Tradisi Pencak Sumping saat Iduladha di Banyuwangi, Pemenang Sumpal Lawan dengan Kue

Merdeka.com - Merdeka.com - Dua pesilat bertarung di hadapan warga Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (10/7). Mereka bukan berkelahi, melainkan menampilkan atraksi Pencak Sumpin yang menjadi tradisi setiap Iduladha.

Pencak Sumping merupakan seni bela diri asli Bumi Blambangan yang dimainkan pendekar lintas generasi, mulai anak-anak hingga orang dewasa. Atraksi ini ditampilkan dengan iringan musik tabuh-tabuhan yang rancak.

Pendekar anak-anak hingga lanjut usia tampak lincah memperagakan gerakan dan jurus-jurus silat, baik dengan tangan kosong maupun dengan senjata, seperti pedang, tombak, celurit, dan kelewang.

Sejarah Pencak Sumping

Dalam sejarahnya, Pencak Sumping bermula dari sebuah pertarungan Buyut Ido yang merupakan pemimpin wilayah Tegal Alas, cikal bakal Dusun Mondoluko, pada masa penjajahan Belanda. Tubuhnya tersayat saat berduel dengan tentara Belanda, Buyut Ido tewas luka-luka dalam pertempuran tersebut.

Insiden pertarungan ini kemudian menjadi dasar atas berdirinya Dusun Mondoluko yang hingga kini masih mengenang jasa Buyut Ido dengan menggelar Pencak Sumping.

"Waktu itu Buyut Ido luka (luko) sampai terkoyak (modol-modol), hingga akhirnya melatari penamaan Dusun Mondoluko. Sejak itu rakyat rutin belajar silat, mulai anak-anak sampai dewasa baik laki-laki maupun perempuan. Sampai sekarang warga Mondoluko tetap melestarikan pencak silat sebagai bela diri yang dipelajari oleh warga," kata Rahayis, Ketua Adat Dusun Mondoluko, Minggu (10/7).

Sajian Kue Sumping

Rahayis mengatakan, penamaan pencak sumping diambil karena dalam gelaran atraksi bela diri, setiap sudut arena disajikan kue sumping, jajanan pisang yang dilalui tepung putih dan berselimut daun pisang. Setiap pendekar yang menang punya wewenang menyumpal mulut lawan dengan kue sumping sebagai pengakuan atas kemenangan.

"Sumping merupakan makanan tradisional yang terbuat dari pisang berbalut adonan tepung yang dikukus, di daerah lain dikenal dengan nama kue nagasari," ujarnya.

Tradisi tahunan Pencak Sumping ini digelar beriringan dengan tradisi kenduri bersih desa (Ider Bumi) warga setempat. Selamatan ini berlangsung setiap Iduladha. Warga melakukan ritual Ider Bumi dan mengumandangkan azan serta membaca istighfar (permohonan ampun kepada Allah SWT) sambil keliling desa. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel