Tradisi Mubeng Beteng Kraton Yogya

Liputan6.com, Yogyakarta: Beragam cara dilakukan untuk menyambut tahun baru Islam 1433 Hijriah. Di Yogyakarta, kidung doa dilantunkan abdi dalem Kraton Yogyakarta mengawali tradisi Mubeng Beteng atau berjalan mengitari benteng Kraton. Tepat pukul 00.00 Sri Sultan Hamengku Buwono X yang diwakili adiknya Gusti Joyokusumo menyerahkan tombak pusaka kepada abdi dalem sebagai tanda tugas menjalankan tradisi mubeng beteng.

Sementara itu, di Kraton Kasunanan Solo, perayaan tahun baru Hijriah digelar dengan acara menggelar kirab mengelilingi kraton dan ruas jalan protokol sejauh tujuh kilometer dengan membawa sejumlah pusaka dan tujuh ekor kerbau Kyai Slamet.

Warga meyakini kirab pusaka dan kerbau Kyai Slamet pada malam 1 Suro memiliki nilai mistis yang tinggi. Mereka berharap, tuah pusaka yang di arak keliling akan mendatangkan berkah.

Di Lereng Gunung Merapi, ribuan warga saling berebut nasi tumpeng saat ritual sedekah gunung digelar di Boyolali, Jawa Tengah. Warga percaya, dengan memakan nasi tumpeng dari acara ritual sedekah gunung itu kehidupan mereka bisa aman dari ancaman erupsi gunung merapi.

Sementara di Sleman, warga menggelar lomba memasak nasi kebuli berhadiah kambing. Sajian nasi kebuli mengandung pengharapan dikabulkannya segala keinginan warga. Makna itu berasal dari kata kebuli yang berasal dari bahasa Arab yaitu qobuli yang berarti terkabul. (APY/Vin)