim semi. Maha Shivaratri dipercaya sebagai malam di mana Siwa melakukan tarian surgawi tentang penciptaan, pelestarian, dan penghancuran.

Seorang Sadhu atau orang suci Hindu menghisap ganja menjelang festival Hindu 'Maha Shivaratri', di Kathmandu (9/3/2021). Festival ini merupakan peringatan besar untuk menghalau kegelapan dan ketidaktahuan dalam kehidupan di dunia. (AFP/Prakash Mathema)
Seorang Sadhu atau orang suci Hindu menghisap ganja menjelang festival Hindu 'Maha Shivaratri', di Kathmandu (9/3/2021). Festival ini merupakan peringatan besar untuk menghalau kegelapan dan ketidaktahuan dalam kehidupan di dunia. (AFP/Prakash Mathema)

Cerita di balik Maha Shivaratri sedikit berbeda tergantung pada Purana. Purana merupakan bagian dari kesusastraan Hindu yang memuat mitologi, legenda, dan kisah-kisah zaman kuno.

Seorang Sadhu atau orang suci Hindu mengoleskan cat di wajahnya menjelang festival Hindu 'Maha Shivaratri', di dekat kuil Pashupatinath di Kathmandu (9/3/2021). Orang Suci Hindu tidak diizinkan untuk menjual atau membiarkan peziarah mengisap ganja. (AFP/Prakash Mathema)
Seorang Sadhu atau orang suci Hindu mengoleskan cat di wajahnya menjelang festival Hindu 'Maha Shivaratri', di dekat kuil Pashupatinath di Kathmandu (9/3/2021). Orang Suci Hindu tidak diizinkan untuk menjual atau membiarkan peziarah mengisap ganja. (AFP/Prakash Mathema)

Di Nepal, misalnya. Orang-orang suci Hindu bergabung dengan umat dan publik untuk melakukan prosesi penting. Yang dimaksud tak lain adalah membakar ganja dan mengisapnya.

Seorang Sadhu atau orang suci Hindu menghisap ganja menggunakan 'chillum', pipa tanah liat tradisional, menjelang festival Hindu 'Maha Shivaratri', di Kathmandu (9/3/2021). Festival ini juga menandai hari penyempurnaan pernikahan Siwa. (AFP/Prakash Mathema)
Seorang Sadhu atau orang suci Hindu menghisap ganja menggunakan 'chillum', pipa tanah liat tradisional, menjelang festival Hindu 'Maha Shivaratri', di Kathmandu (9/3/2021). Festival ini juga menandai hari penyempurnaan pernikahan Siwa. (AFP/Prakash Mathema)

Biasanya mereka berkumpul di sekitar kuil yang dipadati pengisap ganja untuk merayakan festival tersebut. Ada larangan untuk mengisap ganja, tapi mereka juga harus menghormati tradisi yang sudah ada berabad-abad.

Seorang Sadhu atau orang suci Hindu menghisap ganja menggunakan 'chillum', pipa tanah liat tradisional, menjelang festival Hindu 'Maha Shivaratri', di Kathmandu (9/3/2021). Festival ini dirayakan sebagai bentuk persembahan kepada Dewa Siwa. (AFP/Prakash Mathema)
Seorang Sadhu atau orang suci Hindu menghisap ganja menggunakan 'chillum', pipa tanah liat tradisional, menjelang festival Hindu 'Maha Shivaratri', di Kathmandu (9/3/2021). Festival ini dirayakan sebagai bentuk persembahan kepada Dewa Siwa. (AFP/Prakash Mathema)

Nepal terkenal dengan mariyuana dan narkotika lain pada era 1960-an, ketika kaum hippie sampai ke negara Himalaya. Toko-toko dan kedai teh dulu mengiklankan dan menjualnya secara legal. Namun, ganja dilarang pada pada 1976, seperti dikutip dari laman Independent.

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.